ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

PBB: Pengungsi Eritrea di Tigray Mulai Putus Asa

Sabtu, 22 Januari 2022 | 20:31 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Anak-anak terlantar dari Tigray Barat berkumpul pada waktu makan untuk menerima sepiring makanan di sekolah tempat mereka berlindung di ibu kota Tigray, Mekele, Etiopia.
Anak-anak terlantar dari Tigray Barat berkumpul pada waktu makan untuk menerima sepiring makanan di sekolah tempat mereka berlindung di ibu kota Tigray, Mekele, Etiopia. (AFP/Dokumentasi)

Jenewa, Beritasatu.com- Pengungsi Eritrea yang tinggal di kamp-kamp wilayah Tigray yang dilanda perang di Etiopia berada dalam situasi putus asa. Seperti dilaporkan AFP, Jumat (21/1/2022), Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperingatkan para pengungsi berjuang untuk mengakses makanan dan air bersih.

"UNHCR, Badan Pengungsi PBB, sangat khawatir dengan kondisi memburuk yang dihadapi para pengungsi Eritrea di kamp-kamp di Tigray," kata juru bicara Boris Cheshirkov kepada wartawan di Jenewa.

Dalam beberapa hari terakhir, staf UNHCR berhasil mencapai kamp pengungsi Mai Aini dan Adi Harush untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, menyusul serangan udara di dan dekat kedua lokasi tersebut.

"Tim kami menemukan para pengungsi ketakutan dan berjuang untuk mendapatkan cukup makanan, kekurangan obat-obatan dan dengan sedikit atau tanpa akses ke air bersih," kata Cheshirkov.

ADVERTISEMENT

Baca Juga: Januari, 108 Warga Sipil di Tigray Tewas

Situasi itu mengarah pada peningkatan jumlah kematian yang dapat dicegah, dia memperingatkan, menunjuk ke laporan dari para pengungsi bahwa setidaknya 20 orang telah meninggal dalam enam minggu terakhir karena kondisi yang menurun.

Cheshirkov mengatakan klinik di kamp telah ditutup secara efektif sejak awal Januari ketika mereka kehabisan obat.

"Kekurangan bahan bakar berarti bahwa air bersih tidak dapat dipompa atau diangkut dengan truk ke kamp-kamp, dengan pengungsi terpaksa mengambil air dari sungai yang cepat mengering, yang menyebabkan risiko penyakit yang terbawa air," katanya.

Juru bicara itu mengatakan kelaparan ekstrem merupakan kekhawatiran yang meningkat mengingat ketidakmampuan untuk memindahkan pasokan ke wilayah tersebut, sementara para pengungsi melaporkan harus menjual pakaian dan barang-barang mereka untuk makanan.

Baca Juga: Militer Etiopia Rebut Kembali Situs Warisan Dunia Lalibela

"Layanan dasar bagi pengungsi Eritrea di dua kamp telah sangat terganggu selama berbulan-bulan," kata Cheshirkov.

Menurut Cheshirkov, situasi putus asa di kamp-kamp ini adalah contoh nyata dari dampak kurangnya akses dan pasokan yang mempengaruhi jutaan orang terlantar dan warga sipil lainnya di seluruh wilayah.

"Jika makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan persediaan lainnya tidak dapat segera dibawa masuk, dan jika kami terus tidak dapat merelokasi pengungsi dari bahaya ke tempat kami dapat memberi mereka bantuan penyelamatan jiwa, lebih banyak pengungsi akan mati," tambahnya.

Baca Juga: PBB: Sekitar 1.000 Orang Ditangkap Sejak Etiopia Berstatus Darurat

Etiopia Utara telah dilanda konflik sejak November 2020 ketika Perdana Menteri Abiy Ahmed mengirim pasukan ke Tigray setelah menuduh partai yang berkuasa di kawasan itu, Front Pembebasan Rakyat Tigray, menyerang kamp-kamp tentara federal.

UNHCR menyerukan gencatan senjata dan jaminan perjalanan yang aman yang akan membantu mereka secara sukarela merelokasi lebih dari 25.000 pengungsi. Puluhan ribu pengungsi itu masih tersisa di kamp-kamp ke lokasi baru di Dabat di wilayah Amhara yang berdekatan.

"Pengungsi tidak boleh disandera dalam konflik ini," kata Cheshirkov.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon