Kementras-Kementan Kolaborasi Kembangkan Sapi Emas Tropis di NTT
Jumat, 6 Juni 2025 | 15:09 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Dalam rapat teknis bersama Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr drh Agung Suganda, Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menyoroti pentingnya kontribusi Kementerian Transmigrasi (Kementras) dalam mewujudkan kemandirian bangsa melalui swasembada pangan yang tertera sebagai salah satu poin Asta Cita.
"Dari amanat ini Kementerian Transmigrasi harus berkontribusi dalam mewujudkan program yang menjadi prioritas pembangunan nasional ini,” kata Wamen Viva di Kalibata, Jakarta, Kamis (5/6/2025).
Kedatangan tim Kementerian Pertanian (Kementan) ke Kementras kemarin bertujuan menjajaki kerja sama dalam meningkatkan produksi susu dan daging nasional melalui sinergi investasi sapi emas tropis. Peningkatan produksi ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan reguler dan program makan bergizi gratis (MBG).
BACA JUGA
Kabur Aja Dulu Jadi Trending Topik, Wamen Viva Yoga Ajak Anak Muda Ikut Program Transmigrasi
Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani tersebut, pemerintah berencana mengimpor sebanyak 1 juta ekor sapi pedaging dan 1 juta ekor sapi perah selama periode 2025 hingga 2029. Sapi-sapi tersebut akan dikembangkan dan ditempatkan di berbagai kawasan, baik yang berada di bawah Kementan maupun kementerian lain yang menjalin kerja sama.
Sebagai kementerian yang mengelola hak pengelolaan lahan (HPL) seluas 3.135.770,11 hektare, Kementras dipilih sebagai mitra strategis oleh Kementan untuk mengembangkan produksi sapi perah dan pedaging.
Oleh karena itu, dalam rapat dibahas mengenai kawasan transmigrasi yang akan menjadi lokasi penempatan dan pengembangan sapi. Kementras berencana menjadikan kawasan transmigrasi Melolo di Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai pilot project atau proyek percontohan.
Kawasan ini dipilih karena topografi Pulau Sumba dengan savana luas sangat potensial untuk pengembangan sapi perah dan pedaging. Iklim di kawasan tersebut bahkan disebut lebih baik dibandingkan kawasan Australia bagian utara. Selain itu, budaya masyarakat setempat juga menjadi pendukung.
“Budaya masyarakat di sana yang banyak menjadi peternak juga sangat mendukung,” tambah Wamen Viva.
Sapi yang akan disebar merupakan sapi impor dari Brasil yang memiliki keunggulan kemampuan hidup di daerah tropis, berbeda dengan sapi impor lainnya yang biasanya memerlukan iklim dingin.
"Sapi dari Brasil ini bisa dikembangkan di Sumba," tegasnya.
Viva kembali menegaskan dalam kerja sama ini, pihaknya bertanggung jawab menyiapkan lahan dan sumber daya manusia, yaitu transmigran. Skema kerja sama menggunakan pola inti dan plasma, Kementrans bekerja sama dengan Kementan serta pihak swasta untuk mengelola peternakan sapi perah dan pedaging.
“Kami akan bekerja sama dengan Kementan dan pihak swasta untuk mengelola peternakan sapi perah dan pedaging. Kerja sama ini pastinya untuk mengembangkan kawasan transmigrasi sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi”, pungkas Wamen Viva.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




