ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Petani Makin Langka, Dosen UGM Ajak Anak Belajar Pertanian Sejak Dini

Selasa, 1 Juli 2025 | 09:46 WIB
CN
DM
Penulis: Chandra Adi Nurwidya | Editor: DM
Penggunaan drone untuk menyemprot lahan pertanian
Penggunaan drone untuk menyemprot lahan pertanian (Beritasatu.com/Chandra Adi Nurwidya)

Yogyakarta, Beritasatu.com - Jumlah petani di Indonesia terus menurun selama satu dekade terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), usaha pertanian perorangan turun dari 31,70 juta pada 2013 menjadi 29,34 juta pada 2023, atau turun 7,45% secara nasional.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), angkanya bahkan lebih mengkhawatirkan, yaitu penurunan mencapai 26,26% atau sekitar 153.000 petani meninggalkan sektor ini. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Dwi Apri Nugroho menilai krisis regenerasi petani dan penyusutan lahan adalah dua persoalan serius yang harus segera ditangani.

“Alih fungsi lahan sangat cepat, terutama di Jawa. Sementara itu, rata-rata usia petani kita sudah 50 tahun. Tanpa regenerasi, siapa yang bertani 10-20 tahun lagi?” katanya, Senin (30/6/2025).

ADVERTISEMENT

Menurut Bayu, penyebab menurunnya jumlah petani bukan hanya karena konversi lahan, tetapi juga profesi petani dianggap tidak menarik dan tidak menjanjikan dari sisi ekonomi.

Untuk itu, Bayu menekankan pentingnya mengubah paradigma masyarakat terhadap dunia pertanian. Salah satu caranya adalah dengan memperkenalkan teknologi dan inovasi pertanian sejak bangku sekolah dasar.

“Kita bisa mulai mengenalkan alat pertanian modern, seperti drone, sejak dini agar muncul ketertarikan anak-anak terhadap dunia pertanian,” jelasnya.

Bayu menilai program "petani milenial" yang sudah ada belum cukup efektif bila hanya bersifat proyek atau slogan semata. Solusi jangka panjang harus masuk ke dalam kurikulum pendidikan sejak TK hingga SMA.

“Memberikan contoh langsung melalui proyek percontohan yang menunjukkan bertani dengan teknologi bisa sejahtera. Itu kunci utamanya,” tambahnya.

Bayu juga mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat ekosistem pertanian yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Langkah tersebut penting dilakukan untuk menjamin distribusi pangan, ketersediaan stok, dan harga yang stabil serta menguntungkan petani.

“Ekosistem yang baik akan memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus membuat pertanian kembali diminati generasi muda,” tegas Bayu.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Legislator Dorong Gudang Bulog Lebih Dekat dengan Petani

Legislator Dorong Gudang Bulog Lebih Dekat dengan Petani

EKONOMI
Pemerintah Komitmen Jaga Petani Tetap Untung dan Harga Terjangkau

Pemerintah Komitmen Jaga Petani Tetap Untung dan Harga Terjangkau

EKONOMI
Mentan Amran Sebut Program MBG Serap Hasil 165 Juta Petani

Mentan Amran Sebut Program MBG Serap Hasil 165 Juta Petani

NASIONAL
Mentan: 160 Juta Petani dan Peternak Suplai Kebutuhan Dapur MBG

Mentan: 160 Juta Petani dan Peternak Suplai Kebutuhan Dapur MBG

EKONOMI
NTP Februari Naik 1,5 Persen, Bukti Kesejahteraan Petani Meningkat

NTP Februari Naik 1,5 Persen, Bukti Kesejahteraan Petani Meningkat

EKONOMI
Kendalikan Alih Fungsi Lahan, Mentan Lindungi Sawah dan Petani Kecil

Kendalikan Alih Fungsi Lahan, Mentan Lindungi Sawah dan Petani Kecil

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon