ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ekspor Produk Laut, Myanmar Hasilkan Rp 3,6 Triliun

Jumat, 2 September 2022 | 06:51 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Para pekerja memilah ikan di pasar grosir ikan di Yangon, Myanmar, Kamis 1 September 2022. 
Para pekerja memilah ikan di pasar grosir ikan di Yangon, Myanmar, Kamis 1 September 2022.  (Xinhua/Myo Kyaw Soe/)

Yangon, Beritasatu.com- Myanmar memperoleh lebih dari US$ 242,46 juta atau Rp 3,6 triliun dari ekspor produk laut dalam hampir lima bulan tahun fiskal 2022-2023 yang dimulai April.

Seperti dilaporkan Xinhua, Rabu (31/8/2022), Kementerian Perdagangan menyatakan Dari 1 April hingga 19 Agustus tahun ini, negara Asia Tenggara itu mengekspor semua produk kelautan dari sektor swasta saja, menurut data kementerian.
Angka itu masih kurang dari US$ 244,59 juta (Rp 3,63 triliun ) yang tercatat setahun lalu.

Selama periode tersebut, total ekspor negara itu bernilai lebih dari US$ 6,5 miliar (Rp 96,5 triliun), naik lebih dari US$1,3 miliar (Rp 19,3 triliun) tahun-ke-tahun.

Total nilai perdagangan Myanmar berjumlah lebih dari US$ 13,04 miliar (Rp 193,6 triliun) selama periode tersebut, naik lebih dari US$ 2,6 miliar (Rp 38,6 triliun) year on year.

ADVERTISEMENT

Angka resmi menunjukkan sekitar 80 persen perdagangan Myanmar dengan luar negeri dilakukan melalui jalur laut, sementara perdagangan perbatasan dilakukan dengan Tiongkok, Thailand, Bangladesh dan India.

Myanmar terutama mengekspor produk pertanian, produk hewani, produk laut, mineral, hasil hutan, barang manufaktur dan lainnya ke luar negeri, sementara itu mengimpor barang modal, barang setengah jadi dan barang konsumsi.

Seperti dilaporkan Reuters, Jumat (19/8/2022), Myanmar akan mengimpor bensin dan bahan bakar minyak Rusia untuk meredakan kekhawatiran pasokan dan kenaikan harga.  rencana itu disampaikan juru bicara junta Myanmar, Zaw Min Tun.

"Kami telah menerima izin untuk mengimpor bensin dari Rusia," kata juru bicara militer Zaw Min Tun dalam konferensi pers pada Rabu, seraya menambahkan bahwa minyak Rusia disukai karena "kualitas dan biaya rendah."

Negara Asia Tenggara itu telah mempertahankan hubungan persahabatan dengan Rusia, bahkan ketika keduanya tetap berada di bawah serangkaian sanksi dari negara-negara Barat. Myanmar atas kudeta militer yang menggulingkan pemerintah terpilih tahun lalu, dan Rusia atas invasinya ke Ukraina, yang disebutnya sebagai "operasi militer khusus."



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon