Kasus Pembunuhan Amel di Subang, Ini Pandangan Ricky Vinando
Selasa, 7 September 2021 | 20:16 WIB
Subang, Beritasatu.com - Penyidik Polres Subang, hingga kini masih belum mengungkap pelaku pembunuhan terhadap ibu Tuti (55) dan anak gadisnya Amelia Mustika Ratu (23) yang menggemparkan publik. Kasus pembunuhan tersebut telah terjadi lebih dari dua pekan, dan hingga kini masih menyisakan misteri.
Polisi masih terus melakukan pendalaman, bahkan polisi kembali memeriksa beberapa saksi pada Senin (6/9/2021), hingga malam hari. Saksi yang diperiksa salah satunya yaitu suami korban, Yosef. Adapun total saksi yang telah diperiksa dalam kasus ini berjumlah 25 saksi.
Yosep suami korban melalui pengacaranya membuat alibi, bahwa pada Selasa (17/8/2021) malam, sebelum pamit ke rumah istri mudanya Mimin, Yosep sempat minta uang Rp 20.000 untuk membeli bensin. Yosep lalu keesokan harinya, Rabu (18/8/2021) pulang pagi-pagi ke rumah yang jadi tempat kejadian perkara (TKP). Menurut Yosep keadaan rumah sudah acak-acakan, lalu melapor ke polisi dan sepulang dari kantor polisi ditemukan terdapat 2 mayat di bagasi mobil yang terparkir di depan rumah.
Yosep pulang pagi-pagi pada ke rumah yang jadi TKP karena mau mengambil stik golf karena sebelumnya sekitar jam 6:30 WIB lewat ada janji mau main golf. Selain itu terdapat chat dengan caddy golf. Ricky pun menduga alibi itu sengaja diciptakan serta diskenariokan.
"Alibi ambil stik golf di rumah yang juga jadi TKP, diduga, sekali lagi ya diduga, sengaja diciptakan Yosep dengan tujuan untuk menjauhkan atau membuat dia jauh dari locus delicti penemuan mayat anak dan istrinya. Jadi, dengan adanya alibi pulang ke TKP karena mau ambil stik golf, tapi sebelum pulang ke TKP setelah semalaman tidur di rumah istri muda, pagi sebelum pulang ke rumahnya sendiri yang jadi TKP itu, sudah janjian sama caddy golf mau main golf," kata Ricky.
"Ini diduga kuat hanya alibi agar tidak terjerat kasus ini agar seolah-olah dia tidak ada kaitannya sama sekali dengan penemuan mayat di rumahnya sendiri. Dia berusaha menjauhkan dirinya dari locus delicti. Tapi secara logika hukum pidana, untuk kasus ini, yang paling mengetahui bagaimana situasi dan kondisi TKP hanya dia, tidak ada orang lain," ujar Ricky melalui keterangan pers, Selasa (7/9/2021).
Menurutnya, yang paling mengetahui situasi rumah yang jadi TKP aman atau tidak aman hanya diduga Yosep. Karena pada tanggal 17 Agustus malam, Yosep memutuskan pergi dari rumah yang kemudian menjadi TKP tersebut dan tidur di rumah istri mudanya. Menurut Ricky, Yosep sadar dan mengerti kapan dia harus kembali sehingga seolah-olah Yosep tidak mengetahui apapun yang terjadi di rumahnya.
"Jadi tanda tanya besar kok bisa peristiwa pembunuhan terjadi di dalam rentang waktu dia meninggalkan rumah dan mayat ditemukan pada saat dia pulang ke rumah ketika peristiwa perampasan nyawa telah selesai dengan sangat rapi dan sempurna? Apakah itu hanya kebetulan? Apa harus tanya pada rumput yang bergoyang atau mbah dukun? Pulang pagi-pagi diduga, saya tidak menuduh ya, tetapi diduga untuk berdrama seolah-olah tidak tahu apa pun. Diduga juga ada eksekutor," paparnya.
"Jadi diduga ambil stik alibi yang sengaja diciptakan. Karena eksekutor bebas melakukan apapun di dalam rentang waktu dia meninggalkan rumah, besar potensi itu, saya tidak menuduh ya, karena saya pakai kalimat diduga, karena hanya dia yang paling berpotensi tahu semuanya yang terjadi di TKP, baik diduga bersama eksekutor atau tanpa eksekutor, karena hanya dia yang paling tahu bagaimana kondisi rumahnya," tambah Ricky.
Menurut Ricky, Yosep merupakan orang yang paling mengetahui bagaimana situasi rumah. Bagaimana di dalam rumah hanya dihuni oleh dua orang wanita yang kemudian menjadi korban pembunuhan.
"Pertanyaannya, siapa yang tahu dia ada rencana main golf pada 18 Agustus pagi? Kan hanya dia sendiri. Dua mayat korban sempat dibersihkan dulu di kamar mandi. Logikanya jika yang melakukannya adalah orang lain selain diduga dia dan atau Mimin atau bersama atau tanpa eksekutornya, maka tak akan sempat membersihkan darah pada mayat lalu membawanya ke mobil karena orang lain itu sama sekali tidak mengetahui dan menguasai penuh situasi rumah yang jadi TKP, karena takut ketahuan orang lain atau dia pulang. Bisa membersihkan dua mayat kan artinya ini dilakukan dengan sangat nyaman, santai dan tenang serta tidak ada rasa takut. Siapa yang bisa sesantai itu di rumah sendiri, siapa yang paling berpotensi? Tadi sudah saya jawab," tegasnya.
Ditambahkan Ricky, yang bisa dan berpotensi melakukan itu hanya ada pada diri orang yang telah mengetahui situasi dan kondisi di TKP serta telah menguasai TKP karena hanya dia yang paling tahu waktu paling aman, sehingga jarak matinya korban 1 dan ke 2 selisih 5 jam.
Apabila pelakunya tidak menguasai waktu dan tidak menguasai kondisi di TKP, rencananya tidak akan mulus, tapi yang terjadi justru rencana yang sangat matang berjalan dengan mulus karena korban sempat dibersihkan dulu darahnya. Ricky menyimpulkan pelaku sangat tenang dan santai karena tidak takut ketahuan siapapun karena dia sudah menguasai dan mengetahui situasi rumah pasti aman.
"Jadi, jangan menyalah-nyalahkan orang lain, jadi alibi soal mau main golf ini diduga sengaja diciptakan, diduga itu drama agar penyidik makin bingung betapa rumitnya kasus ini dan supaya dia dan atau bersama istri mudanya makin jauh dari locus delicti," tandasnya.
Ricky menegaskan dia tak menuduh Yosep yang sudah diperiksa hingga 7 kali, karena dirinya menggunakan kalimat diduga. Sehingga tidak dapat diartikan menuduh.
"Diduga dia dan atau istri mudanya ada keterkaitan dalam kasus ini atau termasuk pakai tangan orang ketiga alias ada eksekutor, makanya bagian rumah tidak ada yang rusak, karena sudah dikontrol penuh agar tidak merusak rumah apabila pakai eksekutor. Ini diduga ada kaitan dengan pengelolaan yayasan, diduga sekali lagi diduga ya dipicu masalah emosional dan kecemburuan, karena 2 korban sebagai ada jabatan di yayasan, sedangkan istri muda tak ada jabatan apapun di yayasan, otomatis ada kecemburuan sama 2 korban, terlebih lagi ada saksi bilang hubungan istri muda dan korban tak baik bahkan korban sering diteror oleh istri muda. Ini harusnya dijadikan sebagai petunjuk utama. Untuk motif biarlah pihak kepolisian aja yang mendalaminya," ujarnya.
"Saya prihatin lihat kasus ini lama belum terungkap. Saya kepada Kapolres Subang, Yosep agar diperiksa saja pakai lie detector agar kasus ini cepat terungkap. Lakukan saja teknik seperti yang dulu pernah dilakukan Polda Bali terhadap Margareth Megawe dalam kasus Engeline di Bali," paparnya.
Terlebih lagi Yosep dan dan istri mudanya merasa tertekan, depresi dan merasa difitnah seperti yang diungkapkan pengacaranya.
"Kalau tidak salah kenapa harus depresi, tertekan, ya ketakutan itu apalagi sekarang setelah depresi, merasa difitnah, tapi sekarang malah bilang ada orang lain yang juga punya akses masuk ke dalam rumah yang jadi TKP. Kenapa fitnah orang lain? Orang lain siapapun itu tidak logis bisa menguasai penuh dan mengetahui situasi rumah sampai dua korban telah menjadi mayat lalu baru kemudian dia sampai setelah semuanya selesai, kok bisa semuanya sudah selesai baru sampai rumah," tandas Ricky.
Menurut Ricky, dari banyak kejadian perkara yang telah terungkap, apabila korban ditemukan tewas di dalam rumah apalagi tidak ada barang berharga yang hilang dan bagian rumah tidak ada yang rusak, maka sebagian besar pelakunya adalah masih dari anggota keluarga. Apabila tewas di kamar kos sebagian besar dari banyak kasus yang terungkap, dihabisi pacar dan apabila tewas di kamar hotel sebagian besar dihabisi pria hidung belang atau kekasihnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




