ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Lebih dari 210 Tewas Akibat Kekerasan di Etiopia Barat

Sabtu, 28 Agustus 2021 | 07:05 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Foto dokumentasi pada 9 Desember 2020 ini memperlihatkan seorang anggota Pasukan Khusus Afar berdiri di depan puing-puing satu rumah di pinggiran desa Bisober, Wilayah Tigray, Etiopia.
Foto dokumentasi pada 9 Desember 2020 ini memperlihatkan seorang anggota Pasukan Khusus Afar berdiri di depan puing-puing satu rumah di pinggiran desa Bisober, Wilayah Tigray, Etiopia. (AFP/Dokumentasi)

Addis Ababa, Beritasatu.com- Lebih dari 210 orang tewas dalam beberapa hari kekerasan etnis di wilayah Oromia yang tegang di Etiopia pekan lalu. Seperti dilaporkan Al Jazeera, jumlah korban itu dikonfirmasi Komisi Hak Asasi Manusia Ethiopia (EHRC) Kamis (26/8/2021).

Komisi yang berafiliasi dengan negara tetapi independen menyatakan para saksi menggambarkan orang-orang bersenjata yang berafiliasi dengan Tentara Pembebasan Oromo (OLA), satu kelompok pemberontak. Kelompok bersenjata itu tiba pada 18 Agustus setelah pasukan keamanan mundur dari Gida-Kirimu di wilayah barat.

"Penduduk daerah itu dan lainnya telah mengatakan kepada komisi bahwa lebih dari 150 orang tewas oleh orang-orang bersenjata itu," kata badan hak asasi manusia itu.

Serangan itu memaksa perempuan dan anak-anak untuk melarikan diri ke daerah tetangga, dan memicu gelombang pembunuhan balas dendam.

ADVERTISEMENT

"Pada hari-hari berikutnya, beberapa warga melakukan serangan pembalasan berbasis etnis, menewaskan lebih dari 60 orang dan memicu eksodus lebih lanjut warga sipil yang melarikan diri dari kekerasan," kata komisi itu.

Badan yang ditunjuk pemerintah itu tidak menyebutkan siapa yang bertanggung jawab atas tindakan balas dendam tersebut.

"Serangan itu terjadi sehari setelah relokasi pasukan keamanan ke daerah lain," kata pernyataan itu.

Laporan dan sumber lokal menyatakan serangan awal menargetkan etnis Amhara yang sering menghadapi serangan serupa di masa lalu.

Panel menyerukan "tindakan segera" untuk mencegah ketidakstabilan menyebar lebih jauh dan penyelidikan mengapa pasukan keamanan menarik diri dari daerah yang bermasalah.

Dalam satu pernyataan, OLA membantah bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kelompok itu diyakini aktif di daerah di mana serangan terakhir terjadi.

Odaa Tarbii, juru bicara kelompok pemberontak, mengatakan dalam satu cuitan pada Kamis bahwa laporan semacam itu adalah "distorsi besar dari fakta di lapangan".

OLA telah ditetapkan sebagai "organisasi teroris" oleh anggota parlemen pada Mei bersama Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), yang pasukan pemberontaknya telah berperang di utara Etiopia sejak November.

Pemerintah menuduh OLA membantai warga sipil di Oromia, wilayah terbesar di negara itu, dan di Amhara, kota terbesar kedua.

"Bentrokan yang melibatkan dua kelompok etnis itu menewaskan lebih dari 300 orang selama beberapa hari di bulan Maret," kata pejabat federal.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon