AS Siapkan 17.000 Pasukan ke Iran, Pakar Ingatkan Risiko Perang Darat
Selasa, 31 Maret 2026 | 08:35 WIB
Washington, Beritasatu.com – Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan rencana serangan darat ke wilayah Iran dengan mengerahkan sedikitnya 17.000 pasukan tempur. Namun, para pakar militer memperingatkan bahwa operasi ini berisiko menimbulkan banyak korban jiwa akibat tantangan logistik yang kompleks.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Washington sedang mempersiapkan rencana invasi secara diam-diam. Menurutnya, AS berpura-pura mengirim pesan negosiasi sementara di lapangan mereka mengerahkan ribuan marinir dan pasukan terjun payung ke Timur Tengah.
"Alamat hidup mereka tidak akan tenang. Tentara Iran sedang menunggu pasukan Amerika mendarat untuk melancarkan serangan dahsyat," tegas Ghalibaf, Minggu (29/3/2026).
Laporan dari Washington Post menyebutkan bahwa pemerintahan Donald Trump tengah mendiskusikan kemungkinan merebut Pulau Kharg. Pulau tersebut merupakan pusat ekspor minyak utama Iran yang strategis untuk membuka blokade di Selat Hormuz.
Pentagon dikabarkan telah mengembangkan rencana pendaratan ini selama beberapa minggu terakhir. Kelompok penyerang amfibi USS Tripoli dengan 2.500 Marinir dilaporkan telah tiba di perairan Timur Tengah sejak 27 Maret 2026 lalu.
Meskipun jumlah 17.000 personel ini jauh lebih kecil dibanding invasi Irak tahun 2003, pasukan ini dinilai cukup untuk menguasai wilayah daratan strategis. Fokus utamanya adalah merebut cadangan uranium Teheran atau menguasai pulau-pulau di sekitar Selat Hormuz.
Namun, Seth Jones dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengingatkan bahaya rudal antikapal hipersonik Iran. Teheran diprediksi akan menggunakan drone dan perahu cepat untuk membombardir kapal perang AS di perairan yang sempit.
"Saya akan terkejut jika operasi ini dapat dilakukan tanpa korban jiwa. Tentara Amerika bisa menjadi sasaran empuk saat memusatkan pasukan di satu titik," ungkap Mark Montgomery, peneliti senior di FDD Washington.
Selain ancaman militer, AS menghadapi tantangan besar dalam mengamankan material nuklir Iran yang terkubur di bawah reruntuhan. Operasi ini membutuhkan unit khusus dan waktu yang tidak sebentar, sehingga meningkatkan risiko bagi para prajurit di lapangan.
Gedung Putih sendiri menegaskan bahwa Presiden Trump selalu memiliki opsi militer sebagai daya tawar diplomasi. Hingga saat ini, AS masih menekan Iran untuk membongkar fasilitas nuklirnya dan membuka kembali jalur pelayaran strategis dunia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




