ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bencana Mengerikan Ancam Australia pada 2050, Ini Penyebabnya

Senin, 15 September 2025 | 16:49 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Petugas penyelamat berpatroli di perairan yang terendam banjir di rumah-rumah di Port Macquarie, sebelah utara Sydney, Australia, Kamis, 22 Mei 2025.
Petugas penyelamat berpatroli di perairan yang terendam banjir di rumah-rumah di Port Macquarie, sebelah utara Sydney, Australia, Kamis, 22 Mei 2025. (AP/AP)

Sydney, Beritasatu.com –  Naiknya permukaan laut dan banjir akibat perubahan iklim diperkirakan akan mengancam rumah serta mata pencaharian lebih dari satu juta warga Australia pada 2050. Laporan penilaian risiko iklim nasional yang dirilis Senin (15/9/2025) juga memperingatkan lonjakan kematian akibat penyakit terkait panas.

Penilaian independen tersebut menemukan bahwa sekitar 1,5 juta penduduk pesisir akan terdampak langsung oleh kenaikan air laut pada 2050. Angka ini diperkirakan meningkat hingga 3 juta orang pada 2090. Kondisi ini juga mengancam nilai properti Australia, yang diproyeksikan merugi hingga A$ 611 miliar (US$ 406 miliar) pada 2050, dan bisa membengkak menjadi A$ 770 miliar pada 2090.

Menteri Iklim Chris Bowen menegaskan perubahan iklim kini bukan lagi prediksi, melainkan realitas. "Kita sedang mengalami perubahan iklim. Ini kenyataan, dan sudah terlambat untuk menghindari dampaknya," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Laporan menyoroti ancaman signifikan terhadap komunitas di Kepulauan Selat Torres, kawasan utara Australia yang mengalami kenaikan permukaan laut lebih cepat dari rata-rata global. Selain itu, jika suhu global naik hingga 3 derajat celsius, kematian akibat panas di kota-kota besar seperti Sydney bisa melonjak lebih dari 400%.

Selain manusia, dampak perubahan iklim juga mengancam spesies unik Australia yang terpaksa bermigrasi, beradaptasi, atau menghadapi kepunahan.

Amanda McKenzie, CEO Climate Council, menyebut laporan itu sebagai mengerikan. Ia menegaskan bahwa solusi hanya bisa dicapai dengan penurunan emisi yang lebih cepat, termasuk menetapkan target iklim ambisius untuk 2035 dan menghentikan proyek baru berbasis bahan bakar fosil.

Australia, salah satu pengekspor bahan bakar fosil terbesar di dunia, selama ini dikritik karena kebijakan iklimnya dianggap lamban. Meski pemerintahan saat ini meningkatkan energi terbarukan, mereka tetap menyetujui perpanjangan proyek gas besar seperti North West Shelf, yang menuai kecaman kelompok lingkungan dan masyarakat adat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon