AS Larang Iran Bawa Teroris Berkedok Staf dan Atlet Piala Dunia 2026
Jumat, 24 April 2026 | 09:52 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang tinggal menghitung bulan kini dibayangi oleh situasi geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran. Di tengah gencatan senjata yang masih rapuh setelah pecahnya perang beberapa waktu lalu, nasib tim nasional sepak bola Iran di turnamen tersebut menjadi sorotan dunia.
Namun, Washington tampaknya berusaha memisahkan antara ambisi politik dan semangat sportivitas dengan memberikan lampu hijau bagi para atlet Iran untuk bertanding. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memberikan kepastian kepada publik internasional bahwa para pemain Iran dipersilakan untuk berkompetisi.
“Tidak ada satu pun pernyataan dari AS yang memberi tahu mereka bahwa mereka tidak boleh datang,” ujar Marco Rubio, Jumat (24/4/2026) dikutip The Athletic.
Pernyataan ini sekaligus menepis rumor bahwa AS akan menggunakan otoritasnya sebagai tuan rumah untuk memblokir keikutsertaan Iran secara sepihak. Senada dengan menterinya, Presiden AS Donald Trump juga memberikan jaminan serupa dari Gedung Putih. Trump menyatakan bahwa pemerintahannya "tidak ingin memengaruhi para atlet" dalam upaya menjaga integritas turnamen yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tersebut. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa Amerika Serikat tetap menghormati aturan FIFA, meskipun hubungan bilateral kedua negara berada di titik terendah.
Namun, jaminan keamanan ini datang dengan syarat yang sangat ketat dan tidak dapat dinegosiasikan. Fokus utama kekhawatiran AS bukan terletak pada para pesepak bola, melainkan pada rombongan pendukung atau staf yang menyertai mereka. Rubio menjelaskan secara mendetail, "Masalah dengan Iran bukanlah atlet mereka. Masalahnya adalah beberapa orang lain yang ingin mereka bawa, beberapa di antaranya memiliki hubungan dengan IRGC (Korps Garda Revolusi Islam)."
Ketegasan Amerika Serikat dalam menyaring siapa saja yang masuk ke negara mereka selama turnamen ini sangatlah serius. Rubio memperingatkan Iran agar tidak mencoba menyelundupkan personel keamanan atau intelijen di balik seragam staf olahraga. Ia menambahkan dengan nada keras, "Mereka tidak bisa membawa sekelompok teroris IRGC ke negara kami dan berpura-pura bahwa mereka adalah jurnalis dan pelatih atletik."
Sebelumnya, atmosfer kompetisi sempat sedikit terusik oleh komentar Paolo Zampolli, seorang utusan Trump yang tidak memiliki koneksi resmi dengan Piala Dunia, yang mengusulkan agar Italia menggantikan Iran di turnamen tersebut. Namun, usulan tersebut tidak mendapatkan dukungan resmi. Hingga saat ini, tidak ada pengumuman dari FIFA maupun pihak penyelenggara yang menyarankan agar Iran dilarang bertanding, meskipun Italia memang gagal lolos melalui jalur kualifikasi.
Di sisi lain, pihak Iran sendiri sempat mengajukan permohonan agar pertandingan fase grup mereka dipindahkan dari Amerika Serikat ke Meksiko demi alasan keamanan. Namun, permohonan tersebut secara resmi telah ditolak. Hal ini berarti tim Iran harus bersiap secara mental untuk bermain di tanah Amerika Serikat, di tengah memori serangan militer pada 28 Februari lalu yang masih sangat segar di benak publik kedua negara.
Kini, dengan gencatan senjata yang baru berjalan selama dua minggu, komunitas sepak bola global berharap agar Piala Dunia 2026 bisa menjadi panggung perdamaian. Meskipun ribuan nyawa telah hilang akibat serangan di Lebanon dan Iran, kehadiran para atlet di turnamen ini diharapkan dapat memberikan sedikit harapan bahwa kompetisi sehat masih mungkin terjadi di tengah tumpukan ketegangan politik yang belum usai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




