ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Utusan AS Siapkan Rencana Damai Gaza, Fokus Bebaskan Sandera

Minggu, 3 Agustus 2025 | 09:58 WIB
HH
HH
Penulis: Harumbi Prastya Hidayahningrum | Editor: HP
Keluarga di Kota Gaza yang hidup di tenda pengungsian.
Keluarga di Kota Gaza yang hidup di tenda pengungsian. (AP/AP)

Jerusalem, Beritasatu.com - Utusan Timur Tengah Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, mengumumkan bahwa ia tengah menyusun rencana untuk mengakhiri Perang Gaza. Hal ini disampaikannya kepada keluarga sandera Israel yang ditahan Hamas pada Sabtu (2/8/2025).

Dalam rekaman pertemuan yang ditinjau Reuters, Witkoff menyebut rencana tersebut dibuat bersama pemerintah Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dengan fokus pada rekonstruksi Gaza yang “secara efektif berarti akhir dari perang”.

Namun, Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait pernyataan ini.

ADVERTISEMENT

Witkoff menyebut Hamas diklaim siap melucuti senjata, meski kelompok itu secara terbuka menegaskan tidak akan menghentikan “perlawanan bersenjata” kecuali negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kota terwujud.

Sementara itu, negosiasi gencatan senjata 60 hari yang mencakup pembebasan separuh sandera kembali berjalan buntu.

Pada Sabtu, Hamas merilis video terbaru yang menampilkan sandera Israel, Evyatar David, dalam kondisi kurus dan dipaksa menggali lubang yang ia sebut sebagai kuburannya sendiri. Keluarga sandera pun mengungkapkan kekhawatiran bahwa nyawa mereka tinggal hitungan hari.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar mengecam perlakuan terhadap para sandera yang menurutnya menjadi “penyiksaan sadis” dan menuntut dunia tidak tinggal diam.

Situasi di Gaza kian memprihatinkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut ratusan ribu warga menghadapi kelaparan, sementara puluhan orang meninggal karena kekurangan gizi dalam beberapa pekan terakhir.

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan tujuh kematian tambahan, termasuk seorang anak, pada Sabtu (2/8/2025). Israel menuding Hamas sebagai penyebab penderitaan ini, sementara pihaknya mengeklaim telah membuka jalur bantuan, termasuk penghentian pertempuran sebagian hari, pengiriman bantuan udara, dan rute konvoi darat yang dilindungi.

Namun, badan-badan PBB menilai bantuan udara tidak memadai dan mendesak Israel mempercepat distribusi bantuan darat.

Latar Belakang Perang Gaza

Perang Gaza bermula ketika Hamas menyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023, menewaskan lebih dari 1.200 orang dan menyandera 251 orang, menurut data Israel.

Sebagai balasan, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 60.000 warga Palestina, menurut pejabat kesehatan Gaza. Saat ini, 50 sandera Israel masih berada di Gaza, dan hanya 20 yang diyakini hidup.

Upaya diplomasi yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Qatar, Mesir, dan Prancis diharapkan dapat memulai kembali gencatan senjata dan membuka jalan menuju rekonstruksi Gaza dan pembebasan sandera secara penuh.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon