Trump Sedang Timbang-timbang Opsi Serangan Terbatas ke Iran
Sabtu, 21 Februari 2026 | 11:16 WIB
Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan kemungkinan melancarkan serangan militer terbatas terhadap Iran jika kedua negara gagal mencapai kesepakatan terkait program nuklir Teheran.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Jumat (20/2/2026) waktu AS, seorang reporter menanyakan apakah Trump mempertimbangkan opsi serangan militer jika Iran tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat.
"Yang bisa saya katakan saat ini adalah saya sedang mempertimbangkan kemungkinan itu," ujar Trump tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Kantor berita Reuters, mengutip dua pejabat AS, melaporkan bahwa rencana militer terhadap Iran telah disiapkan pada tingkat tinggi. Opsi yang dibahas mencakup serangan selektif terhadap individu tertentu hingga kemungkinan perubahan rezim di Teheran.
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebutkan Trump mempertimbangkan gelombang serangan awal berskala terbatas guna menekan Iran agar menyetujui kesepakatan nuklir baru. Serangan tersebut disebut dirancang untuk memberi tekanan tanpa memicu respons balasan besar-besaran.
Jika disetujui, serangan pertama dapat terjadi dalam beberapa hari dan menargetkan fasilitas militer atau lembaga pemerintah tertentu. Apabila Iran tetap melanjutkan pengayaan uranium, kampanye militer berpotensi diperluas.
Pada Kamis (19/2/2026), Trump memberikan tenggat waktu 10–15 hari kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan atau menghadapi konsekuensi serius.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menolak menjelaskan detail opsi yang sedang dipertimbangkan. "Hanya Presiden Trump yang tahu apa yang ingin dia lakukan," katanya.
Pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran kembali digelar pada 6 Februari 2026 setelah sempat terhenti akibat meningkatnya ketegangan regional, termasuk kampanye udara Israel terhadap Iran pada 2025.
Amerika Serikat mendorong perluasan negosiasi agar mencakup isu non-nuklir seperti program rudal balistik Iran. Sebaliknya, Teheran bersedia membahas pembatasan program nuklir dengan syarat pencabutan sanksi ekonomi, serta menolak penghentian total pengayaan uranium.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada Jumat menyatakan bahwa AS tidak menuntut pengayaan uranium nol. Ia berharap draf proposal Iran dapat diselesaikan dalam dua hingga tiga hari untuk kemudian dikirim kepada Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.
"Aksi militer akan mempersulit upaya untuk mencapai kesepakatan," ujar Araqchi.
Ketegangan ini membuat isu nuklir Iran kembali menjadi sorotan global, dengan potensi dampak luas terhadap stabilitas kawasTimur Tengah dan hubungan internasional.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




