Tuai Kecaman, AS Bangun Penjara Imigrasi di Rawa Penuh Buaya
Sabtu, 5 Juli 2025 | 14:15 WIB
Florida, Beritasatu.com — Pejabat negara bagian Florida, Amerika Serikat, menuai kritik tajam seusai membangun fasilitas penahanan imigrasi di tengah kawasan rawa Everglades yang dipenuhi buaya dan satwa liar lainnya.
Proyek yang dimulai pada 23 Juni 2025 itu terletak di Bandara Pelatihan dan Transit Dade-Collier, di jantung lahan basah Everglades, rumah bagi ratusan spesies burung, macan kumbang Florida, ular piton, dan predator seperti buaya air asin dan aligator.
Pemerintah Florida mengeklaim pembangunan ini efisien dan hemat biaya karena unsur alam sekitar berfungsi sebagai pengaman alami. Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, bahkan menjuluki fasilitas ini sebagai penjara buaya Alcatraz, mengacu pada penjara terkenal Alcatraz di California.
Proyek ini merupakan bagian dari kebijakan imigrasi yang digalakkan pemerintahan Donald Trump, termasuk deportasi massal dan pemindahan tahanan ke kamp-kamp di luar negeri seperti El Salvador dan Guantanamo Bay.
Fasilitas tersebut dibangun di sepanjang Rute 41 yang melintasi Everglades. Penjara ini dirancang tertutup dan akan menggunakan trailer serta tenda milik Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA), seperti yang biasa digunakan untuk penampungan korban bencana.
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Manajemen Darurat Florida Kevin Guthrie penjara ini mampu menampung hingga 3.000 tahanan, dan bisa diperluas menjadi 5.000 tempat tidur. Dilengkapi lebih dari 200 kamera pengawas, 28.000 kaki kawat berduri, serta lebih dari 400 petugas keamanan, fasilitas ini juga akan dijaga oleh 100 personel Garda Nasional tambahan.
Pemerintah Florida mengeklaim mereka juga telah menyiapkan rencana evakuasi untuk menghadapi bencana alam seperti tornado. Biaya operasional tahunan diperkirakan mencapai $ 450 juta atau sekitar Rp 7,3 triliun. Dana awal ditanggung oleh negara bagian Florida, yang kemudian akan mengajukan penggantian kepada FEMA dan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).
"Jika ada yang mencoba kabur, mereka akan dihadang oleh buaya," ujar Gubernur Florida Ron DeSantis.
"Tak banyak yang bisa mereka lakukan. Tempat ini benar-benar terkendali," ungkapnya.
Dalam sebuah video di platform X, Uthmeier mengatakan, pihaknya tak perlu banyak berinvestasi pada pagar. "Alam sudah menjaganya, dengan buaya dan ular piton akan menyambut siapa pun yang kabur," unggahnya.
Presiden Donald Trump mengunjungi lokasi penjara Buaya Alcatraz pada Selasa (1/7/2025), meskipun fasilitas ini belum sepenuhnya selesai dibangun. Dalam kunjungannya, Trump sempat melontarkan candaan tentang cara lari dari buaya.
"Jangan lari lurus, bergeraklah zig-zag. Peluang bertahan naik 1%," katanya sambil memeragakan gerakan tangan.
Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem, memuji fasilitas ini sebagai contoh nyata keberhasilan kolaborasi antarinstansi pemerintah dan mengajak negara bagian lain mengikuti langkah Florida.
Namun, proyek penjara buaya ini langsung memicu gelombang protes dari kelompok pembela hak asasi manusia, lingkungan, dan masyarakat adat.
"Rencana ini adalah penghinaan terhadap martabat manusia," tegas Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Maxwell Frost.
Beberapa aktivis menyebut fasilitas ini sebagai kamp konsentrasi modern karena minimnya fasilitas dasar seperti AC dan ventilasi layak.
Direktur ACLU Florida, Bacardi Jackson, menyebut kebijakan ini berakar pada ketakutan dan rasisme, dan memperingatkan agar Florida tidak menjadi tempat uji coba kebijakan ekstrem.
Kelompok lingkungan juga mengecam proyek ini karena dinilai mengancam habitat spesies langka dan meminta pemerintah menghentikan pembangunan hingga ada penilaian dampak lingkungan. Mereka bahkan menggugat FDEM dan DHS ke pengadilan untuk memblokir proyek tersebut.
Menanggapi gugatan itu, pejabat Florida berargumen bahwa undang-undang lingkungan yang digunakan oleh penggugat hanya berlaku bagi pemerintah federal, bukan negara bagian. Mereka juga menegaskan bahwa lokasi tersebut sudah aktif digunakan sebagai bandara, dengan lebih dari 28.000 penerbangan dalam enam bulan terakhir, dan dua gedung beroperasi 24 jam setiap hari.
Pejabat juga menyatakan fasilitas penahanan akan dilengkapi AC yang menyala 24 jam untuk mengurangi risiko kesehatan akibat cuaca panas dan lembap di Everglades.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




