ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Cerita Residen Saat PPDS Jaga Ruang IGD 24 Jam Nonstop hingga Kena Bullying

Selasa, 20 Agustus 2024 | 22:31 WIB
PS
AD
Penulis: Pranoto Susilo | Editor: AD
Ilustrasi bullying yang dilakukan oleh senior di fakultas kedokteran
Ilustrasi bullying yang dilakukan oleh senior di fakultas kedokteran (Freepik/Istimewa)

Tegal, Beritasatu.com - Salah seorang dokter berinisial A yang bertugas di salah satu rumah sakit di Kota Tegal, mengaku saat mengikuti PPDS pada 2002 pernah mengalami bullying. Dia harus bertugas selama 24 jam nonstop di ruang IGD bersama rekan seangkatannya pada saat itu. Dia ditegur senior saat berjaga, lantaran kelelahan, dia ketiduran sambil duduk.

"Dulu waktu saya mengikuti PPDS tahun 2002, saya harus bertugas menjaga IGD di salah satu rumah sakit selama 24 jam nonstop bersama rekan seangkatan. Kalau jaga IGD itu, pukul 07.00 WIB sampai 07.00 WIB pagi besoknya. Kalau tidak ada pasien baru bisa istirahat, kita berjaga itu lima orang," ucap dokter inisial A saat ditemui Beritasatu.com di tempat kerjanya, Selasa (20/8/2024) sore.

Waktu itu, kata dokter inisial A, datang pasien beruntun karena kecelakaan massal. Setelah penanganan satu pasien selesai harus diawasi selama 24 jam nonstop, dilanjutkan dengan operasi pasien yang lainnya. Dia mengaku keteteran, lalu datang pasien lagi, merasa benar-benar lelah, ketiduran di kursi.

ADVERTISEMENT

"Kakak kelas saya datang, lalu marah-marah, "jaga kok tidur", padahal saya waktu itu ketiduran saking lelahnya," ucapnya.

Menurutnya, menjadi seorang residen PPDS harus punya karakter dan mental yang tangguh. Orang yang manja sekalipun jenius tidak akan sanggup menyelesaikan PPDS.

Setiap tingkatan residen, lanjut dokter inisial A, saat mengikuti PPDS memiliki porsi kerja berbeda-beda. Residen tingkat pertama, yang menjaga IGD, bertugas memeriksa pasien. Selanjutnya dilaporkan residen tingkat kedua, lalu tingkat kedua ikut memeriksa, klarifikasi.

Residen tingkat ketiga bertugas menentukan tindakan, pasien layak operasi atau tidak, nanti (operasi) dikerjakan residen tingkat ketiga bekerja sama dengan residen tingkat keempat. Lalu residen tingkat keempat turun tangan kalau ada kesulitan. Penanggung jawab ada pada residen tingkat kelima, tugasnya melaporkan kepada konsulat.

Dia menjelaskan, saat mengikuti PPDS, yang mengajarkan ilmu memang benar dosen. Namun, ilmu dokter spesialis itu turun menurun, artinya dosen itu hanya sebagai konsultan kalau ada kesulitan. Karena setiap hari tidak mungkin ketemu dosen, maka setiap hari kalau ada kesulitan yang mengajari kakak kelas atau senior.

"Karena pendidikan ilmunya turun menurun, ini saya ngomong apa adanya, terkadang ada kakak kelas yang merasa dibutuhkan, sehingga ia berbuat aneh, semisal senior bersedia mengajari junior kalau dibelikan makan. Terkadang loh, tidak semua begitu," pungkasnya. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

IDI Soroti Ketimpangan Penyebaran Dokter di Indonesia

IDI Soroti Ketimpangan Penyebaran Dokter di Indonesia

LIFESTYLE
Masih Jadi Kebiasaan, Dokter Ingatkan Bahaya Merokok setelah Makan

Masih Jadi Kebiasaan, Dokter Ingatkan Bahaya Merokok setelah Makan

LIFESTYLE
Polresta Malang Kota Pastikan Kasus Dokter AY Ditangani Transparan

Polresta Malang Kota Pastikan Kasus Dokter AY Ditangani Transparan

JAWA TIMUR
Data Pegawai BUMN hingga Dokter Penerima Bansos Perlu Diverifikasi

Data Pegawai BUMN hingga Dokter Penerima Bansos Perlu Diverifikasi

EKONOMI
PPATK: Data Dokter-Pegawai BUMN Penerima Bansos Masih Akan Bertambah

PPATK: Data Dokter-Pegawai BUMN Penerima Bansos Masih Akan Bertambah

NASIONAL
Mensos Ungkap Anggota DPR, Pegawai BUMN dan Dokter Terima Bansos

Mensos Ungkap Anggota DPR, Pegawai BUMN dan Dokter Terima Bansos

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon