ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Potensi Laut Indonesia Belum Digali Sepenuhnya

Selasa, 2 Mei 2017 | 00:04 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Simposium The PRime 2017 yang bertajuk
Simposium The PRime 2017 yang bertajuk "Dukung Kemaritiman Indonesia dengan Komunikasi CSR" di Ruang Seminar Lantai 2 Kampus 3 Gedung Bonaventura UAJY, Sabtu 29 April 2017.

YOGYAKARTA–Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang menyimpan potensi laut hingga US$ 1,2 triliun per tahun. Dengan luas wilayah laut yang mencapai 70%, economic size PDB perikanan Indonesia di tahun 2013 mencapai Rp 291,79 triliun. Namun potensi laut Indonesia tersebut belum dapat digali sepenuhnya karena berbagai kelemahan dan hambatan yang dihadapi pemerintah.

Demikian dikemukakan Boy Rahardjo Sidharta (Penulis Buku "Budaya Maritim", "Bioteknologi Kelautan" dan Dosen Fakultas Teknobiologi UAJY) dalam Simposium The PRime 2017 yang bertajuk "Dukung Kemaritiman Indonesia dengan Komunikasi CSR" di Ruang Seminar Lantai 2 Kampus 3 Gedung Bonaventura UAJY, Sabtu (29/4).

Simposium tersebut merupakan rangkaian acara tahunan Communication Interest Festival (Comminfest) 2017 yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HMPSKom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY) pada 28 -29 April 2017.

Boy mengatakan hambatan itu seperti minim visi/ideologi budaya bahari/maritim, kawasan laut terlalu luas, IPTEK tidak dikuasai, korupsi dan illegal fisheries, ego sektoral, anggaran terbatas, dan lainnya.

ADVERTISEMENT

"Bayangkan laut Indonesia yang begitu luas hanya tersedia dua kapal selam, sedangkan Singapura yang wilayahnya kecilmempunyai enam kapal selam," tegas Boy.

Selain Boy, tampil juga sebagai pembicara Rizanto Binol (Client Service Director Ogilvy Public Relations Indonesia), Ir Sri Harnanto (Kepala Bidang Kelautan dan Pesisir Dinas Kelautan & Perikanan DIY), dan SAM August Himmawan (Operation Director of PT DASA Strategik Indonesia).

Acara tersebut dihadiri semifinalis kompetisi The Prime dan peserta umum. Para semifinalis berasal dari berbagai universitas di Indonesia seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Al-Azhar, Universitas Padjajaran, Universitas Sebelas Maret, Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta sendiri.

Keempat narasumber dalam simposium tersebut menyoroti tentang kemaritiman Indonesia dan komunikasi Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat saling berhubungan dan menjadi salah satu bentuk kegiatan baru dalam CSR. Hal itu senada dengan program pemerintahan Presiden Joko Widodo yang ingin menjadikan indonesia sebagai poros maritim dunia.

Rizanto Binol dalam kesempatan tersebut memaparkan bahwa dunia maritim dan perikanan mulai diperhatikan pada era Presiden Joko Widodo. Menurutnya salah satu syarat CSR adalah bisa diduplikasi di tempat lain dan berkelanjutan sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya saja perusahaan membuat kegiatan penanaman bakau di Pantai Parangtritis, maka kegiatan serupa dapat juga dilakukan di Pantai Baron. Namun sayangnya tidak banyak perusahaan yang melakukan CSR dan dikemas menjadi sebuah konten yang menarik untuk media komunikasi dan menunjang eksistensi perusahaan.

"Brand adalah sebuah janji, tidak hanya sebuah merek atau logo. Oleh karena itu, perusahaan mempunyai reputasi untuk melakukan janji tersebut," jelas Binol. (gor)



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon