Pakar Pariwisata Harap Skema Libur dan Cuti Bersama Dikaji Ulang
Selasa, 21 Mei 2024 | 08:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Libur dan cuti bersama yang panjang memang memberikan keuntungan bagi sektor pariwisata dan hiburan karena dapat meningkatkan jumlah wisatawan, serta pendapatan dari sektor tersebut. Namun, libur dan cuti bersama yang terlalu panjang berdampak negatif bagi sektor lainnya. Misalnya, sektor manufaktur, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan logistik. Sektor-sektor ini mengalami penurunan produktivitas yang mengakibatkan kerugian finansial.
Menanggapi hal tersebut, pakar pariwisata sekaligus mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Sapta Nirwandar mengatakan, persoalan libur dan cuti bersama hasil keputusan pemerintah dengan pertimbangan mewujudkan efisien dan efektivitas hari kerja menjadi dilematis.
“Ini dilematis. Kalau untuk pariwisata banyak orang berlibur tentu banyak yang berwisata dan berpengaruh positif. Namun, dilihat lagi sisi lain yang tentu berdampak besar akibat libur dan cuti bersama ini yang bisa dibilang merugikan para pengusaha sektor lain,” katanya kepada Beritasatu.com, Senin (20/5/2024).
Maka dari itu, lanjut Sapta, kebijakan libur dan cuti bersama ini perlu dikaji ulang apakah sudah tepat atau belum. Ia mencontohkan, perusahaan-perusahaan yang tidak terkait pariwisata, saat ada hari libur dan cuti bersama karyawan berlibur dan hal ini tentunya mengurangi jam kerjanya serta pendapatan.
Namun, hal ini berbanding terbalik dengan perusahaan di bidang pariwisata dan hiburan karena akan menguntungkan dengan banyaknya jumlah wisatawan yang datang.
“Jadi sebenarnya hal ini merugikan perusahaan. Mungkin karena banyaknya hari libur dan cuti bersama, karyawan atau pekerja merasa tak perlu lagi jalan-jalan karena sudah sering dan hanya sekedar istirahat saja. Maka, hal ini yang perlu ada pengaturan yang seimbang,” papar dia.
Dikatakan Sapta, seharusnya setiap perusahaan bereproduksi dan menghasilkan pendapatan. Namun, karena kebijakan libur dan cuti bersama karyawannya harus libur sehingga tidak menghasilkan pemasukan.
Menurutnya, skema libur dan cuti bersama saat ini tidak sistematik dan sifatnya berjemaah. Seharusnya kebijakan ini perlu ditinjau ulang mana yang pantas diberikan libur dan cuti bersama dan tidak.
“Kalau di Prancis pernah ada yang namanya jembatan libur. Misal hari Kamis libur, jadi Jumat otomatis menyambung liburnya karena Sabtu Minggu masuk hari weekend libur juga. Namun, ini sangat sedikit dalam setahun,” urainya.
Sapta menambahkan, sementara di Indonesia banyak libur dan cuti bersama. Kemudian pelaksanaan pun tidak sistematis dan harus berjemaah.
"Artinya bersama-sama karena untuk perusahaan yang bukan di sektor pariwisata, pasti ini sangat berat. Jadi saya harap ini perlu ada kajian ulang. Jangan kebanyakan libur, yang berakibat banyak duit keluar daripada uang masuk,” pungkas Sapta Nirwandar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




