ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Petani Jagung di Pangandaran Gagal Panen gegara Ulah Babi Hutan

Minggu, 18 Januari 2026 | 11:17 WIB
MI
H
Penulis: Muhamad Iqbal | Editor: HE
Serangan babi hutan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut menyebabkan tanaman jagung di Pangandaran rusak parah hingga gagal panen.
Serangan babi hutan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut menyebabkan tanaman jagung di Pangandaran rusak parah hingga gagal panen. (Beritasatu.com/Muhamad Iqbal)

Pangandaran, Beritasatu.com – Harapan petani jagung di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, untuk meraup keuntungan dari hasil panen pupus setelah lahan pertanian mereka diserang kawanan babi hutan. Serangan babi hutan menyebabkan tanaman jagung yang hampir memasuki masa panen rusak parah hingga gagal panen di sejumlah lokasi.

Kondisi kerusakan lahan pertanian itu terekam dalam video yang direkam oleh salah seorang petani di Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, pada Sabtu (17/1/2026). Dalam rekaman tersebut terlihat tanaman jagung yang seharusnya siap dipanen justru roboh dan hancur akibat diinjak serta dimakan kawanan babi hutan.

Serangan babi hutan terjadi selama tiga hari berturut-turut. Padahal, tanaman jagung di lahan tersebut hanya tinggal menunggu waktu panen. Kerusakan tercatat terjadi di sedikitnya lebih dari empat titik lahan dengan total luas hampir satu hektare.

ADVERTISEMENT

Perwakilan Petani Muda Desa Sindangwangi, Purkon, menjelaskan serangan babi hutan umumnya terjadi pada malam hari. Kawanan babi turun dari kawasan hutan dan menyerang lahan pertanian warga secara berkelompok, sehingga sulit diantisipasi maupun dihalau oleh petani.

"Kita sudah melakukan antisipasi, tetapi babi ini menyerangnya di malam hari, jadi kita susah untuk kontrol karena jauh dari area pemukiman. Babi-babi itu tidak cuma makan jagungnya, tetapi semua pohonnya juga dirusak," ungkap Purkon.

Menurutnya, berbagai upaya pencegahan telah dilakukan petani, mulai dari penggunaan obat-obatan hingga penangkal hama babi hutan. Namun, besarnya populasi babi hutan membuat langkah tersebut tidak membuahkan hasil. Akibatnya, hampir satu hektare lahan pertanian rusak dengan nilai kerugian mencapai jutaan rupiah.

"Kita sudah beberapa kali melakukan pencegahan seperti pakai obat obatan, tapi tetap saja selama tiga hari berturut-turut kawanan babi turun lagi. Padahal hanya menunggu satu bulan kurang kita mau panen, tetapi malah gagal, bahkan modal pupuk dan bibit juga tidak kembali," ujarnya.

Para petani pun berharap pemerintah daerah, khususnya melalui Dinas Pertanian, dapat segera turun tangan memberikan solusi. Bantuan benih cadangan serta pendampingan teknis dinilai penting untuk membantu petani mengatasi konflik antara lahan pertanian dan satwa liar agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon