Momen Dramatis Jadi Puncak 2 Dekade Tegang Hubungan AS-Venezuela
Rabu, 7 Januari 2026 | 15:20 WIB
Caracas, Venezuela, Beritasatu.com – Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Venezuela mencapai titik nadir setelah lebih dari dua dekade dibayangi ketegangan. Puncaknya, pada dini hari 3 Januari 2026, pasukan khusus AS meluncurkan operasi militer di Caracas untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Insiden ini menandai eskalasi serius dalam sejarah panjang perseteruan kedua negara yang berakar pada perebutan pengaruh politik dan penguasaan sumber daya minyak.
Awal Persahabatan
Sejatinya, AS dan Venezuela memiliki sejarah hubungan yang panjang sejak 1835. Pada awal abad ke-20, hubungan keduanya sangat harmonis ketika pemimpin Juan Vicente Gomez memberikan hak eksploitasi minyak besar-besaran kepada perusahaan Amerika. Venezuela pun menjadi pemasok minyak utama bagi Washington, bahkan menjadi satu-satunya negara Amerika Selatan yang mengoperasikan jet tempur F-16 selama dua dekade.
Perubahan drastis terjadi saat Hugo Chavez naik takhta pada 1998. Membawa semangat anti-elite dan anti-Amerika, Chavez menasionalisasi aset perusahaan migas raksasa seperti Exxon dan Conoco. Hubungan kian memburuk saat Venezuela merapat ke Rusia, China, dan Iran.
Ketegangan makin nyata pada 2006 ketika Presiden AS George W Bush melarang penjualan senjata ke Venezuela. Sejak 2010, kedua negara resmi tidak lagi menempatkan duta besar di ibu kota masing-masing.
Sanksi Ekonomi dan Krisis Kemanusiaan
Pascawafatnya Chavez pada 2013, Nicolas Maduro melanjutkan kebijakan pendahulunya. AS merespons dengan berbagai pembatasan visa dan sanksi ekonomi atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Sanksi ini menjerumuskan ekonomi Venezuela ke dalam hiperinflasi (mencapai 345% pada satu titik) dan memicu gelombang migrasi besar-besaran.
Pada masa jabatan pertamanya, Donald Trump memperketat sanksi minyak dan memblokir akses Venezuela ke pasar keuangan global. Trump juga mulai menggaungkan "opsi militer" terhadap Caracas.
Ketegangan memuncak saat Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025. Washington menaikkan hadiah informasi penangkapan Maduro dari US$ 15 juta menjadi US$ 50 juta atas tuduhan "terorisme narkoba" dan keterlibatan dalam Kartel Matahari (Cartel of the Suns).
Maduro secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Ia menyebut tudingan AS sebagai "kebohongan" untuk membenarkan intervensi militer demi mencuri sumber daya alam Venezuela.
"Itu bohong besar, cuma akal-akalan mereka buat menguasai kekayaan kita," ujar Maduro dalam salah satu pidatonya yang dikutip media lokal.
Setelah penangkapan dramatis di Caracas, Maduro dan istrinya hadir di sidang perdana di pengadilan New York pada 5 Januari 2026. Di hadapan Hakim Hellerstein, mereka dengan tegas membantah semua tuduhan.
"Kami tidak bersalah, ini adalah pengadilan politik," tegas Maduro di ruang sidang.
Hakim menjadwalkan sidang lanjutan pada 17 Maret 2026. Kasus ini diprediksi akan menjadi pertempuran hukum panjang yang menentukan masa depan geopolitik di kawasan Amerika Latin.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




