Serangan Drone AS di Suriah Lukai 1 Keluarga
Rabu, 8 Desember 2021 | 21:55 WIB
Al Rami, Beritasatu.com - Ahmad Qassum sedang dalam perjalanan pulang dengan keluarganya ketika sebuah pesawat tak berawak (drone) AS, yang menargetkan seorang militan yang terkait dengan Al-Qaeda di Suriah, menyerang dan menyebabkan ia dan enam lainnya terluka.
"Kami menemukan sebuah sepeda motor yang melaju di depan kami, dan ketika saya mencoba untuk menyalipnya, saya merasakan serangan menghantam kami," kata warga Suriah berusia 52 tahun itu kepada AFP dari rumah keluarga istrinya di provinsi Idlib.
Qassum mengatakan, serangan itu telah mengubah kendaraannya menjadi "kolam darah".
Serangan itu melukai istri dan empat anaknya, termasuk putranya yang berusia sembilan tahun, Mahmud, yang masih dalam perawatan intensif karena cedera kepala serius.
"Saya tidak tahu siapa yang harus diselamatkan terlebih dahulu," kata Qassum, mengingat saat-saat setelah serangan itu.
Idlib adalah wilayah yang didominasi oleh aliansi Hayat Tahrir al-Sham, yang dipimpin oleh mantan afiliasi Al-Qaeda Suriah.
Selama bertahun-tahun, koalisi internasional pimpinan AS di Suriah dan Irak telah melakukan serangan udara yang ditujukan kepada para ekstremis tetapi seringkali membunuh dan melukai warga sipil.
Serangan pesawat tak berawak pada hari Jumat lalu menurut Pentagon menewaskan seorang pemimpin senior faksi Hurras al-Deen yang terkait dengan Al-Qaeda.
"Tinjauan awal serangan itu memang menunjukkan potensi kemungkinan korban sipil," kata juru bicara Pentagon John Kirby.
Washington telah "mengeluarkan laporan penilaian korban sipil," katanya kepada wartawan, Senin.
Keluarga Qassum sedang mengemudi menuju ke kota utara Afrin ketika serangan menghantam seorang pria yang mengendarai sepeda motor di depan mereka.
Mereka telah menghabiskan beberapa hari mengunjungi kerabat di Idlib, yang merupakan perjalanan pertama mereka dalam sembilan bulan. Namun liburan keluarga itu berubah menjadi tragis.
"Apa yang kami lakukan yang membenarkan Amerika membom kami?" Kata Qassum dengan satu tangannya dibalut perban.
"Kami menginginkan kompensasi ... dan mereka yang melakukan ini kepada kami harus dimintai pertanggungjawaban".
Koalisi pimpinan AS mengungkapkan, setidaknya 1.417 kematian warga sipil sejak memulai operasi melawan kelompok ISIS di Suriah dan Irak pada 2014.
Namun jumlah sebenarnya warga sipil yang tewas diyakini lebih tinggi.
Investigasi New York Times bulan lalu menemukan bahwa AS menyembunyikan serangan Maret 2019 di dekat benteng terakhir ISIS di Baghuz yang menewaskan 70 orang, terutama wanita dan anak-anak.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




