ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kisah Haru Banjir Banjanegara: Ibunda Hilang, Yesi Majukan Pernikahan

Senin, 24 November 2025 | 10:27 WIB
PA
IC
Penulis: Pujud Andriastanto | Editor: CAH
Yesi Ananda dan calon suaminya Nur Hidayat memperlihatkan dokumen pernikahan yang baru saja ditandarangani di lokasi pengungsian, Gedung Haji Kecamatan Pandanarum
Yesi Ananda dan calon suaminya Nur Hidayat memperlihatkan dokumen pernikahan yang baru saja ditandarangani di lokasi pengungsian, Gedung Haji Kecamatan Pandanarum (Beritasatu.com/Pujud Andriastanto)

Banjarnegara, Beritasatu.com - Di balik duka panjang bencana longsor di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, terselip sebuah kisah haru. Seorang calon pengantin perempuan terpaksa memajukan hari pernikahannya bukan karena kurang persiapan, tetapi demi menunggu jenazah sang ibu yang hingga hari ke delapan operasi pencarian korban longsor belum juga ditemukan. 

Seorang calon mempelai pengantin perempuan bernama Yesi Ananda terpaksa memajukan jadwal pernikahan lantaran berharap sang ibu yang menjadi korban longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara ditemukan untuk menjadi saksi pernikahan meski sudah menjadi jenazah.

Yesi mengaku perasaannya bercampur aduk antara sedih kehilangan ibu, nenek serta paman dalam musibah longsor di desanya dan perasaan senang karena mengakhiri masa lajangnya dengan laki-laki pilihan hidupnya di pengungsian.

Mahasiswa Universitas Terbuka berusia 22 tahun itu menuturkan rencana menikah sudah ditetapkan pada 24 Desember 2025, tetapi rencana Tuhan berketetapan lain. Tiga anggota keluarganya menjadi korban dan hanya sang nenek yang sudah ditemukan jenazahnya, sedangkan ibu dan pamannya masih terus dalam pencarian.

ADVERTISEMENT

Yesi menginginkan untuk terakhir kalinya melihat sang ibu dalam kondisi apapun asal dihadirkan pada pernikahannya untuk menjadi saksi. Yesi juga ingin menggelar pernikahan secara sederhana yang dihadiri oleh keluarga yang tersisa.

Rupanya keputusan Yesi ingin menghadirkan jenazah sang ibu yang dicintai hadir menjadi saksi pernikahan didukung oleh calon suaminya Nur Hidayat. Bahkan sang suami bersedia menemani sang istri di pengungsian.

Masyarakat Pandanarum memiliki tradisi ratusan tahun bernama bata rubuh atau sambung watang. Saat keluarga garis nasab meninggal menjelang hari pernikahan, akad justru dimajukan. Ijab qabul digelar di hadapan jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir dan kepercayaan agar pasangan terhindar dari kesialan.

Kepala KUA Pandanarum membenarkan adanya permohonan menikah di pengungsian. Seluruh dokumen yang hilang akibat longsor sudah dipulihkan melalui arsip desa. Bahkan relawan turut membantu menyediakan mahar berupa seperangkat alat salat.

Mutolib mengatakan rencananya proses pernikahan sesuai tradisi batang rubuh akan dilaksanakan setelah jenazah ditemukan dan disucikan. 

“Kami mempermudah semuanya agar tidak terjadi pernikahan siri,” ujarnya.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon