Serangan Bom di Damaskus, 14 Tentara Suriah Tewas
Rabu, 20 Oktober 2021 | 19:31 WIB
Damaskus, Beritasatu.com- Serangan bom ganda di Damaskus tewaskan 14 personel militer Suriah pada Rabu (20/10/2021). Seperti dilaporkan Al Jazeera, beberapa tentara lainnya terluka dalam serangan pada jam sibuk pagi hari.
Menurut TV pemerintah dan seorang pejabat militer, serangan pada Rabu pagi itu adalah yang paling mematikan di Damaskus dalam beberapa tahun. Serangan itu juga peristiwa langka sejak pasukan pemerintah merebut pinggiran kota yang sebelumnya dikuasai oleh pejuang oposisi dalam konflik 10 tahun di Suriah.
TV pemerintah Suriah menunjukkan rekaman bus yang hangus di pusat Damaskus. Laporan menyebut serangan itu terjadi pada jam-jam sibuk ketika orang-orang menuju ke tempat kerja dan sekolah.
Dua alat peledak meledak ketika bus itu berada di dekat jembatan Hafez al-Assad. Laporan menambahkan alat ketiga dijinakkan oleh unit teknik tentara yang dikatakan para pejabat sebagai ledakan "teroris".
Satu sumber militer yang dikutip oleh kantor berita negara SANA mengatakan bom telah ditanam di dalam bus itu sendiri.
Tidak ada klaim tanggung jawab langsung atas serangan itu.
"Ini adalah tindakan pengecut," kata komandan polisi Damaskus Mayor Jenderal Hussein Jumaa kepada TV pemerintah.
Jumaa menambahkan bahwa pasukan polisi segera menutup daerah itu dan memastikan tidak ada lagi bom. Dia mendesak orang-orang untuk memberi tahu pihak berwenang tentang objek mencurigakan yang mereka lihat.
Koresponden Al Jazeera Zena Khodr mengatakan serangan yang terjadi di jantung ibu kota Suriah itu jelas merupakan "pelanggaran keamanan".
"Rezim pasti memiliki banyak musuh," katanya, berbicara dari ibu kota Lebanon, Beirut.
Salah satunya adalah pejuang oposisi, yang sebagian besar terbatas di utara negara itu. Ada juga pejuang ISIL (ISIS) yang terus beroperasi di daerah gurun yang luas di negara itu dan terlibat dalam bentrokan yang sedang berlangsung dengan rezim berulang kali.
"Lalu ada juga perpecahan di dalam aparat keamanan, di dalam tentara dan di dalam wilayah itu sendiri. Jadi kami hanya bisa berspekulasi tetapi jelas rezim percaya itu adalah oposisi," tambah Khodor.
Joseph Daher, profesor afiliasi dengan proyek Suriah masa perang dan pasca-konflik di Institut Universitas Eropa, mengatakan ledakan itu menunjukkan sekali lagi bahwa Suriah "sangat jauh dari stabilitas apa pun".
"Rezim diancam oleh banyak aktor. Jenis aksi teroris ini adalah merek dagang dari apa yang disebut Negara Islam [ISIL], yang meskipun kekalahan 2019 oleh pasukan gabungan AS dan SDF tidak berarti akhir dari organisasi, dan masih menjadi ancaman dan tantangan keamanan terutama setelah perubahan strategi," paparnya, saat berbicara dari Jenewa.
"Ini menunjukkan sekali lagi kita sangat jauh dari stabilitas apa pun di Suriah, baik secara politik, militer, atau ekonomi. Kami masih dalam situasi konflik," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




