ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

16 Staf PBB dan Keluarga Ditahan, Polisi Etiopia Sebut hanya Incar Pemberontak

Rabu, 10 November 2021 | 16:51 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Orang-orang memegang lilin dan bendera Etiopia saat upacara peringatan bagi para korban konflik Tigray yang diselenggarakan oleh pemerintah kota, di Addis Ababa, Etiopia, pada Rabu 3 November 2021.
Orang-orang memegang lilin dan bendera Etiopia saat upacara peringatan bagi para korban konflik Tigray yang diselenggarakan oleh pemerintah kota, di Addis Ababa, Etiopia, pada Rabu 3 November 2021. (AFP/EDUARDO SOTERAS)

New York, Beritasatu.com - Sedikitnya 16 anggota staf Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan keluarganya ditahan di ibu kota Etiopia, Addis Ababa, kata juru bicara PBB, Selasa (9/11/2021). Kabar itu diumumkan di tengah laporan bahwa semakin banyak anggota suku Tigray yang ditangkap polisi.

"Kami tentu terus bekerja sama dengan pemerintah Etiopia agar mereka segera dibebaskan," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric kepada para wartawan di New York.

Kepolisian Ethiopia membantah melakukan penahanan atas dasar suku tertentu. Menurut polisi, pihaknya hanya mengincar para pendukung pasukan pemberontak Tigray yang memerangi pemerintah pusat.

Fasika Fanta, juru bicara kepolisian Addis Ababa, maupun juru bicara pemerintah Legesse Tulu mengatakan kepada Reuters bahwa mereka tidak punya informasi soal penahanan para anggota staf PBB.

ADVERTISEMENT

"Orang-orang yang ditahan adalah para warga Etiopia yang melanggar hukum," kata Legesse.

Dujarric menolak menjawab pertanyaan dari suku mana para staf PBB dan keluarganya yang ditahan itu berasal.

"Orang-orang ini adalah anggota staf Perserikatan Bangsa-Bangsa... mereka warga Etiopia...., dan kami menginginkan mereka dibebaskan, tak peduli nama suku apa pun yang tertera di kartu identitas mereka."

Komisi HAM Etiopia, yang dibentuk negara, mengatakan pada Minggu (7/11/2021) bahwa pihaknya telah menerima banyak laporan soal penangkapan terhadap warga suku Tigray di Addis Ababa, termasuk orang tua dan para ibu yang memiliki anak-anak.

Konflik yang telah berjalan selama setahun di Etiopia utara, antara pemerintah dan pasukan Tigray yang setia kepada Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), telah meningkat beberapa pekan belakangan ini setelah TPLF mengarah ke selatan.

Pasukan Tigray dan sekutu-sekutu mereka telah mengancam akan bergerak menuju ibu kota.

Etiopia pada 2 November menyatakan negara dalam keadaan darurat.

Status tersebut memungkinkan pemerintah menangkap siapa saja, tanpa perintah pengadilan, yang dicurigai bersekongkol dengan kelompok teroris.

TPLF awal tahun ini oleh parlemen dinyatakan sebagai kelompok teroris.

Inggris pada Selasa meningkatkan imbauan agar para warga negaranya segera meninggalkan Etiopia saat penerbangan komersial masih tersedia.

Imbauan serupa telah dikeluarkan sebelumnya oleh Amerika Serikat (AS) pada 5 November.

Zambia pada Selasa telah mengevakuasi para anggota staf nonesensial dari Etiopia, kata Kementerian Luar Negeri Zambia.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon