ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tengah Diuji Viagra Perempuan Berupa Semprotan Hirup

Kamis, 1 November 2012 | 15:37 WIB
DU
B
Penulis: Dewi Ria Utari | Editor: B1
Ilustrasi perempuan menggunakan semprot hidung
Ilustrasi perempuan menggunakan semprot hidung (thehealthage)

Diperkirakan akan sama larisnya dengan viagra untuk lelaki.

Tak pernah menyangka bahwa semprotan hidung bisa sangat seksi? Well, sebentar lagi obat berbentuk semprotan hidung akan menjadi salah satu alat bantu seksual bagi perempuan. 

Sebuah produk semprot hirup yang bertujuan untuk meningkatkan gairah seksual perempuan tengah menjalani uji coba klinis di Australia dan Kanada. Para peneliti dari Australia mencoba merekrut 100 perempuan di usia 18 dan 49 tahun untuk mencoba obat tersebut.

Obat tersebut, yang bernama Tefina adalah jel testosterone yang diserap ke dalam tubuh melalui hidung. Menurut ONENews, jel itu akan terserap dalam beberapa menit dan berdampak pada libido perempuan dalam beberapa jam. 

Semprotan ini ditujukan untuk mengobati Female Orgasmic Disorder (FOD) yang didefinisikan oleh manual diagnosa dalam Asosiasi Psikologi Amerika sebagai “penundaan yang tetap atau yang sering terjadi atau hilangnya orgasme.”

Viagra, obat dari Pfizer yang diperkenalkan pada 1998 untuk mengobati disfungsi ereksi, menghasilkan hampir US$2 miliar per tahun di Amerika Serikat, menurut ONENews, jadi beralasan untuk memprediksi bahwa versi perempuan akan menghasilkan uang tak kalah besarnya. 

Dan obat semprot hidung untuk gairah perempuan ini dinilai bisa mengatasi FOD yang menjadi masalah kebanyakan perempuan – dengan sebuah survei 2011 menemukan bahwa perempuan memiliki orgasme setengah dari jumlah orgasme yang dialami lelaki – dan perlu bantuan (medis) untuk mengatasinya.

“Disfungsi seksual pada perempuan adalah masalah nyata dan kami berpikir lebih dari 43 persen mengalami disfungsi seksual. Banyak orang berpikir bahwa mengangkat ide ‘Viagra' perempuan hanya untuk perusahaan obat. Kenyataannya, ada kebutuhan besar bagi perempuan untuk mengatasi disfungsi seksualnya,” ujar Dr. Fiona Jane dari Monash University dari Melbourne pada ONENews. 

Meski demikian, masih banyak keraguan tentang ide pengobatan atas seberapa sering perempuan harus orgasme. “Gelombang terkini terhadap pengobatan lebih banyak terkait dengan isu ekonomi. Ada lebih banyak keterlibatan industri sekarang ini,” kata Lenoer Tiefer, Ph.D, profesor klinis dari bagian psikiatri di NYU Langone Medical Center. 

Dan sebuah film dokumenter pada tahun 2009, Orgasm Inc., mengklaim bahwa perusahaan obat “kemungkinan mencoba mencari keuntungan pada perempuan (dan berpotensi membahayakan kesehatan mereka ) dalam mengejar keuntungan miliaran dolar. 

 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon