Badan HAM Etiopia: 750 Warga Sipil Tewas di Amhara dalam 6 Bulan
Sabtu, 12 Maret 2022 | 13:28 WIB
Addis Ababa, Beritasatu.com- Sedikitnya 750 warga sipil tewas atau dieksekusi di wilayah Amhara dan Afar di Etiopia pada paruh kedua tahun 2021. Seperti dilaporkan Al Jazeera, Jumat (11/3/2022), sejak November 2020, ribuan orang tewas dan jutaan mengungsi saat pasukan federal Etiopia dan sekutu mereka memerangi pemberontak Tigray.
Dalam satu laporan yang dirilis pada Kamis (10/3), Komisi Hak Asasi Manusia Etiopia juga membuat katalog pelanggaran yang meluas, termasuk penyiksaan dan pemerkosaan beramai-ramai dan penghilangan paksa.
Dikatakan, setidaknya 403 warga sipil tewas dan 309 terluka dalam serangan udara, serangan pesawat tak berawak dan tembakan artileri berat sejak pemberontak Tigra yang memerangi pasukan pemerintah melancarkan serangan ke wilayah tetangga di utara Etiopia pada Juli tahun lalu.
"Setidaknya 346 warga sipil juga kehilangan nyawa mereka dalam pembunuhan di luar proses hukum yang dilakukan oleh pihak-pihak yang bertikai, termasuk pemberontak Tigray, pasukan pemerintah dan sekutu mereka," tambah EHRC, satu badan independen yang berafiliasi dengan negara.
Baca Juga: PBB: Pengungsi Eritrea di Tigray Mulai Putus Asa
EHRC juga menuduh pemberontak Tigray melakukan pelanggaran yang meluas, seperti pemerkosaan beramai-ramai, penyiksaan, penjarahan dan penghancuran fasilitas umum seperti rumah sakit dan sekolah di dua wilayah yang berbatasan dengan Tigray.
"Pasukan Tigray melakukan kekerasan seksual dan berbasis gender yang meluas, kejam, dan sistematis termasuk pemerkosaan berkelompok terhadap wanita dari berbagai usia termasuk anak perempuan dan wanita lanjut usia di beberapa bagian wilayah Afar dan Amhara di bawah kendali mereka," katanya.
EHRC juga menuduh pasukan keamanan federal dan lokal di Amhara dan Afar melakukan penahanan sewenang-wenang yang meluas.
Baca Juga: Januari, 108 Warga Sipil di Tigray Tewas
"Lebih dari 2.400 fasilitas kesehatan termasuk rumah sakit di dua wilayah tersebut telah berhenti beroperasi sebagai akibat dari kehancuran, kerusakan dan penjarahan yang mereka alami," kata laporan itu, sementara lebih dari 1.000 sekolah hancur dan 3.220 sekolah lainnya rusak.
Konflik di utara meletus pada November 2020 ketika Perdana Menteri Etiopia Abiy Ahmed mengirim pasukan ke Tigray untuk menggulingkan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), satu langkah yang dia katakan sebagai tanggapan atas serangan kelompok pemberontak di kamp-kamp tentara.
Setelah awalnya kehilangan kendali atas kota-kota besar dan kecil di Tigray, TPLF berkumpul kembali dan merebut kembali wilayah itu pada bulan Juni, kemudian melancarkan serangan ke Afar dan Amhara.
Baca Juga: Kelompok Bantuan Internasional Hentikan Operasional di Tigray
Pada November 2021, pemberontak mengklaim akan bergerak ke ibu kota Addis Ababa. Namun pemerintah melancarkan serangan balasan, merebut kembali wilayah yang hilang di Amhara dan Afar.
Sebulan setelahnya, PBB setuju untuk mengadakan penyelidikan independen terhadap pelanggaran hak asasi di Etiopia, satu langkah yang sangat ditentang oleh pemerintah Etiopia.
Meskipun pertempuran telah mereda, PBB melaporkan pada Senin bahwa setidaknya 304 warga sipil telah tewas dalam serangan udara di utara, khususnya Tigray, sejak November.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




