ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Hebatnya Sky Map, Antidrone Ukraina yang Kini Jaga Langit Teluk

Selasa, 5 Mei 2026 | 13:26 WIB
SF
TE
Penulis: Sesilia Ayu Febriani | Editor: TCE
Sistem antidrone Sky Map buatan Ukraina.
Sistem antidrone Sky Map buatan Ukraina. (Dok US Army/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Peran Sky Map semakin disorot di tengah meningkatnya penggunaan drone murah dalam konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak serangan ke Teheran pada akhir Februari lalu.

Drone produksi massal dengan biaya rendah kini menjadi senjata utama dalam peperangan modern. Iran memanfaatkannya untuk menyerang fasilitas energi, pangkalan udara, dan berbagai target strategis di Kawasan Teluk serta Israel.

Sebagai balasan, AS dan Israel menggunakan rudal pencegat berbiaya jauh lebih mahal. Perbedaan biaya yang signifikan ini mendorong negara-negara Teluk bersama mitra AS mencari solusi yang lebih efisien.

Salah satu teknologi yang kini digunakan adalah sistem antidrone buatan Ukraina, Sky Map yang telah teruji dalam menghadapi serangan drone Rusia.

ADVERTISEMENT

Ukraina Tawarkan Teknologi Antidrone ke Negara Teluk

Dilansir Al Jazeera, pada akhir Maret lalu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengunjungi Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Dalam kunjungan tersebut, ia menawarkan keahlian Ukraina dalam menghadapi serangan drone.

Hasilnya, tercapai perjanjian kerja sama pertahanan berdurasi 10 tahun dengan ketiga negara tersebut. Zelenskyy kemudian mengonfirmasi pasukan Ukraina turut terlibat dalam operasi aktif menggunakan drone pencegat buatan dalam negeri.

Sistem ini disebut berhasil menjatuhkan drone Shahed milik Iran di beberapa wilayah Teluk. Selain itu, militer AS juga telah menggelar sistem Sky Map di Pangkalan Udara Pangeran Sultan, Arab Saudi.

Personel Ukraina bahkan diterbangkan ke lokasi untuk melatih militer AS dalam mengoperasikan platform tersebut.

Drone Shahed Iran dan Cara Kerjanya

Salah satu ancaman utama yang dihadapi adalah drone Shahed-136, yang mulai dikenal luas sejak digunakan Rusia dalam perang di Ukraina pada 2022. Drone ini memiliki desain segitiga dengan panjang sekitar 3,5 meter dan lebar sayap 2,5 meter.

Keunggulan utamanya terletak pada biaya produksi yang rendah, yakni sekitar US$ 20.000 hingga US$ 50.000 per unit. Sebagai perbandingan, satu rudal pencegat Patriot milik AS bisa mencapai sekitar US$ 4 juta per unit.

Meski suaranya cukup bising seperti mesin pemotong rumput karena menggunakan mesin piston sederhana, drone ini tetap sulit dideteksi. Hal ini disebabkan oleh ketinggian terbang yang rendah serta pantulan radar yang kecil.

Drone Shahed dipandu menggunakan GPS dan telah diprogram dengan koordinat target sebelum diluncurkan. Versi terbaru bahkan dilengkapi teknologi antijamming untuk menghindari gangguan sinyal.

Desainnya yang sederhana membuat drone ini mudah direplikasi. Rusia mengadopsinya dalam bentuk Geran-2, sementara AS mengembangkan versi serupa bernama low-cost uncrewed combat attack system (LUCAS).

Apa Itu Drone Pencegat?

Sebagai respons terhadap ancaman tersebut, dikembangkan drone pencegat yang dirancang untuk mengejar dan menghancurkan drone musuh sebelum mencapai target.

Berbeda dengan drone serang satu arah, drone pencegat dapat kembali ke pangkalan jika tidak menemukan target. Biayanya pun jauh lebih murah, berkisar antara US$ 1.000 hingga US$ 3.000 per unit.

Beberapa jenis drone pencegat yang digunakan, antara lain:

  • The Sting: Drone quadcopter Ukraina berukuran 30–45 cm dengan kecepatan hingga 342 km/jam dan ketinggian operasi 3.000 meter, dilengkapi kamera termal.
  • P1-Sun: Drone hasil cetak 3D dengan kecepatan hingga 300 km/jam.
  • ODIN Win Hit: Drone berbentuk peluru dengan kecepatan 300 km/jam dan jangkauan 5 km selama 7–10 menit.
  • Octopus 100: Diproduksi massal di Inggris, mampu terbang di atas 300 km/jam hingga ketinggian 4,5 km.
  • Bagnet: Drone cepat dengan kecepatan 250 km/jam untuk menghantam drone pengintai.
  • Merops: Drone berbasis kecerdasan buatan dari AS yang tahan gangguan GPS, dengan biaya sekitar US$ 15.000.
  • VB140 Flamingo: Memiliki jangkauan hingga 50 km dan ketinggian operasi 4,5 km.

Cara Kerja Sky Map dalam Menangkal Drone

Sky Map adalah platform komando dan kendali berbasis perangkat lunak yang dikembangkan Ukraina untuk mendeteksi dan merespons serangan drone secara cepat.

Sistem ini dibuat oleh Sky Fortress yang berdiri pada 2022 dan didanai militer Ukraina. Sky Map bekerja dengan menggabungkan berbagai teknologi lebih dari 10.000 sensor akustik (mikrofon sensitif) yang mendeteksi suara drone, sistem radar, dan kecerdasan buatan (AI).

Sensor akustik tersebar di berbagai wilayah untuk menangkap suara khas mesin drone. Data tersebut kemudian diproses oleh sistem AI untuk mengidentifikasi ancaman secara cepat. Setelah target terdeteksi, sistem akan memandu drone pencegat atau sistem pertahanan udara untuk melakukan intersepsi.

Drone pencegat dioperasikan oleh pilot terlatih yang memantau kamera secara langsung melalui layar atau kacamata first-person view (FPV). Namun, teknologi ini terus berkembang menuju sistem yang lebih otonom. Drone generasi terbaru mampu melakukan manuver otomatis, melacak target bergerak, dan tetap stabil meski sinyal GPS terganggu.

Menurut Dewan Pertahanan Ukraina, biaya menjatuhkan satu drone Shahed menggunakan drone pencegat bisa 25 kali lebih murah dibandingkan menggunakan rudal pertahanan udara Barat. Pentagon baru-baru ini juga mengumumkan investasi sebesar US$ 350 juta untuk memperkuat sistem antidrone, termasuk penggunaan sensor, kamera, dan drone pencegat.

Namun, sistem pertahanan udara konvensional milik AS masih menghadapi tantangan besar dalam menghadapi serangan drone satu arah dalam jumlah besar. Drone dengan jumlah banyak dan pergerakan cepat sering kali sulit dideteksi.

Selain itu, penggunaan rudal mahal untuk menghadapi drone murah dinilai tidak efisien secara biaya. Para analis juga menekankan meskipun efektif melawan drone, sistem seperti Sky Map tidak dirancang untuk mencegat rudal balistik.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon