Ini Kaitan Perang Rusia-Ukraina dengan Keluarga Miskin di Indonesia
Senin, 24 Juli 2023 | 19:05 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah Redjalam, menyatakan bahwa perang di Ukraina telah membawa dampak bagi rumah tangga di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Dampaknya terlihat dari kenaikan harga pangan dan bahan bakar karena terganggunya rantai pasokan (supply chain). Situasi ini disebabkan oleh berlanjutnya perang Rusia-Ukraina yang hingga saat ini belum mereda.
"Pengaruhnya sudah terlihat sejak awal perang. Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung cukup lama," ungkap Piter. Ia menegaskan bahwa hanya perdamaian yang adil dan berkelanjutan yang mampu menggerakkan kembali pasar dan mengurangi ketidakpastian ekonomi global, termasuk di Indonesia.
Invasi penuh Rusia ke Ukraina telah mempengaruhi harga energi global dengan tingkat yang belum pernah terlihat sejak tahun 1970-an. Sebagai produsen batubara terbesar di dunia, Indonesia mendapatkan pangsa pasar baru yang signifikan di pasar internasional setelah Uni Eropa memberlakukan sanksi terhadap ekspor energi dari Rusia.
Tetapi, perang juga menyebabkan harga impor minyak dan gas meningkat hampir dua kali lipat. Efeknya, harga bahan bakar minyak bersubsidi di Indonesia meningkat lebih dari 30 persen sejak perang dimulai.
Bahan bakar memegang peran penting dalam produksi barang dan jasa, terutama dalam industri pangan. Sementara itu, inflasi tahunan untuk makanan di Indonesia mencapai 10,3 persen pada Juli 2022, mencatatkan tingkat tertinggi sejak 2014.
Kenaikan biaya makanan ini jelas mengurangi daya beli masyarakat, terutama mereka yang termasuk dalam kelompok miskin dan rentan, yang sebagian besar anggarannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan.
Salah satu contoh kenaikan harga dalam kaitannya dengan perang Rusia-Ukraina adalah harga minyak goreng. Pada April 2022, harga minyak goreng mencapai puncaknya sebesar Rp 24.400 per kilogram atau naik 64% dalam setahun, sebelum akhirnya turun. Kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan permintaan minyak kelapa sawit (CPO) dari negara-negara importir, serta berkurangnya ketersediaan substitusi, seperti minyak goreng dari Rusia dan Ukraina.
Faktor lain yang mempengaruhi harga pangan adalah kenaikan harga pupuk. Gangguan pada rantai pasok pupuk global menyebabkan produsen pupuk di Indonesia menghadapi kenaikan biaya input sebesar lebih dari 14% pada akhir 2022. Hal ini juga membuat Indonesia semakin bergantung pada impor pupuk dari Rusia, yang mengalami peningkatan sebesar 72% dari Maret hingga Desember 2022 dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah Indonesia memberikan subsidi pupuk kepada petani yang memenuhi syarat. Namun, peraturan yang dikeluarkan pada Juli 2022 mengakibatkan pengurangan jenis pupuk bersubsidi (dari lima menjadi dua) dan jenis komoditas yang berhak menerima manfaat dari subsidi (dari 70 komoditas menjadi sembilan).
Akibatnya, sejak invasi Rusia terjadi, petani Indonesia harus membayar harga yang empat kali lebih mahal untuk beberapa jenis pupuk. Kemungkinan besar, biaya ini akan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga pangan yang lebih tinggi.
Perang Rusia-Ukraina juga telah mempengaruhi perdagangan bilateral antara Indonesia dan Ukraina. Sebelum invasi, perdagangan bilateral bernilai hampir US$ 1,5 miliar AS. Namun, perdagangan ini mengalami penurunan hingga 90% sejak perang pecah.
Jika perdamaian tercapai, perdagangan dapat pulih kembali, menciptakan lapangan kerja baru, dan membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Dalam situasi perdamaian, ada banyak sektor di mana perdagangan bilateral dan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Ukraina dapat berkembang, terutama sektor pertanian dan teknologi informasi.
Ukraina dikenal sebagai keranjang roti dunia dan merupakan salah satu pengekspor gandum terbesar kelima di dunia. Indonesia adalah pasar kedua terbesar bagi Ukraina, terutama dalam impor gandum yang membantu memenuhi permintaan mie yang tinggi di Indonesia.
BACA JUGA
Ganjar Pranowo Ajak Relawan Perangi Hoaks dan Manfaatkan Medsos dalam Kampanye Pilpres 2024
Selain itu, Ukraina juga merupakan pasar potensial untuk ekspor minyak kelapa sawit, kopi, teh, dan coklat dari Indonesia. Terdapat lebih dari 4.000 perusahaan teknologi di Ukraina yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi teknologi dan digital Indonesia.
Maka dari itu, Piter Abdullah meyakini bahwa terciptanya perdamaian di Ukraina akan membawa dampak positif bagi Indonesia. Perdamaian akan mengurangi ketidakpastian ekonomi dan membuka peluang baru untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan perdagangan antara kedua negara. Dengan demikian, Indonesia juga akan semakin sejahtera melalui stabilitas dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




