Sejarah Perang Teluk dan Bangkitnya Pengaruh Iran di Irak
Selasa, 3 Maret 2026 | 11:42 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Perang Teluk menjadi salah satu konflik paling menentukan dalam sejarah geopolitik modern Timur Tengah.
Konflik yang berlangsung pada 1990–1991 tersebut tidak hanya mempertemukan Irak dengan koalisi internasional, tetapi juga membentuk ulang arsitektur keamanan kawasan hingga dekade berikutnya.
Meski bukan pihak tempur utama dalam operasi militer 1991, Iran memiliki posisi strategis dalam keseluruhan rangkaian peristiwa sebelum, selama, dan setelah Perang Teluk.
Latar Belakang Perang Teluk: dari Perang Iran-Irak ke Invasi Kuwait
Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun berakhir pada Agustus 1988 melalui gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun hingga pertengahan 1990, kedua negara belum mencapai perjanjian damai permanen.
Pada Juli 1990, dalam pertemuan menteri luar negeri di Jenewa, muncul harapan Irak bersedia mengakhiri sengketa dan mengembalikan wilayah yang didudukinya dari Iran.
Situasi berubah drastis ketika Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein, menuduh Kuwait melakukan eksploitasi ilegal minyak dari ladang Ar-Rumaylah di perbatasan kedua negara.
Saddam juga menuntut Kuwait dan Arab Saudi menghapus utang luar negeri Irak sebesar US$ 30 miliar. Ia menuduh kedua negara sengaja menekan harga minyak demi kepentingan Barat. Di saat yang sama, Irak mengerahkan pasukan besar ke perbatasan Kuwait.
Upaya mediasi oleh Presiden Mesir Hosni Mubarak gagal setelah perundingan dihentikan sepihak oleh Irak. Pada 2 Agustus 1990, Irak melancarkan invasi penuh ke Kuwait.
Perhitungan Saddam negara-negara Arab akan membiarkan tindakan tersebut tanpa campur tangan eksternal terbukti keliru. Mayoritas anggota Liga Arab mengecam agresi tersebut, sementara pemerintah Kuwait yang mengasingkan diri bersama Arab Saudi meminta bantuan Amerika Serikat dan sekutu Barat.
Menariknya, di tengah krisis, Irak justru bergerak cepat berdamai dengan Iran. Pada Agustus 1990, Baghdad menyatakan kesediaan menerima syarat penyelesaian Perang Iran-Irak, termasuk penarikan pasukan dari wilayah Iran dan penyelesaian sengketa jalur air Shaá¹á¹ al-Ê¿Arab.
Langkah ini bertujuan membebaskan sumber daya militer Irak untuk menghadapi tekanan internasional akibat invasi Kuwait.
Respons Internasional dan Dimulainya Perang Teluk
Dewan Keamanan PBB segera mengeluarkan resolusi yang menuntut Irak mundur dari Kuwait serta menjatuhkan sanksi ekonomi. Pada 29 November 1990, resolusi lanjutan mengizinkan penggunaan segala cara yang diperlukan jika Irak tidak menarik pasukannya sebelum 15 Januari 1991.
Amerika Serikat memimpin pembentukan koalisi internasional yang terdiri dari 34 negara, termasuk Inggris, Prancis, Mesir, Arab Saudi, dan Suriah. Sekitar 750.000 personel dikerahkan, lebih dari setengahnya berasal dari Amerika Serikat. Operasi pertahanan awal di Arab Saudi diberi nama Operation Desert Shield.
Ketika tenggat waktu PBB berakhir tanpa kepatuhan Irak, operasi ofensif dimulai pada 17 Januari 1991 dengan nama Operation Desert Storm. Serangan udara besar-besaran menargetkan sistem pertahanan udara, fasilitas komunikasi, instalasi militer, kilang minyak, serta infrastruktur strategis Irak.
Keunggulan teknologi militer koalisi, termasuk pesawat siluman, rudal jelajah, dan bom berpemandu presisi, membuat angkatan udara Irak lumpuh dalam waktu singkat.
Operasi Darat dan Pembebasan Kuwait
Setelah lebih dari satu bulan serangan udara intensif, operasi darat yang dikenal sebagai Operation Desert Sabre diluncurkan pada 24 Februari 1991. Strategi koalisi melibatkan manuver pengepungan besar melalui gurun Irak guna memotong jalur mundur pasukan Irak.
Dalam waktu sekitar 100 jam, pasukan koalisi berhasil menghancurkan sebagian besar divisi Irak di Kuwait dan Irak selatan. Garda Republik Irak yang mencoba bertahan di sekitar Basra akhirnya dipukul mundur.
Pada 28 Februari 1991, Presiden Amerika Serikat saat itu, George HW Bush, mengumumkan gencatan senjata yang menandai berakhirnya fase utama Perang Teluk.
Secara militer, kemenangan koalisi sangat menentukan. Puluhan divisi Irak dinetralisasi, ribuan tank dan kendaraan lapis baja dihancurkan atau ditangkap. Korban di pihak koalisi relatif kecil dibandingkan dengan kerugian besar di pihak Irak.
Posisi dan Peran Iran dalam Dinamika Perang Teluk
Meski tidak terlibat langsung dalam operasi militer 1991, Iran memainkan peran penting dalam konteks strategis Perang Teluk. Perdamaian mendadak antara Iran dan Irak menjelang konflik memungkinkan Baghdad memusatkan kekuatan militernya di Kuwait.
Pada saat yang sama, Iran menerima ratusan pesawat tempur Irak yang diterbangkan ke wilayahnya untuk menghindari kehancuran akibat serangan koalisi. Pada era pascaperang, dinamika keamanan kawasan Teluk terus melibatkan Iran.
Ketegangan antara Iran dan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk meningkat dalam berbagai periode, termasuk serangan rudal dan drone terhadap infrastruktur sipil dan energi di kawasan tersebut.
Negara-negara Teluk mulai meninjau ulang strategi keamanan mereka, terutama terkait keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka dan risiko menjadi sasaran dalam konfrontasi dengan Iran.
Arab Saudi memandang melemahnya Irak pasca Perang Teluk sebagai peluang memperkuat pengaruh regionalnya, sementara Iran tetap menjadi faktor penyeimbang sekaligus pesaing utama dalam perebutan dominasi kawasan.
Selama pendudukan Kuwait, pasukan Irak melakukan penjarahan sistematis, pembunuhan di luar proses hukum, serta penahanan ribuan warga sipil. Ketika mundur dari Kuwait, pasukan Irak membakar lebih dari 700 sumur minyak, memicu bencana lingkungan besar.
Asap tebal menyelimuti kawasan Teluk, menurunkan suhu regional dan menyebarkan polusi hingga ratusan kilometer. Konflik ini juga melahirkan fenomena yang dikenal sebagai Gulf War syndrome, yaitu kumpulan gejala kesehatan yang dilaporkan oleh ratusan ribu veteran perang.
Penelitian kemudian mengaitkannya dengan paparan zat kimia beracun, termasuk senyawa antikolinesterase.
Relevansi Perang Teluk bagi Timur Tengah Saat Ini
Lebih dari tiga dekade setelah berakhir, Perang Teluk masih membentuk lanskap politik dan keamanan Timur Tengah. Intervensi militer internasional di bawah kepemimpinan George HW Bush memperkuat kehadiran militer Amerika Serikat di Kawasan Teluk sebagai bagian permanen dari arsitektur keamanan regional.
Keberadaan ini tidak hanya memengaruhi stabilitas kawasan, tetapi juga memicu dinamika politik baru, termasuk meningkatnya sentimen anti-Barat di sebagian kelompok masyarakat.
Melemahnya rezim Saddam Hussein akibat dampak perang dan sanksi internasional membuka ruang strategis bagi Iran untuk memperluas pengaruhnya di Irak dan sekitarnya.
Sejak saat itu, Iran tampil sebagai aktor kunci dalam politik Irak serta peta kekuatan regional, terutama melalui hubungan dengan kelompok-kelompok Syiah.
Warisan kebijakan zona larangan terbang, sanksi ekonomi, serta peran aktif PBB dalam pengawasan senjata Irak membentuk preseden internasional dalam penanganan konflik bersenjata dan isu senjata pemusnah massal.
Model intervensi multilateral pada Perang Teluk turut memengaruhi pendekatan global terhadap krisis-kritis berikutnya di kawasan, termasuk konflik Suriah dan ketegangan seputar program nuklir Iran.
Dari perspektif geopolitik yang lebih luas, Perang Teluk mempertegas rivalitas antara Iran dan negara-negara Arab Teluk. Ketegangan terkait jalur energi, keamanan Selat Hormuz, serta konflik proksi di berbagai negara Timur Tengah, termasuk dinamika konflik Iran dan Israel saat ini, tidak dapat dilepaskan dari perubahan keseimbangan kekuatan pasca-1991.
Perang Teluk bukan sekadar operasi militer untuk membebaskan Kuwait dari pendudukan Irak. Konflik ini membentuk ulang arsitektur keamanan Timur Tengah dan menciptakan dinamika baru dalam hubungan antarnegara kawasan.
Iran, meskipun bukan pihak tempur utama pada 1991, tetap menjadi aktor kunci dalam konfigurasi geopolitik yang terbentuk setelah perang. Dari perdamaian strategisnya dengan Irak hingga ketegangan berkelanjutan dengan negara-negara Teluk dan Amerika Serikat, posisi Iran terus memengaruhi stabilitas kawasan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




