ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Iman dan Istikamah

Kamis, 13 Maret 2025 | 19:00 WIB
MA
WT
Penulis: Muzna Attamimi | Editor: WS
Sejumlah umat Islam berdoa usai melaksanakan salat.
Sejumlah umat Islam berdoa usai melaksanakan salat. (B Universe Photo / Joanito De Saojoao)

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya: Dari Abu ‘Amr, ada yang menyebut pula Abu ‘Amrah, Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istikamahlah.” 

Biasanya sesuatu itu ada dua bagian: teori dan praktik. Hadis ini menjelaskan bahwa Islam juga memiliki dua bagian.  Teorinya iman, sedangkan aplikasi atau bagian praktiknya adalah istiqamah. Teori dan iman itu mudah karena tempatnya hanya di hati dan di mulut. Sedangkan istikamah atau praktik itu berat karena harus dibuktikan dengan kerja nyata.

Salat berjemaah itu mudah teorinya, anak kecil pun bisa paham dan mengerti. Tapi praktiknya berat. Meski orang tahu semua dalilnya, belum tentu ia rajin salat berjamaah.

ADVERTISEMENT

Memaafkan itu teorinya mudah. Hampir setiap kali kita menganjurkan orang yang berkelahi untuk saling memaafkan. Tapi saat kita yang berkelahi dan diminta memaafkan lawan, maka berat sekali kita lakukan.

Jika kita menggunakan statistik, maka orang-orang yang beriman akan terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama imannya 100 persen, tapi istikamahnya hampir 0 persen. Kelompok kedua imannya 100 persen dan istikamahnya 50 persen. Kelompok ketiga iman dan istikamah masing-masing serratus persen. Sayangnya, jumlah kelompok pertama dan kedua selalu lebih besar dan lebih banyak. Yang paling sedikit selalu kelompok tiga.

Kenapa banyak orang beriman, tapi kurang bisa istikamah? Setidak-tidaknya mungkin ada tiga alasan:

Dalam diri setiap orang ada hawa nafsu

Sifat hawa nafsu cenderung mencari yang tercepat, termudah dan menguntungkan dirinya sendiri. Sementara agama berbanding terbalik. Agama melarang kita mengutamakan diri sendiri, meskipun itu mudah dan cepat. 

Saat mencari uang, maka hawa nafsu kita mencari jalan menguntungkan dirinya sendiri tanpa peduli dengan orang lain. Hawa nafsu cenderung mencari jalan paling cepat dan mudah. Maka korupsi, menipu, menyuap adalah jalan yang disukai oleh hawa nafsu karena bisa memberi hasil cepat, mudah dan menguntungkan diri sendiri meskipun merugikan orang lain. Allah berfirman:

وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. Yusuf: 53)

Sementara agama melarang korupsi, menipu dan menyuap meski itu cepat, mudah dan menguntungkan pribadi, karena itu merugikan orang lain. Maka orang yang mengaku beriman namun tidak istiqamah adalah orang-orang yang dikalahkan oleh hawa nafsunya.

Pola Zaman yang serba instan.

Zaman sekarang dinamakan zaman instan. Artinya segala sesuatu dilakukan serba mudah dan cepat. Makanan diperoleh dengan mudah dan cepat. Telekomunikasi mudah dan cepat. Transaksi mudah dan cepat. Serba mudah dan cepat ini rupanya gaya hidup juga merasuk pad acara orang beragama. Beragama yang cenderung mencari jalan yang mudah dan cepat.

Mau salat cari masjid yang mudah dan paling cepat imamnya selesai. Datang paling lambat, tetapi pulang paling cepat.Ceramah agama menjadi tidak bisa lama-lama, maksimal hanya 20 menit. 

Kalau dulu jemaah salat tarawih masih banyak yang menunaikan 20 rakaat. Sekarang hampir berubah mencari yang ringkas dan cepat. Dulu baca doa dan zikir orang panjang-panjang. Sekarang doa dan wiridnya hanya sepanjang sms. Dulu, orang masih berlama-lama ke masjid salaman dan saling menyapa. Sekarang salam, berdiri, lalu keluar. 

Ciri lain zaman instan ini adalah bahwa tidak ada yang tetap dan bertahan lama. Semua harus berubah dan berganti seketika. Pakaian berganti model. Ponsel dijual ganti, kendaraan ditukar tambah, rumah tidak pernah sepi renovasi. Semuanya agar tidak ketinggalan percepatan tren zaman.

Tadinya cuma ikut tren lalu berangsur menjadi gaya hidup yang susah dilepaskan. Kemudian gaya seperti ini berpengaruh pula pada masalah agama. Hampir semua pengadilan agama sekarang mengeluhkan jumlah tingkat perselingkuhan bukan hanya pada pasangan muda, tapi juga pada pasangan tua. 

