Banjir Sumatera, Menteri PPPA Usul Tenda Keluarga untuk Pengungsi
Senin, 22 Desember 2025 | 22:58 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mengusulkan penerapan tenda berbasis keluarga bagi warga terdampak bencana banjir bandang dan longsor di wilayah Sumatera. Usulan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan rasa aman para pengungsi, khususnya perempuan dan anak, sekaligus mencegah potensi terjadinya kekerasan di lokasi pengungsian.
"Kami mengusulkan koordinasi bahwa tenda berbasis keluarga. Ini untuk mengantisipasi terjadinya kemungkinan adanya kekerasan," ujar Arifah Fauzi di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (22/12/2025) sore.
Selain penyediaan tenda berbasis keluarga, Kementerian PPPA juga mendorong adanya pemisahan fasilitas toilet antara laki-laki dan perempuan di area pengungsian. Menurut Arifah, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan spesifik bagi kelompok rentan yang terdampak bencana.
"Yang ketiga adalah kami juga mengusulkan toilet yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Jadi ini yang prioritas kami lakukan," kata Arifah.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut sejalan dengan mandat Kementerian PPPA dalam memastikan perlindungan perempuan dan anak di tengah situasi darurat. Lingkungan pengungsian yang aman dan ramah keluarga dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah terjadinya kekerasan berbasis gender maupun kekerasan terhadap anak.
Lebih lanjut, Arifah menyampaikan, pihaknya tengah menyiapkan langkah lanjutan berupa pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi bagi warga terdampak bencana. Program tersebut akan disesuaikan dengan potensi serta kearifan lokal di masing-masing daerah.
"Saat ini kami sedang mempersiapkan kira-kira apa yang akan kami lakukan untuk penguatan perempuan-perempuan, karena habis semuanya. Penguatan ekonomi akan kita lakukan berbasis kearifan lokal masing-masing," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Arifah menegaskan, pemerintah pusat terus bersinergi dan berkolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat di wilayah bencana. Langkah tersebut juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Ketika bencana itu terjadi kami langsung koordinasi dari kementerian dengan dinas terkait. Posisi perempuan-perempuan ada dimana, posisi anak-anak ada di mana yang bisa kita jangkau, kita lakukan trauma healing dan yang prioritas adalah pemenuhan kebutuhan spesifik bagi perempuan dan anak," ungkap Menteri Arifah.
Upaya ini diharapkan dapat menciptakan sistem penanganan pengungsi yang lebih humanis, aman, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat perlindungan perempuan dan anak di tengah kondisi darurat akibat bencana alam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




