ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Libur Nataru 2025, Yogyakarta Mengalami Overtourism

Sabtu, 3 Januari 2026 | 10:16 WIB
CN
S
Penulis: Chandra Adi Nurwidya | Editor: JTO
Puluhan ribu wisatawan memadati Tugu Pal Putih hingga Malioboro Yogyakarta menjelang malam tahun baru 2026.
Puluhan ribu wisatawan memadati Tugu Pal Putih hingga Malioboro Yogyakarta menjelang malam tahun baru 2026. (Beritasatu.com/Olena Wibisana)

Yogyakarta, Beritasatu.com - Hiruk pikuk wisatawan atau pelancong saat libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 membuat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami overtourism. Hal itu ditandai lonjakan wisatawan, kemacetan parah, serta tekanan sosial dan lingkungan di kawasan permukiman.

Tingginya harga tiket pesawat dan kemudahan akses infrastruktur darat memicu tren micro tourism atau wisata jarak dekat dengan biaya terjangkau di DIY. Selain itu, jutaan pelancong memadati jantung kota hingga sudut permukiman, membawa berkah finansial sekaligus tekanan sosial bagi warga lokal.

Peneliti Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) M Yusuf menilai, fenomena ini merupakan bentuk adaptasi wisatawan terhadap kondisi ekonomi. DIY dianggap sebagai pilihan paling rasional karena faktor keamanan dan kesiapan manajemen bencana yang matang.

"Wisatawan mempersepsikan DIY memiliki risiko kerawanan yang rendah sehingga arus kunjungan membeludak," ujar Yusuf, Sabtu (3/1/2026).

ADVERTISEMENT

Yusuf menegaskan, akses jalan tol yang memangkas waktu tempuh membuat Yogyakarta kian dominan bagi pasar wisatawan domestik. Namun, lonjakan ini membawa tantangan berupa kepadatan berlebih (overtourism) yang kerap terjadi pada masa liburan.

Data Dinas Perhubungan DIY mencatat lebih dari 850.000 kendaraan pribadi memasuki wilayah Yogyakarta selama periode Nataru hingga 31 Desember 2025. Arus lalu lintas didominasi pelat luar daerah yang memanfaatkan efisiensi waktu tempuh melalui jaringan tol Trans-Jawa.

Lonjakan volume kendaraan di gerbang masuk mencapai 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini memperparah kemacetan pada titik pusat kota dan mengonfirmasi fenomena overtourism yang kian sulit terelakkan setiap musim liburan.

Mitigasi dan Desa Wisata

Yusuf menekankan, daya tarik keamanan harus dibarengi dengan mitigasi bencana yang konkret. Pengelola destinasi wajib mengidentifikasi potensi bahaya dan menyiapkan prosedur tanggap darurat yang runut. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan publik dalam jangka panjang.

Pada sisi lain, ia mengkritisi wacana subsidi tiket pesawat yang dianggap tidak menyentuh akar persoalan. Menurut Yusuf, pemerintah seharusnya fokus menurunkan beban pajak suku cadang, biaya bandara, dan harga avtur guna menekan tarif penerbangan secara permanen.

Untuk mengurai kepadatan, pengembangan wisata pada hari kerja (weekdays tourism) perlu digalakkan, salah satunya melalui konsep health and wellness. Yusuf juga mendorong penguatan desa wisata sebagai ruang kerja bagi pekerja jarak jauh (remote worker) guna memutus ketergantungan pada pusat perbelanjaan.

"Kita harus berpihak pada masyarakat melalui desa wisata yang dikelola warga, daripada sekadar menghidupkan sektor kapitalis," katanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi potensi hujan lebat disertai angin kencang yang dapat memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah titik destinasi unggulan di Yogyakarta pada periode 28 Desember hingga 1 Januari 2026.

Peringatan ini menjadi krusial mengingat tingginya mobilitas kendaraan di jalur rawan seperti lereng Merapi dan pesisir selatan. Wisatawan diimbau terus memantau informasi cuaca secara berkala guna menghindari risiko bencana saat melakukan aktivitas luar ruang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dampak Sosial

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito menilai, fenomena ini sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, sektor perdagangan dan jasa skala kecil tumbuh pesat. Namun, pada sisi lain, tatanan sosial masyarakat terhimpit oleh beban mobilitas yang melampaui kapasitas.

"Muncul kemacetan akut dan interaksi sosial yang terlalu padat. Risiko lingkungan ini harus dipikirkan bersama," ujar Arie, Rabu (31/12/2025).

Bagi penduduk lokal, musim liburan berubah menjadi periode ketidaknyamanan. Akses jalan yang tersendat membuat aktivitas harian terganggu. Ruang publik yang semula berfungsi sebagai tempat interaksi warga, kini beralih fungsi menjadi komoditas wisata yang penuh sesak dan menyisakan persoalan sampah.

“Kemampuan mengelola sampah dan membangun budaya menjaga lingkungan yang bersih menjadi keharusan, karena pariwisata tidak cukup dilihat dari sisi pemasukan ekonomi semata,” tuturnya.

Keadilan Ekonomi Arie menyoroti pentingnya pemerataan distribusi ekonomi agar tidak memicu kecemburuan sosial. Ia memperingatkan agar keuntungan pariwisata tidak hanya bergulir di lingkaran pemodal besar, sementara pelaku usaha lokal hanya menjadi penonton.

"Pengusaha besar wajib memberdayakan pelaku lokal agar terjadi keseimbangan," tegasnya.

Pemerintah daerah dituntut tidak sekadar melihat pariwisata sebagai angka pemasukan daerah. Diperlukan desain kebijakan lintas wilayah antara kota dan kabupaten untuk mengatur tata ruang serta mobilitas secara jangka panjang.

Jika ketegangan antara kebutuhan warga dan arus pendatang tidak dikelola secara disiplin, identitas Yogyakarta sebagai kota yang nyaman dan humanis terancam luntur. Keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas hidup penduduk harus menjadi orientasi utama dalam pembangunan visi pariwisata masa depan.

Malioboro Idaman Pelancong

Kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, mencatat rekor kepadatan baru pada periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Arus kunjungan ke pusat jantung kota ini ditaksir telah melampaui angka satu juta jiwa, sebuah lonjakan hingga tiga kali lipat dibanding periode serupa tahun sebelumnya.

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta Fitria Dyah Anggraeni memprediksi puncak pergerakan massa akan menyentuh angka 1,5 juta orang. "Angka ini naik signifikan, bisa dikatakan tiga kali lipat dari tahun lalu," tuturnya, Rabu (31/12/2025).

Meski demikian, Fitria mengakui terdapat kendala teknis dalam pendataan secara presisi. Karakter kawasan Malioboro yang memiliki banyak pintu akses terbuka menyulitkan penghitungan jumlah individu secara terperinci atau door to door.

Metode Sampling Estimasi populasi pelancong tersebut saat ini mengandalkan data statistik dari dua titik belanja, yakni Teras Malioboro 1 dan 2. Pihak UPT menggunakan asumsi bahwa jumlah pengunjung di kedua lokasi tersebut mewakili sekitar 10 hingga 20 persen dari total mobilitas harian di seluruh selasar Malioboro.

Merujuk data tanggal 19-30 Desember 2025, tingkat kunjungan di kedua sentra UMKM tersebut stabil pada angka 15.000 hingga 18.000 orang per hari. Jika dikonversi menggunakan formula persentase tersebut, maka beban harian Malioboro berada di rentang 80.000 sampai 100.000 orang.

"Angka tersebut merupakan asumsi kasar yang kami pantau secara stabil setiap harinya," tambah Fitria.

Momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menjadi peluang untuk mendorong kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang dapat mendongkrak perekonomian Indonesia di penghujung 2025 hingga awal tahun 2026. - (Antara/Antara)
Momen libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 menjadi peluang untuk mendorong kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang dapat mendongkrak perekonomian Indonesia di penghujung 2025 hingga awal tahun 2026. - (Antara/Antara)

Sleman Alternatif Wisatawan

Sektor pariwisata Kabupaten Sleman mencatat capaian melampaui ekspektasi pada periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Data Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman menunjukkan total kunjungan mencapai 437.213 orang, jauh di atas target awal yang dipatok pada angka 300.000 wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Edy Winarya, mengungkapkan bahwa torehan ini mengukuhkan Sleman sebagai magnet utama di wilayah penyangga. "Capaian ini melampaui sasaran yang kami tetapkan, membuktikan daya tarik Sleman tetap kuat," ujarnya, Kamis (1/1/2026).

Lonjakan arus pelancong mulai merambat naik sejak Sabtu (20/12/2025) dan mencapai puncaknya tepat pada hari Natal dengan angka 56.935 orang. Tren kunjungan terus menguat hingga Sabtu (27/12/2025) yang mencatat angka tertinggi harian sebesar 59.279 kunjungan.

Keragaman Destinasi Edy menilai, performa positif ini didorong oleh variasi produk wisata yang lengkap dalam satu wilayah. Sleman menawarkan paket komplet mulai dari wisata alam di lereng Gunung Merapi, sentra edukasi, hingga puluhan desa wisata yang tersebar di berbagai kapanewon.

Dalam skala regional Daerah Istimewa Yogyakarta, Sleman memimpin pergerakan wisatawan di tingkat kabupaten. Sebagai perbandingan, Kabupaten Gunungkidul mencatat 286.514 kunjungan, disusul Bantul dengan 132.018 orang, dan Kulon Progo sebanyak 42.117 wisatawan.

Sementara itu, Kota Yogyakarta tetap menjadi episentrum utama dengan total serapan mencapai 897.862 pelancong. Tingginya angka di Sleman menunjukkan bahwa distribusi wisatawan mulai merata ke wilayah utara, mengurangi beban terpusat yang selama ini menumpuk di jantung kota.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tiada Kembang Api, Bupati Kendal Gelar Doa Bersama di Tahun Baru

Tiada Kembang Api, Bupati Kendal Gelar Doa Bersama di Tahun Baru

JAWA TENGAH
Arus Wisatawan Menuju Priangan Timur Padati Jalur Limbangan Garut

Arus Wisatawan Menuju Priangan Timur Padati Jalur Limbangan Garut

JAWA BARAT
Pengamanan Arus Balik Libur Nataru Diperpanjang

Pengamanan Arus Balik Libur Nataru Diperpanjang

NASIONAL
Penumpang Balik Nataru Padati Terminal Kampung Rambutan

Penumpang Balik Nataru Padati Terminal Kampung Rambutan

JAKARTA
Arus Balik Nataru di Stasiun Pasar Senen Melonjak Hari Ini

Arus Balik Nataru di Stasiun Pasar Senen Melonjak Hari Ini

JAKARTA
Arus Balik di Soekarno-Hatta Mulai Padat Hari Ini

Arus Balik di Soekarno-Hatta Mulai Padat Hari Ini

BANTEN

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon