ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bajong Banyu Magelang, Perang Air Sambut Ramadan Penuh Makna

Minggu, 15 Februari 2026 | 23:20 WIB
PS
BW
Penulis: Priyo Budi Santoso | Editor: BW
Tradisi Bajong Banyu di Magelang kembali digelar jelang Ramadan, Minggu 15 Februari 2026.
Tradisi Bajong Banyu di Magelang kembali digelar jelang Ramadan, Minggu 15 Februari 2026. (Beritasatu.com/Priyo Budi Santoso)

Magelang, Beritasatu.com — Warga Desa Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kembali menggelar tradisi unik Bajong Banyu atau perang air sebagai bagian dari ritual menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Minggu (15/2/2026).

Tradisi yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade itu selalu ditunggu masyarakat. Sepanjang jalan desa dipenuhi ratusan warga, terutama anak-anak dan remaja, yang saling menyiram air menggunakan ember, gayung, hingga kantong plastik. Meski basah kuyup, suasana tetap penuh tawa dan keakraban tanpa adanya perselisihan.

Bajong Banyu sendiri berkembang dari tradisi padusan, ritual mandi untuk membersihkan diri sebelum memasuki Ramadan. Prosesi dimulai dengan pengambilan air suci di Sendang Kedawung oleh para sesepuh desa. Air kemudian diarak menuju lapangan desa, diiringi Tari Pawitra sebagai simbol penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan.

ADVERTISEMENT

Setelah doa bersama dipanjatkan, perang air pun dimulai. Air tersebut menjadi simbol untuk membersihkan hati dari rasa iri, dendam, serta emosi negatif, sehingga warga bisa menyambut Ramadan dengan jiwa yang lebih bersih.

Sekretaris Desa Banjarnegoro, Sarjoko, menjelaskan tradisi ini merupakan pengembangan dari kebiasaan warga Dusun Dawung yang dahulu melakukan padusan di aliran Sungai Progo. Sejak 2003, para pemuda bersama Karang Taruna Desa Banjarnegoro mengemasnya menjadi kegiatan Bajong Banyu yang lebih meriah namun tetap mempertahankan nilai tradisi.

“Makna air ini sebagai simbol penyucian diri. Kita mengambilnya dari mata air yang dianggap suci sebagai gambaran membersihkan diri dan hati sebelum Ramadan,” ujar Sarjoko.

Ia menambahkan, filosofi utama kegiatan ini adalah membuang energi negatif melalui simbol lemparan air, sehingga masyarakat dapat memasuki bulan puasa dengan semangat kebersamaan.

Salah satu peserta, Fandi, mengaku selalu menantikan tradisi tersebut karena memberi kesempatan warga berkumpul dan bergembira bersama. “Seru, bisa main air bareng teman-teman. Saya sudah ikut beberapa kali,” katanya.

Kini, Bajong Banyu tak lagi sekadar tradisi lokal, tetapi juga mulai dikenal sebagai agenda budaya yang menarik perhatian wisatawan. Tradisi khas warga Magelang ini menjadi simbol harmoni sosial sekaligus penanda kesiapan masyarakat menyambut bulan Ramadan dengan hati yang lebih bersih.
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon