Dikepung Pemberontak Tigray, PM Etiopia Desak Rakyat Berkorban
Minggu, 7 November 2021 | 07:09 WIB
Addis Ababa, Beritasatu.com- Perdana Menteri Etiopia Abiy Ahmed mendesak rakyat berkorban untuk menyelamatkan negara. Seperti dilaporkan AFP, Sabtu (6/11/2021), pernyataan Ahmed dilontarkan setelah Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) ketika pertempuran di utara meningkat antara pasukan pemerintah dan pemberontak Tigray yang mengancam merangsek Addis Ababa.
Akhir pekan lalu, TPLF mengatakan telah mengambil dua kota strategis di wilayah Amhara. Dihadapkan dengan eskalasi pertempuran baru-baru ini, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat menyerukan gencatan senjata dalam deklarasi bersama yang langka tentang masalah tersebut.
Pengumuman Ahmed datang sehari setelah sembilan kelompok pemberontak mengatakan mereka akan bergabung dalam aliansi yang dibangun di TPLF, yang telah terkunci dalam perang selama setahun melawan pemerintah Abiy.
Pada Jumat, Perwakilan TPLF Berhane Gebre-Christos mengatakan aliansi tersebut bertujuan untuk "menghapus rezim," saat ia menandatangani perjanjian sembilan pihak di Washington.
"Ada pengorbanan yang harus dilakukan, tetapi pengorbanan itu akan menyelamatkan Etiopia. Kami telah melihat ujian dan rintangan dan itu membuat kami lebih kuat," cuit Abiy.
"Kami memiliki lebih banyak sekutu daripada orang-orang yang memunggungi kami.
Bagi kami, orang Etiopia, mati demi kedaulatan, persatuan, dan identitas kami, adalah suatu kehormatan. Tidak ada Etiopianisme tanpa pengorbanan," kata layanan komunikasi pemerintah di Twitter.
Akhir pekan lalu, TPLF menyatakan telah merebut dua kota strategis di wilayah Amhara, tempat para anggotanya maju setelah merebut kembali benteng Tigray pada bulan Juni. Dikatakan pada Rabu bahwa mereka telah mencapai kota Kemissie di Amhara, 325 kilometer sebelah timur laut ibu kota Addis Ababa.
TPLF menambahkan pihaknya menjalankan "operasi bersama" dengan Tentara Pembebasan Oromo, kelompok pemberontak lain yang memperkirakan Addis Ababa bisa jatuh dalam hitungan minggu.
Pemerintah, yang pada Selasa (2/11) mendeklarasikan keadaan darurat nasional, telah membantah kemajuan besar atau ancaman pemberontak di ibu kota. Pemerintah bersumpah untuk terus meraih kemenangan dalam "perang eksistensial."
Pada Jumat, Juru bicara Abiy, Billene Seyoum menuduh pemberontak memutar "narasi yang mengkhawatirkan yang menciptakan banyak ketegangan di antara komunitas yang berbeda, termasuk komunitas internasional."
"Perang informasi dan propaganda yang mereka sebarkan ini memberikan rasa tidak aman yang salah," tambahnya.
Abiy mengirim pasukan ke Tigray pada November 2020 untuk menggulingkan TPLF, yang dia tuduh menyerang pangkalan militer, menjanjikan kemenangan cepat.
Tetapi pada akhir Juni, para pemberontak telah merebut kembali sebagian besar Tigray dan meluas ke wilayah tetangga Afar dan Amhara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




