Sambut Hari Santri Nasional 2023, Ini Peran Mereka dalam Kemerdekaan Indonesia
Minggu, 22 Oktober 2023 | 08:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober, yang menjadi momen penting untuk terus menghormati peran besar para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Namun, tidak banyak masyarakat yang tahu peran santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hal itu terjadi karena minimnya buku-buku sejarah yang menorehkan kisah perjuangan santri dalam perebutan negara dari belenggu penjajah. Dilansir dari jurnal Islam Nusantara, berikut peran santri dalam kemerdekaan Indonesia.
Peran Santri dalam Kemerdekaan Indonesia
Saat Indonesia masih berada di bawah penjajahan kolonial, para santri telah menjadi salah satu sumber utama semangat perlawanan terhadap penjajah. Pendidikan yang mereka terima di pesantren, sekolah Islam tradisional, bukan hanya mengajarkan agama, tetapi juga nilai-nilai nasionalisme.
Santri dikenal dengan ketaatannya pada ajaran Islam, yang juga memasukkan unsur-unsur patriotisme dan perjuangan untuk keadilan sosial. Mereka memahami perjuangan melawan penjajah adalah bagian dari tanggung jawab sebagai muslim Indonesia.
Berperang Melawan Penjajah
Selama masa penjajahan kolonial, kelompok yang secara konsisten menentang penjajahan adalah para ulama dan santri. Mereka berusaha menjaga tradisi untuk melakukan perlawanan kepada penjajahan kolonial.
Tradisi perlawanan ini tidak hanya didasarkan pada pembelaan terhadap salah satu pihak, tetapi karena tindakan kolonial Belanda yang menindas dan mengganggu tegaknya agama Islam.
Banyak ulama dan santri yang tak pernah berhenti berjuang melawan penjajahan kolonial. Kondisi ini menciptakan sebuah momen penting dalam sejarah Indonesia, yaitu perang Jawa Diponegoro.
Dalam pasukan Pangeran Diponegoro, selain para bangsawan, terdapat banyak ulama dan santri dari berbagai daerah di Jawa. Mereka adalah orang-orang yang kemudian melanjutkan perjuangan setelah Pangeran Diponegoro ditangkap.
Dalam dokumen-dokumen berbahasa Jawa dan Belanda, sebanyak 108 kiai, 31 haji, 15 syekh, 12 penghulu dari Yogyakarta, dan 4 kiai guru yang ikut bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro.
Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, mereka melancarkan perlawanan dengan mendirikan basis-basis perlawanan, seperti masjid dan pesantren di daerah yang jauh dari pusat-pusat kekuasaan Belanda.
Beberapa pesantren tua di Jawa, terutama di Jawa Timur, menjadi penjaga sejarah ini dengan menyimpan catatan-catatan penting mengenai peristiwa tersebut.
Pada saat Perang Dunia II dan Jepang menguasai Hindia Belanda, para ulama terus berijtihad agar kemerdekaan Indonesia segera terwujud. Dengan memanfaatkan kelemahan Jepang yang terjepit oleh sekutu, para ulama mencoba membangun persiapan-persiapan menyongsong kemerdekaan, dengan membentuk laskar-laskar. Laskar yang populer dikalangan masyarakat adalah laskar Hizbullah dan Sabilillah.
Pada 22 Oktober 1945, ditetapkan seruan resolusi jihad yang dihasilkan santri dan ulama pondok pesantren dari berbagai provinsi Indonesia berkumpul di Surabaya. Resolusi jihad ini dikumandangkan sebagai jawaban para tokoh ulama pesantren yang didasarkan atas dalil Islam yang mewajibkan setiap muslim untuk membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan penjajah.
Hingga pasca proklamasi kemerdekaan, Indonesia masih dikelilingi oleh para penjajah yang ingin kembali menjajah. Para santri dan ulama turut menjadi garda terdepan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pertempuran 10 November 1945 pasca proklamasi, laskar ulama santri dari berbagai daerah menjadi garda depan pertempuran. Resolusi Jihad juga membahana di Semarang dan sekitarnya, bahkan telah mengiringi keberhasilan dalam perang Sabil Palagan Ambarawa.
Para laskar ulama santri juga terus melakukan pertempuran mempertahankan daerahnya masing-masing termasuk di tanah Pasundan dan daerah-daerah lainnya.
Selain ikut andil dalam perjuangan fisik, santri dan ulama juga ikut berperan dalam merumuskan dasar negara melalui organisasi Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dalam bahasa Jepang dikenal dengan dokuritsu junbi chōsa-kai.
Diantara para anggota BPUPKI terdapat para santri yang terlibat, seperti KH Abdul Wahid Hasyim, KH Mas Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo.
Peran Pasca-Kemerdekaan
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, para santri terus berperan dalam pembentukan negara yang baru. Mereka terlibat dalam proses pendidikan, pembangunan infrastruktur, meningkatkan nilai-nilai moral, dan etika dalam masyarakat.
Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah adalah organisasi yang didirikan oleh para santri, serta terus berkontribusi dalam membangun bangsa dengan berbagai program sosial juga pendidikan.
Peran santri tidak berhenti setelah selesainya penjajahan, tetapi akan terus berlanjut dengan mengisi kemerdekaan, seperti mengaji, mengkaji ilmu agama, dan ilmu lainnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




