Malanutrisi Anak Gaza Naik 2 Kali Lipat Sejak Israel Persulit Bantuan
Rabu, 16 Juli 2025 | 09:49 WIB
Deir al-Balah, Beritasatu.com — Tingkat malanutrisi anak-anak di Jalur Gaza meningkat dua kali lipat sejak Israel memperketat pembatasan masuknya makanan pada Maret 2025 lalu, demikian laporan PBB pada Selasa (15/7/2025). Sementara itu, serangan militer Israel terbaru dilaporkan telah menewaskan lebih dari 90 warga Palestina, termasuk puluhan perempuan dan anak-anak.
Kelaparan semakin parah di kalangan lebih dari 2 juta penduduk Gaza sejak Israel mencabut gencatan senjata pada Maret dan melarang masuknya seluruh bantuan makanan serta pasokan lainnya. Pemerintah Israel menyatakan langkah tersebut dimaksudkan untuk menekan Hamas agar membebaskan para sandera. Pada akhir Mei 2025, Israel sedikit melonggarkan blokade dan mengizinkan sebagian bantuan masuk.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan telah memeriksa hampir 16.000 anak di bawah usia lima tahun di klinik-kliniknya pada Juni 2025. Hasilnya, 10,2 persen anak mengalami kekurangan gizi akut. Sebagai perbandingan, pada Maret lalu, hanya 5,5 persen dari sekitar 15.000 anak yang diperiksa mengalami kondisi serupa.
UNICEF, yang melakukan pemantauan secara terpisah, juga melaporkan lonjakan signifikan dalam kasus malnutrisi. Dalam laporan pekan ini, klinik UNICEF mendokumentasikan 5.870 kasus malanutrisi anak pada Juni, peningkatan selama empat bulan berturut-turut dan lebih dari dua kali lipat dari sekitar 2.000 kasus pada Februari 2025.
Para pakar telah memperingatkan kemungkinan terjadinya kelaparan sejak blokade Israel diperketat pada Maret.
Menurut data dari COGAT, badan militer Israel yang menangani koordinasi bantuan, sejak pelonggaran blokade akhir Mei, Israel hanya mengizinkan rata-rata 69 truk bantuan masuk per hari, jauh di bawah kebutuhan ratusan truk per hari yang disebutkan PBB sebagai standar minimum untuk menopang kehidupan penduduk Gaza.
COGAT menyalahkan PBB atas keterlambatan distribusi bantuan, menyebut ribuan palet pasokan masih menumpuk di dalam Gaza karena belum diangkut oleh truk-truk PBB. Namun, PBB membantah hal tersebut dan mengatakan distribusi terhambat akibat pembatasan pergerakan oleh militer Israel serta runtuhnya hukum dan ketertiban di wilayah tersebut.
Selain itu, Israel telah memberikan izin distribusi makanan melalui kontraktor asal AS, Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Lembaga tersebut mengeklaim telah mendistribusikan makanan setara lebih dari 70 juta porsi sejak akhir Mei 2025, melalui empat pusat bantuan di wilayah Rafah dan Gaza tengah.
Namun, otoritas kesehatan Palestina melaporkan bahwa lebih dari 840 warga tewas dan lebih dari 5.600 lainnya terluka saat berusaha mencapai pusat-pusat distribusi GHF. Saksi mata menyebut pasukan Israel menembakkan peluru tajam untuk membubarkan kerumunan di jalan menuju pusat bantuan yang berada di zona kendali militer.
Militer Israel membela diri dengan menyatakan bahwa mereka hanya melepaskan tembakan peringatan kepada individu yang dianggap mendekati pasukan secara mencurigakan. GHF membantah adanya penembakan di dalam maupun sekitar pusat distribusi mereka.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




