Iran Tutup Selat Hormuz Lagi, Trump: Kami Tak Bisa Diperas
Sabtu, 18 April 2026 | 22:13 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan tegas terkait perkembangan situasi di Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026). Trump menyatakan bahwa meskipun komunikasi diplomatik dengan Iran tengah berlangsung, Amerika Serikat tidak akan membiarkan dirinya ditekan oleh ancaman penutupan jalur maritim paling vital di dunia tersebut.
"Pembicaraan yang sangat baik sedang berlangsung. Kami sedang berkomunikasi dengan mereka," ujar Trump kepada wartawan.
Meski mengakui adanya dialog, ia menolak keras upaya Teheran yang dinilainya mencoba menekan posisi AS melalui kendali di Selat Hormuz. Trump menekankan bahwa strategi "pemerasan" tidak akan mempan terhadap kebijakan luar negeri pemerintahannya.
Ketegangan ini kembali memuncak setelah Iran sempat mengisyaratkan akan menutup kembali selat tersebut jika tuntutan mereka dalam kesepakatan gencatan senjata tidak dipenuhi. Trump menjanjikan bahwa informasi lebih mendalam mengenai hasil pembicaraan ini akan tersedia bagi publik pada akhir hari ini, sembari memastikan bahwa kehadiran militer dan kepentingan AS di kawasan tetap terjaga.
Sementara itu, dari pihak Teheran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengeluarkan pernyataan resmi bahwa mereka telah menerima proposal baru dari Amerika Serikat. Uniknya, proposal ini disampaikan melalui jalur mediasi Pakistan. Nama Panglima Militer Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, disebut sebagai sosok yang membawa pesan tersebut saat kunjungannya ke Teheran baru-baru ini.
"Dalam beberapa hari terakhir, dengan kehadiran Panglima Militer Pakistan di Teheran sebagai mediator, usulan baru telah diajukan oleh Amerika Serikat. Republik Islam Iran saat ini sedang meninjau usulan tersebut dan belum memberikan jawaban," tulis pernyataan resmi dewan tersebut.
Langkah ini menunjukkan bahwa jalur belakang (back-channel) diplomasi masih diupayakan untuk menghindari konflik terbuka. Sebelumnya, pembicaraan yang sempat digelar di Islamabad, Pakistan, dilaporkan berakhir buntu tanpa kesepakatan.
Iran mengeklaim bahwa kegagalan tersebut disebabkan oleh munculnya tuntutan baru dari pihak Amerika Serikat yang dianggap merugikan posisi Teheran. Kegagalan di Islamabad inilah yang kemudian memicu Pakistan untuk melakukan jemput bola dengan mengirim panglima militernya langsung ke Iran.
Pemerintah Iran juga memperingatkan bahwa mereka tidak akan berkompromi sedikit pun terkait posisi strategis mereka. Iran menegaskan bahwa setiap upaya gangguan terhadap pelayaran atau kelanjutan blokade oleh angkatan laut asing akan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang tengah berjalan di kawasan tersebut.
Sebagai penutup pernyataan, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menggarisbawahi bahwa akses bebas melalui Selat Hormuz tidak akan diberikan begitu saja. Jalur tersebut akan tetap bersifat kondisional dan berada di bawah kendali ketat pasukan Iran sampai kesepakatan perdamaian yang abadi benar-benar tercapai. Hal ini menandakan bahwa meskipun negosiasi berjalan, situasi di lapangan masih sangat fluktuatif dan penuh risiko.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




