ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kembali Pimpin Etiopia, PM Abiy Ahmed Masih Hadapi Konflik Tigray

Selasa, 5 Oktober 2021 | 16:32 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Abiy Ahmed mengambil sumpah saat dilantik sebagai perdana menteri Etiopia di Addis Ababa, Etiopia, pada Senin 4 Oktober 2021. Parlemen Etiopia pada Senin mengukuhkan Abiy Ahmed sebagai perdana menteri untuk masa jabatan lima tahun yang baru.
Abiy Ahmed mengambil sumpah saat dilantik sebagai perdana menteri Etiopia di Addis Ababa, Etiopia, pada Senin 4 Oktober 2021. Parlemen Etiopia pada Senin mengukuhkan Abiy Ahmed sebagai perdana menteri untuk masa jabatan lima tahun yang baru. (Xinhua/Michael Tewelde)

Addis Ababa, Beritasatu.com- Abiy Ahmed dilantik sebagai Perdana Menteri Etiopia untuk masa jabatan lima tahun yang kedua. Seperti dilaporkan Al Jazeera, Senin (4/10/2021), pemerintah Abiy masih menghadapi sejumlah tantangan, termasuk konflik selama berbulan-bulan di wilayah utara Tigray.

Abiy mengambil sumpah jabatan, yang dipimpin oleh Ketua Mahkamah Agung Meaza Ashenafi, menyusul sumpah serupa oleh ketua dan wakil ketua majelis rendah parlemen.

"Saya, Abiy Ahmed Ali, hari ini di Dewan Perwakilan Rakyat, menerima penunjukan sebagai perdana menteri, karena saya berjanji untuk melakukan secara bertanggung jawab dan dengan keyakinan pada konstitusi tanggung jawab yang diberikan kepada saya oleh rakyat," katanya.

Partai Kemakmuran Abiy dinyatakan sebagai pemenang pemilihan parlemen awal tahun ini dalam pemungutan suara yang dikritik dan, kadang-kadang, diboikot oleh partai-partai oposisi. Tetapi pemilihan digambarkan oleh beberapa pengamat pemilihan luar sebagai ajang yang berjalan lebih baik daripada masa lalu.

ADVERTISEMENT

Pada Juni, partai perdana menteri memenangkan 410 dari 436 kursi parlemen yang diperebutkan. Tiga daerah tempat pemilihan umum telah ditunda dipilih bulan lalu. Pemungutan suara tidak dilakukan di wilayah Tigray utara yang berada di bawah kendali pasukan regional yang menentang pemerintah di Addis Ababa.

Pemilihan tersebut menandai pertama kalinya Abiy menghadapi pemilih sejak ia diangkat sebagai perdana menteri pada 2018 setelah beberapa tahun protes anti-pemerintah.

Perdana menteri Abiy sekarang menghadapi tantangan besar. Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2019 itu harus memulihkan hubungan dengan negara tetangga Eritrea dan mengejar reformasi politik.

Catherine Soi dari Al Jazeera, melaporkan dari Nairobi di negara tetangga Kenya, mengatakan orang Etiopia ingin Abiy memprioritaskan peningkatan situasi keamanan di negara itu.

"Banyak orang Etiopia mengatakan mereka ingin perdana menteri menangani situasi keamanan. Konflik di Tigray semakin tak terkendali. Konflik telah menyebar ke wilayah Amhara dan Afar. Ada konflik etnis di beberapa bagian negara juga. Ekonomi negara juga sedang berjuang, "kata Soi.

Konflik Tigray selama 11 bulan melemahkan ekonomi Etiopia, yang pernah menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat di Afrika. Konflik juga akan mengisolasi Abiy, yang pernah dianggap sebagai pembawa perdamaian regional.

Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), ribuan orang tewas dalam konflik dan ratusan ribu menghadapi kondisi seperti kelaparan.

Tidak jelas apakah pengambilan sumpah Abiy akan mengubah jalannya perang yang mengadu pasukan pemerintah melawan kelompok pemberontak Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), yang mendominasi politik nasional sebelum dia mengambil alih kekuasaan.

Kantor Abiy menyatakan langkah-langkah perdamaian tertentu, seperti mendeklasifikasi TPLF sebagai kelompok teroris, hanya dapat terjadi setelah pemerintahan baru dibentuk. Pemerintah menyalahkan pemberontak karena memulai perang November lalu dengan serangan terhadap kamp-kamp tentara federal.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon