ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

8 Penyakit yang Mengintai karena Kualitas Udara Buruk di Jakarta

Senin, 24 Juni 2024 | 16:21 WIB
H
TE
Ilustrasi kanker paru.
Ilustrasi kanker paru. (Istimewa/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Jakarta tengah menghadapi ancaman serius karena kualitas udara yang buruk, yang dapat meningkatkan risiko penyakit bagi warganya.

Menurut data terbaru dari IQ Air, lembaga yang mengkaji kualitas udara global, tingkat polusi udara di Jakarta, terutama dari partikel PM2.5 dan gas seperti nitrogen dioksida (NO2), telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Partikel-partikel ini dapat dengan mudah masuk ke sistem pernapasan manusia, menyebabkan gangguan pernapasan, masalah jantung, dan bahkan meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru.

Dampak negatif dari polusi udara tidak hanya berpengaruh pada kesehatan pernapasan, tetapi juga telah dikaitkan dengan peningkatan kasus strok, gangguan neurologis, dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

ADVERTISEMENT

Situasi ini menunjukkan pentingnya mengambil langkah yang lebih serius dalam mengelola dan memperbaiki kualitas udara di Jakarta, demi kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang penduduk kota ini. Berikut ini delapan penyakit yang disebabkan kualitas udara buruk.

1. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
Tingkat polusi udara yang tinggi, terutama di lingkungan perkotaan yang padat, seperti Jakarta, dapat meningkatkan risiko individu terhadap ISPA, mengancam kesehatan masyarakat secara luas.

Langkah-langkah untuk memperbaiki kualitas udara dan mengurangi paparan polutan menjadi krusial dalam upaya pencegahan ISPA dan peningkatan kesehatan pernapasan masyarakat.

2. Kanker paru-paru
Kanker paru-paru adalah salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di Indonesia. Paparan polusi udara merupakan salah satu faktor risiko utama kanker paru-paru. Gejala kanker paru-paru pada awalnya mungkin tidak terlihat, tetapi seiring perkembangannya dapat meliputi batuk kronis, batuk berdarah, dan sesak napas.

3. Strok
Strok terjadi ketika aliran darah ke otak terputus atau berkurang. Polusi udara dapat meningkatkan risiko strok dengan cara yang sama seperti meningkatkan risiko penyakit jantung. Gejala strok meliputi mati rasa atau kelemahan mendadak di wajah, lengan, atau kaki, kebingungan, dan kesulitan berbicara.

4. Kerusakan pada sistem saraf
Partikel-partikel polutan seperti PM2.5 dan nitrogen dioksida (NO2) yang tersebar dalam udara dapat memasuki tubuh melalui pernapasan dan berpotensi merusak sistem saraf. Hal ini bisa menyebabkan berbagai gangguan neurologis, seperti pengurangan fungsi kognitif, peningkatan risiko strok, serta memperburuk kondisi neurodegeneratif seperti alzheimer dan parkinson.

5. Autisme
Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang dapat menyebabkan kesulitan dalam komunikasi dan interaksi sosial. Beberapa penelitian menunjukkan paparan polusi udara selama kehamilan dapat meningkatkan risiko autisme pada anak.

6. Kerusakan pada sistem reproduksi
Paparan udara buruk dapat merusak sistem reproduksi manusia dengan partikel polutan seperti PM2.5 dan bahan kimia beracun yang dapat masuk ke tubuh melalui pernapasan. Hal ini dapat mengakibatkan masalah, seperti penurunan kualitas sperma pada pria, gangguan hormonal pada wanita, serta meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan.

7. Diabetes
Udara yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko diabetes dengan merusak sel beta pankreas yang menghasilkan insulin, serta memicu peradangan dan stres oksidatif dalam tubuh. Polusi udara jangka panjang juga dapat memengaruhi metabolisme glukosa dan resistensi insulin, sementara nitrogen dioksida bisa memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur metabolisme.

8. Penyakit mata
Paparan udara buruk dengan partikel polutan dan zat kimia berbahaya dapat mengiritasi mata, menyebabkan gejala seperti mata merah, gatal, dan sensasi terbakar. Selain itu, polusi udara juga meningkatkan risiko terkena penyakit mata kronis, seperti konjungtivitis dan blefaritis, serta memperburuk kondisi seperti katarak dan degenerasi makula.

Tingkat polusi udara yang tinggi juga dapat memperparah gejala alergi mata terhadap debu atau serbuk sari. Karenanya, mengurangi polusi udara sangat penting untuk menjaga kesehatan mata dan mencegah masalah serius pada kesehatan mata.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Perbaiki Kualitas Udara, Transportasi Perkotaan Perlu Ditransformasi

Perbaiki Kualitas Udara, Transportasi Perkotaan Perlu Ditransformasi

NUSANTARA
Sampah hingga Limbah, Ini Deretan Masalah yang Kini Dihadapi KLH

Sampah hingga Limbah, Ini Deretan Masalah yang Kini Dihadapi KLH

NASIONAL
BMKG: Musim Kemarau dan Inversi Udara Picu Polusi Jabodetabek

BMKG: Musim Kemarau dan Inversi Udara Picu Polusi Jabodetabek

NASIONAL
Kasus ISPA di Palembang Melonjak, Polusi Udara Jadi Biang Kerok

Kasus ISPA di Palembang Melonjak, Polusi Udara Jadi Biang Kerok

LIFESTYLE
Anak Mulai Aktif Sekolah, Kemenkes Peringatkan Bahaya Polusi Udara

Anak Mulai Aktif Sekolah, Kemenkes Peringatkan Bahaya Polusi Udara

LIFESTYLE
Cerobong Asap Cemarkan Udara, Menteri Hanif Tutup Pabrik Baja

Cerobong Asap Cemarkan Udara, Menteri Hanif Tutup Pabrik Baja

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon