Kisah Warga Aceh Selamatkan Soemitro Ayah Prabowo Subianto
Senin, 26 Mei 2025 | 11:50 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Prabowo Subianto ternyata memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Aceh. Dahulu, ayahnya Soemitro Djojohadikoesoemo pernah diselamatkan oleh rakyat Aceh saat diburu oleh rezim Orde Lama.
“Jika Jokowi memiliki hubungan emosional dengan Aceh karena dia merantau ke Aceh dan bekerja di PT KKA pada 1986-1988. Sedangkan Prabowo memiliki orang tua yang dibantu oleh warga Aceh,” kata sejarawan nasional Muhammad Adli Abdullah di Jakarta, Senin (26/5/2025).
Soemitro Djojohadikoesoemo berasal dari keluarga ningrat Jawa. Ia sosok ekonom ternama, mengikuti jejak ayahnya Raden Mas Margono Djojohadikusumo yang juga seorang tokoh ekonomi Indonesia.
Pada masa Orde Lama, Soemitro salah satu menteri dan tokoh yang mendukung masuknya investor asing ke Indonesia. Akibatnya, ia ditekan oleh Soekarno dan politisi Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sangat berpengaruh dalam pemerintahan kala itu.
Soemitro akhirnya bergabung ke Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat pada 1958. Ia diangkat sebagai menteri perhubungan dan pelayaran.
PPRI yang diprakarsai oleh Ahmad Husen dan Sjafruddin Prawiranegara memberontak kepada Soekarno. Mereka menuntut pembubaran Kabinet Djuanda dan pembentukan pemerintahan sementara di bawah kepimpinan Mohamdad Hatta dan Sultan Hamengkubuwono IX.
Dengan bergabung dan menjadi menteri PPRI, praktis Soemitro menjadi salah satu target penangkapan oleh rezim Soekarno. Saat itulah warga Aceh menyelamatkan Soemitro dan keluarganya.
“Ketika posisi PRRI terjepit, daripada dipenjara oleh rezim Soekarno, Soemitro menyelamatkan diri ke Aceh. Lalu tokoh Aceh melarikan Soemitro ke Penang selanjutnya ke Singapura,” ujar Adli Abdullah.
Menurut Adli, Soemitro sangat berterima kasih kepada masyarakat Aceh. Bahkan anak bungsunya yang lahir pada 5 Juni 1954 diberi nama Hashim Djojohadikusumo yang berasal dari nama Kapolda Aceh saat itu Komisaris Polisi Kelas I Muhammad Hasyim (1945-1946).
Hashim yang saat ini menjabat sebagai utusan khusus presiden bidang iklim dan energi merupakan adik kandung Prabowo Subianto. Pemberian nama itu sebagai bentuk pengingat atas kebaikan Muhammad Hasyim yang turut membantu keluarganya.
Soemitro kemudian tinggal di Singapura. Bahkan Prabowo Subianto menamatkan sekolah dasar di The Dean School, Singapura pada 1957-1960.
Soemitro kemudian pindah ke Hong Kong dan Prabowo melanjutkan pendidikan di Glenealy Junior School hingga lulus pada 1962. Dari Hong Kong, Soemitro pindah lagi ke Malaysia. Prabowo ikut orang tuanya dan menamatkan SMP di Victoria Institute, Kuala Lumpur (1962-1964).
Soemitro tidak kembali ke Indonesia hingga Orde Lama tumbang. Ia tinggal di berbagai negara, termasuk Thailand, Prancis, dan Swiss.
Ketika Orde Baru berkuasa, Presiden Soeharto mengutus tokoh intelijen Ali Moertopo untuk membujuk Soemitro kembali ke Indonesia.
Setelah Soemitro diberikan paspor untuk balik ke Indonesia, tokoh pemimpin Aceh Abu Daud Beureueh bertemu Soeharto untuk menanyakan bagaimana dengan nasib Hasan Tiro yang paspornya sudah dicabut oleh Soekarno pada 1950-an.
“Soeharto pun memberikan paspor RI kepada Hasan Tiro di New York dan pulang ke Aceh pada 1972,” tutur Adli.
Kepulangan Hasan Tiro ke Aceh ternyata memberi masalah baru pemerintahan Soeharto. Hasan mendeklarasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk melawan Indonesia yang dianggap bertindak semena-mena terhadap Aceh.
Soemitro yang sudah kembali ke Indonesia kemudian dipercaya oleh Soeharto menjadi menteri perindustrian dan perdagangan periode 1968 sampai 1973. Kemudian Soemitro diangkat menjadi menteri riset.
Soemitro juga berperan dalam pendirian Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (USK), perguruan tinggi terbesar di Aceh. Soemitro bahkan menjadi salah satu pengajar atau dosen terbang di fakultas tersebut pada tahun 1990-an.
Saat silaturahmi dengan ulama Aceh dan tokoh masyarakat di Banda Aceh pada Desember 2023, Prabowo Subianto mengatakan, ayahnya sangat bangga dengan Aceh.
"Beliau jadi dosen terbang dan sangat bangga, selalu cerita kepada kami bahwa beliau terbang ke Aceh dan memberi kuliah," kata Prabowo.
Menurutnya, Soemitro Djojohadikoesoemo telah berjuang bersama rakyat Aceh dengan saling mendukung di masa-masa sulit pada era pergolakan 1950-an. Prabowo mengatakan ayahnya tidak pernah melupakan kebaikan orang Aceh.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