Itu salah satu dampak dari gaya hidup masyarakat yang cepat bosan dan cenderung berubah pada pasangan. Masjid-masjid tidak berhenti digonta-ganti penampilannya secara fisik, padahal jamaahnya semakin sepi. Dai dan penceramah pun dipaksa mengikuti selera kekinian, bukan lagi mementingkan esensi materi yang disampaikan. 

Zaman kita sekarang dinamai juga zaman individualis, dimana tiap orang cenderung memikirkan diri sendiri. Tetangga lebih peduli pada pekerjaan daripada tetangganya sendiri. Orangtua lebih akrab dengan kantornya ketimbang anaknya sendiri. Suami lebih nyaman bersama rekan bisnisnya ketimbang bersama istrinya. Istri lebih bahagia bersama sinetronnya daripada suaminya. Anak-anak lebih enjoy bersama gamenya daripada ngobrol dengan kedua orangtuanya. Di rumah cenderung urus diri sendiri. Di masjid juga urus diri sendiri.

Banyak orangtua yang rela membuang anaknya sendiri. Ada ayah menjual anaknya sendiri. Ada suami menjual istrinya sendiri. Ada anak menuntut ibunya sendiri di pengadilan.

Gaya hidup instan dan individualis ini sejalan dengan hawa nafsu manusia, tapi banyak bertentangan dengan agama. Salat dengan metode cepat itu tentu bertentangan dengan agama. Gaya hidup hedonis tidak sejalan agama. Berselingkuh tidak senafas dengan agama.

Intinya, zaman sekarang orang beriman harus berusaha istiqamah menghadapi tantangan dari dalam dan luar dirinya. Dari dalam, tantangannya bernama hawa nafsu dan dari luar bernama tren gaya hidup. 

Beragama itu beda dengan bersekolah.

Bersekolah itu aturannya punya batas waktu dan ruang. Di luar jam sekolah, kita tidak perlu ikuti aturan yang ada di sekolah. Tapi beragama itu tidak memiliki batas waktu dan ruang. Kita harus beragama sepanjang hari, minggu, bulan bahkan seumur hidup. Sebagaimana firman Allah:

وَاعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتّٰى يَاۡتِيَكَ الۡيَـقِيۡنُ

Artinya: Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu. (Q.S. Al-Hijr: 99)  

Kita harus beragama saat makan, berpakaian, tidur, mandi, bekerja, dan berumahtangga. Beragama tidak mengenal batas ruang. Anda harus beragama di masjid, di pasar, di kantor, atau di lapangan. Itu berarti agama adalah hidup dan hidup adalah agama. Allah berfirman:

قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ

Artinya: Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya shalatku, ibadahku,  hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. (Q.S. Al-An’am: 162)

Ini  berarti bahwa ketika orang memilih beriman kepada Allah, maka dia harus rela ikut aturan Allah pada setiap senti dari kehidupannya. Kita tidak bisa memilih-milih aturan sesuai dengan selera kita seperti layaknya memilih baju. Agama adalah satu kesatuan aturan yang tidak bisa dipisah-pisah. Jika kita terima bahwa Allah memerintahkan kita mendirikan salat sebagaimana firman-Nya:

وَاَقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارۡكَعُوۡا مَعَ الرّٰكِعِيۡنَ

Artinya: Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk. (Al-Baqarah: 43)

Maka kita juga harus taat ketika Allah memerintahkan kita untuk tidak berbuat curang saat berdagang. Allah berfirman:

وَاَقِيۡمُوا الۡوَزۡنَ بِالۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُوا الۡمِيۡزَانَ

Artinya: dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. (Q.S. Ar-Rahman: 9)

Jika kita senang ketika Allah memerintahkan kita untuk haji dan umrah karena Allah.

وَاَتِمُّوا الۡحَجَّ وَالۡعُمۡرَةَ لِلّٰهِؕ

Artinya: Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. (Q.S. Al-Baqarah: 196)

Maka kita juga harus senang ketika Allah memerintahkan kita untuk berjihad karena Allah.

وَجَاهِدُوۡا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖ‌ؕ

Artinya: Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (Q.S. Al-Hajj: 78)

Lantas bagaiman seorang mukmin mampu istiqamah dalam kondisi seperti ini?

Pemain bola professional, pembalap motogp, pemain tenis, semua memulai karir dengan latihan paksa dan lama-kelamaan bisa terlatih tanpa paksaan, karena akhirnya menjadi kebiasaan. Istiqamah pun demikian. Awalnya harus dipaksakan, lalu bisa kemudian biasa.

Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI)

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon