Soekarno Dinilai Layak Disebut Sebagai Tokoh Pembaruan Islam
Kamis, 15 April 2021 | 22:53 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Proklamator sekaligus Presiden pertama Soekarno layak disebut sebagai tokoh pembaruan Islam. Di setiap masa, dibutuhkan pengertian-pengertian tentang Islam yang baru dan berbeda dari sebelumnya. Inilah yang dimaksud dengan "memudakan" pengertian Islam oleh Soekarno.
"Soekarno bukan hanya pantas disebut sebagai pemikir Islam, tapi juga sebagai seorang tokoh pembaruan Islam yang memiliki peran penting bagi kaum muslim dan kemanusiaan di Indonesia di abad ke-20," kata Direktur Eksektif Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Iqbal Hasanuddin saat menjadi narasumber dalam Tadarus Ramadan bertema "Soekarno dan Pemikiran Islam" yang digelar Generasi Islam Milenial (Genial) Indonesia secara daring, Kamis (15/4/2021).
Sejumlah tulisan Soekarno yang kemudian diterbitkan dalam buku "Di Bawah Bendera Revolusi", menjadikan Islam sebagai topik pembahasan. Dalam ulasannya, baik sebagai nilai-nilai normatif maupun manifestasinya di dalam sejarah, Islam dipikirkan oleh Soekarno secara terbuka, dialogis, kritis sekaligus konstruktif.
Iqbal menjelaskan sebagai seorang anak yang lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Muslim-Jawa dan terlibat aktif dalam gerakan Sarekat Islam, Soekarno memiliki ketertarikan pada Islam dan pemikiran keislaman. Berkat jaringan yang dimiliki Tjokroaminoto sebagai ketua Central Sarekat Islam, Soekarno bisa berkenalan dengan KH Ahmad Dahlan dan mengikuti pengajian-pengajiannya di Surabaya.
"Lewat jaringan yang sama pula, Soekarno bersahabat dengan Kiai Mas Mansur. Berkat kedekatan dan kesamaan pandangan dengan tokoh-tokoh penting Muhammadiyah itu pula, Soekarno belakangan memutuskan untuk menjadi anggota Muhammadiyah saat menjalani masa hukuman oleh pemerintah Hindia Belanda di Bengkulu (1938-1942)," kata Iqbal.
Selain itu, Iqbal menuturkan, Soekarno banyak membaca buku-buku tentang perkembangan Islam di dunia modern melalui literasi berbahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Eropa lainnya. Sementara buku-buku tentang Islam dan pemikiran Islam yang menjadi referensi utama Soekarno adalah karya para pemikir dunia Islam. Mulai dari Sayyid Amir Ali, Farid Wajdi, Jamaluddin al-Afghani, Mohammad Abduh, Ali Abd al Raziq, Qasim Amin, hingga Halide Edib Hanoum, dan lain-lain.
"Jelas bahwa Soekarno memiliki minat yang sangat besar pada tema pembaruan modern dalam Islam, Dalam konteks itu, Soekarno membuat beberapa tulisan tentang pemikiran Islam, khususnya yang terkait dengan pembaruan Islam di antaranya adalah 'Surat-surat Islam dari Ende' yang merupakan dokumentasi dari dialog antara Soekarno di Ende dan Ahmad Hassan dari Persatuan Islam di Bandung," ungkap Iqbal.
Iqbal menilai Soekarno merupakan seorang pemikir yang punya perhatian terhadap persoalan pembaruan modern dalam Islam. Apabila dilihat segi kualitasnya, tulisan-tulisan Soekarno tentang pemikiran Islam tampak memiliki bobot yang patut untuk diperhitungkan sebagai sebuah model "interpretasi untuk aksi". Hal itu terutama terletak pada upaya Soekarno dalam melakukan kontekstualisasi doktrin Islam dalam realitas keindonesiaan dan kemodernan.
"Sebagai contoh, kita bisa melihat artikel Soekarno berjudul 'Memudakan Pengertian Islam'. Di dalamnya, Soekarno menyampaikan pandangan-pandangan yang sangat asli tentang reinterpretasi pemahaman keagamaan dalam Islam. Apa yang ditulis oleh Soekarno itu senada dengan pandangan-pandangan Muhammad Iqbal dari Pakistan yang dituliskan dalam buku 'The Reconstruction of Religious Thought in Islam'," kata Iqbal.
Dalam pandangan Soekarno, masih kata Iqbal, Islam itu terdiri dari dua hal, yaitu rohnya dan berbagi manifestasinya dalam sejarah. Soekarno membuat metafora "api Islam" untuk menyebut dimensi rohani yang bersifat universal atau shalih li kulli zaman wa makan. Namun, sebagai manifestasi, Islam terikat oleh ruang dan waktu tertentu.
Bagi Soekarno, katup penghubung antara "api Islam" yang universal dan manifestasinya dalam ruang dan waktu tertentu adalah pengertian-pengertian kaum muslim tentang Islam.
"Di setiap waktu dan tempat, kaum muslim membuat pengertian-pengertian tertentu terhadap Islam universal. Melalui pengertian-pengertian tersebut, universalitas Islam berjumpa dengan partikularitas tatanan masyarakat tertentu. Pengertian-pengertian yang tepat akan membuat Islam memiliki relevansi yang tinggi bagi kaum muslim dan manusia pada umumnya di zaman tersebut," ucap Iqbal.
Iqbal menuturkan, Soekarno berpandangan karena realitas sosial senantiasa berubah setiap saat, pengertian-pengertian tentang Islam harus selalu diperbaharui. Cara Islam dipahami dan dijalankan pada abad ke-7 di Jazirah Arab, tentu berbeda dari cara Islam dipahami dan dijalankan pada abad ke-20 di Indonesia.
Sementara itu, Dosen Sastra Arab Universitas Padjajaran (Unpad) yang juga alumnus Timur Tengah, Uus Rustiman, ikut mengafirmasi pernyataan Iqbal. Misalnya di Mesir ada buku terbitan tahun 1959 berjudul "Al-‘Audah ilâ Iktisyâf Tsauratinâ". Buku bersampul wajah Bung Karno itu merupakan kajian atas wacana yang bersumber dari pidato Soekarno dalam peringatan 14 tahun kemerdekaan Indonesia.
"Bung Karno memang bukan hanya pemimpin dan pemikir bagi Indonesia, melainkan juga bagi negara-negara di Timur Tengah. Bayangkan, Gamal Abdul Naser saja yang disebut sebagai pemimpin dunia Arab, menganggap guru pada Bung Karno. Bung Karno sangat berpengaruh bagi kemerdekaan negara-negara di Timur Tengah," kata Uus.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




