ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

AS-Israel dan Iran Adu Argumen dalam Sidang Darurat DK PBB

Minggu, 1 Maret 2026 | 10:23 WIB
HH
HH
Penulis: Harumbi Prastya Hidayahningrum | Editor: HP
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani saat berbicara dalam Sidang Darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Minggu 1 Maret 2026.
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani saat berbicara dalam Sidang Darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Minggu 1 Maret 2026. (AP News)

New York, Beritasatu.com - Amerika Serikat (AS) dan Israel berselisih tajam dengan Iran dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Minggu (1/3/2026). Sidang tersebut digelar menyusul eskalasi serangan udara yang memicu ketegangan serius di kawasan Timur Tengah.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mendesak seluruh pihak segera menghentikan serangan dan kembali ke meja perundingan guna mencegah konflik meluas.

Guterres mengatakan kepada dewan bahwa segala upaya harus dilakukan untuk mencegah eskalasi.

ADVERTISEMENT

“Alternatifnya, adalah potensi konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas regional," ujarnya, dikutip dari AP News.

Ia menegaskan serangan udara AS dan Israel melanggar hukum internasional, termasuk Piagam PBB. Namun, Guterres juga mengutuk serangan balasan Iran karena melanggar kedaulatan dan integritas teritorial Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz menegaskan tindakan militer Washington sah secara hukum internasional.

“Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” katanya kepada dewan.

“Prinsip itu bukan masalah politik. Itu masalah keamanan global. Dan untuk tujuan itu, Amerika Serikat mengambil tindakan yang sah," tambahnya.

Senada, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon membela serangan udara tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman eksistensial.

“Kami menghentikan ekstremisme sebelum menjadi tak terbendung,” katanya.

“Kami akan memastikan bahwa tidak ada rezim radikal yang dipersenjatai dengan senjata nuklir dan rudal balistik yang dapat mengancam rakyat kami atau seluruh dunia," lanjutnya.

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani menuding serangan udara tersebut menewaskan dan melukai ratusan warga sipil Iran. Ia menyebutnya sebagai kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Masalah yang dihadapi dewan ini sangat jelas, apakah negara anggota mana pun, termasuk anggota tetap dewan ini, dapat, melalui penggunaan kekuatan, paksaan, atau agresi, menentukan masa depan politik atau sistem negara lain atau memaksakan kendali atas urusannya,” kata Iravani.

Dalam pidatonya, Iravani tidak menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan. Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian tersebut. Situasi ini meningkatkan risiko konflik berkepanjangan di kawasan.

Menjelang akhir sidang, duta besar AS dan Iran terlibat pertukaran pernyataan yang jarang terjadi di forum resmi DK PBB.

“Saya menyarankan kepada perwakilan Amerika Serikat untuk bersikap sopan. Itu akan lebih baik bagi Anda dan negara yang Anda wakili,” kata Iravani.

Waltz segera menjawab, “Perwakilan ini duduk di sini, di badan ini, mewakili rezim yang telah membunuh puluhan ribu rakyatnya sendiri, dan memenjarakan lebih banyak lagi, hanya karena menginginkan kebebasan dari tirani Anda sepenuhnya.”

Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia mengutuk serangan udara AS-Israel dan mendesak penghentian segera.

“Kami menuntut agar Amerika Serikat dan Israel segera menghentikan tindakan agresif mereka,” katanya.

Sementara itu, Duta Besar China untuk PBB, Fu Cong menyatakan keprihatinan atas peningkatan ketegangan regional yang tiba-tiba dan mendukung upaya diplomasi.

Pengamat tetap Liga Arab, Maged Abdelaziz menuding Israel bersikap munafik karena menolak inspeksi terhadap fasilitas nuklirnya sendiri oleh badan pengawas PBB.

Pertemuan darurat DK PBB tersebut dipanggil oleh Bahrain, Prancis, Rusia, China, dan Kolombia. Sidang berlangsung pada hari terakhir kepresidenan Inggris di Dewan Keamanan, sehari sebelum Amerika Serikat mengambil alih kepemimpinan bergilir untuk Maret 2026.

Pada saat bersamaan, Inggris, Prancis, dan Jerman menyerukan dimulainya kembali pembicaraan nuklir antara AS dan Iran. Ketiga negara Eropa itu sebelumnya menjadi bagian dari kesepakatan nuklir Iran 2015 yang ditinggalkan AS pada 2018.

Eskalasi konflik AS-Israel dan Iran kini menjadi perhatian global karena berpotensi memicu perang regional yang lebih luas dan mengguncang stabilitas Timur Tengah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Delegasi Israel Sibuk Main HP Saat RI Kecam Gugurnya 3 TNI di Lebanon

Delegasi Israel Sibuk Main HP Saat RI Kecam Gugurnya 3 TNI di Lebanon

INTERNASIONAL
Sekjen PBB Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran di Dewan Keamanan

Sekjen PBB Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran di Dewan Keamanan

INTERNASIONAL
Dilema Kedaulatan Negara pada Kasus Intervensi AS ke Venezuela

Dilema Kedaulatan Negara pada Kasus Intervensi AS ke Venezuela

INTERNASIONAL
Pasukan Internasional di Gaza Siap Bertugas Januari 2026

Pasukan Internasional di Gaza Siap Bertugas Januari 2026

INTERNASIONAL
China Serukan Gencatan Senjata Permanen dan Solusi 2 Negara di Gaza

China Serukan Gencatan Senjata Permanen dan Solusi 2 Negara di Gaza

INTERNASIONAL
Inggris, Prancis, Jerman Dukung Tahap Lanjutan Rencana Damai Gaza

Inggris, Prancis, Jerman Dukung Tahap Lanjutan Rencana Damai Gaza

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT