ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Suhu Mencapai 48 Derajat Celcius Jadi Hambatan Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas

Minggu, 9 Juni 2024 | 07:03 WIB
TP
AD
Penulis: Teguh Adi Prasetyo | Editor: AD
Ilustrasi haji 
Ilustrasi haji  (Pexels)

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Nasional Disabilitas, Deka Kurniawan, mengungkapkan bahwa suhu tinggi dan cuaca panas yang mencapai 48 derajat celsius di Arab Saudi menjadi tantangan besar bagi jamaah haji lansia dan disabilitas. Kondisi ekstrem ini memerlukan perhatian khusus agar para jamaah dapat melaksanakan ibadah dengan aman dan nyaman.

"Dengan kondisi cuaca saat ini di Saudi yang cukup tinggi, suhunya di siang hari bisa mencapai 48 derajat celsius. Ini menjadi salah satu tantangan yang membuat kegiatan jamaah haji di tanah suci mengalami kendala," dalam keterangannya kepada Beritasatu.com di Arab Saudi, Sabtu (8/6/2024).

Selain itu, lonjakan jumlah haji yang drastis dari berbagai penjuru dunia juga menjadi kekhawatiran. Kepadatan ini menambah tantangan dalam hal logistik dan pelayanan, khususnya bagi jamaah dengan kebutuhan khusus seperti lansia dan penyandang disabilitas.

ADVERTISEMENT

"Tantangan selanjutnya dari segi kepadatan, karena tahun ini diperkirakan jumlahnya akan melonjak secara drastis dibanding dengan tahun lalu. Banyak juga jamaah haji yang tidak resmi. Meski Arab Saudi sudah menerapkan kebijakan khusus untuk memperketat jamaah haji, tetapi tidak bisa terkontrol 100%, sehingga ini menjadi tantangan kurang kondusif," sambung Deka.

Tantangan lainnya adalah kurangnya akomodasi transportasi berupa shuttle bus yang mengantarkan para jamaah untuk ibadah harian ke beberapa titik lokasi. Keterbatasan transportasi ini menyebabkan pelaksanaan ibadah haji tidak maksimal, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik dan memerlukan dukungan mobilitas tambahan.

"Kalau yang kami pantau di lapangan, akses yang belum terpenuhi bagi penyandang disabilitas adalah transportasi yang memadai. Saat ini, transportasi baru sekadar ada saja, sehingga para jamaah haji lansia dan disabilitas tidak semuanya bisa ke Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah-ibadah harian mereka. Jumlah transportasi yang tersedia tidak memenuhi kapasitas kebutuhan," tutur Deka.

Dalam kondisi ini, menurut Deka, para penyandang disabilitas masuk dalam kategori uzur atau disabilitas sehingga tidak diwajibkan melaksanakan ibadah lima waktu ke lokasi bersejarah atau masjid-masjid yang sulit dijangkau. Kebijakan ini membantu meringankan beban mereka dalam menjalankan rangkaian ibadah haji.

"Akhirnya, dalam konteks pemenuhan hak penyandang disabilitas dan lansia yang masuk kategori uzur, mereka tidak lagi diwajibkan untuk melaksanakan ibadah harian sholat lima waktu di Masjidil Haram," jelasnya.

Namun, dalam situasi ini, pemerintah Arab Saudi telah mengantisipasi langkah-langkah agar para jamaah dapat beribadah dengan nyaman. Berbagai fasilitas dan pelayanan tambahan disiapkan untuk memastikan bahwa jamaah haji, termasuk yang lansia dan penyandang disabilitas, dapat menjalankan ibadah mereka dengan lebih mudah dan aman.

"Pemerintah Arab Saudi juga sudah menyiapkan semprotan air dan tiang-tiang yang menyemprotkan air. Fasilitas ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, tetapi sekarang ditambah dengan spot-spot baru yang membuat suasana lebih kondusif," pungkas Deka.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Menag Pastikan Pemulangan Jemaah Haji Berjalan Lancar

Menag Pastikan Pemulangan Jemaah Haji Berjalan Lancar

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon