ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dubes Rusia: Barat Menyebarkan Banyak Berita Bohong

Rabu, 23 Maret 2022 | 17:15 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobieva bersama Atase Pertahanan Rusia Sergey Zvevlnovatyi saat memberikan keterangan mengenai operasi militer khusus yang dilakukan oleh Rusia di Ukraina di Jakarta, Rabu, 23 Maret 2022.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobieva bersama Atase Pertahanan Rusia Sergey Zvevlnovatyi saat memberikan keterangan mengenai operasi militer khusus yang dilakukan oleh Rusia di Ukraina di Jakarta, Rabu, 23 Maret 2022. (BeritaSatu Photo/Ruht Semiono)

Jakarta, Beritasatu.com- Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva mengatakan Barat menyebarkan banyak berita bohong dan informasi sesat terkait operasi khusus Rusia di Ukraina. Menurut Vorobieva, tidak banyak media yang mengungkap bahwa militer Ukraina justru sengaja menggunakan warga sipil sebagai tameng hidup.

"Bukan pertama kali bagi pemerintah Barat menggunakan media sebagai alat untuk membenarkan alasan menyerang satu negara. Apakah Anda ingat bagaimana Barat menggunakan klaim keberadaan senjata pemusnah massal di Irak? Sampai sekarang senjata pemusnah massal itu tidak terbukti. Tapi lebih dari 600.000 orang tewas terbunuh di Irak saja," kata Vorobieva yang didampingi Atase Pertahanan Kedubes Rusia di Indonesia Sergey Zhevnovatyi saat press briefing di Jakarta pada Rabu (23/3/2022).

Menurut Vorobieva, warga sipil Ukraina dilarang militer untuk mengungsi ke luar kota. Militer Ukraina menggunakan warga sipil sebagai sandera agar militer Rusia tidak menembak. Sementara militer Rusia harus memeriksa rumah-rumah penduduk untuk memastikan tidak ada warga sipil atau militer Ukraina yang bersembunyi. Militer Ukraina juga sengaja menghancurkan sejumlah rumah penduduk untuk mengekspos korban sipil.

Baca Juga: Meskipun Ingin Hadir, Presiden Putin Belum Dipastikan Hadir di KTT G-20

ADVERTISEMENT

"Ukraina telah lama menjadi alat sentimen anti-Rusia oleh Barat. Bukan hanya alat politik tapi juga militer. Kyiv juga sudah siap menyerang Lugansk dan Donetsk di wilayah timur yang merupakan penutur bahasa Rusia. Untuk melindungi warga di wilayah itu, Presiden Putin memerintahkan operasi militer khusus," paparnya.

Lebih jauh, Vorobieva juga membantah serangan militer Rusia salah sasaran saat menghancurkan satu mal. Dikatakan, militer Rusia mendeteksi mal kosong itu dijadikan basis gudang amunisi oleh militer Ukraina. Pihak Rusia juga membantah ada banyak warga sipil yang berlindung di mal itu yang kemudian menjadi korban.

"Kami laporkan ada lebih dari 30 laboratorium biologi untuk senjata biologi yang dikendalikan oleh Amerika Serikat dan Ukraina. Laboratorium itu berisi patogen yang sangat beracun dan bisa menular cepat ke ratusan dan ribuan penduduk," kata Vorobieva.

Baca Juga: Jubir Kremlin: Senjata Nuklir Digunakan jika Rusia Terancam

Atase Pertahanan Kedubes Rusia di Indonesia Sergey Zhevnovatyi mengatakan pengaruh Barat dan NATO yang makin berkembang pesat makin mengancam keamanan Rusia sejak beberapa dekade. Oleh sebab itu, Presiden Putin memerintahkan operasi militer khusus di Ukraina.

Dikatakan, saat operasi khusus Rusia di Ukraina, pegawai laboratorium memberikan dokumen kepada pihak Rusia yang membuktikan penghancuran segera semua informasi program biologi militer AS di wilayah Ukraina dan didanai Kemenhan AS.

Dokumen lain yang ditemukan Kemenhan Rusia menyebutkan para ahli Ukraina mengirimkan sampel-sampel biomateri secara regular kepada orang-orang dan organisasi di luar negeri yang berminat. Temuan ini menunjukkan para peneliti AS di Ukraina mengadakan penelitian soal pengaruh patogen terhadap manusia berdasarkan faktor ras dan etnis.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon