Kisah Rayyan Shahab yang Raih 15 Kampus Top Dunia pada Usia 17 Tahun
Minggu, 5 April 2026 | 08:14 WIB
Pekalongan, Beritasatu.com — Ahmad Ali Rayyan Shahab, siswa MAN Insan Cendikia Pekalongan, mencatat prestasi internasional dengan memperoleh 15 letter of acceptance (LoA) dari universitas bergengsi dunia pada usia 17 tahun.
Surat penerimaan resmi tersebut berasal dari 15 kampus yang tersebar di enam negara, yakni Amerika, Kanada, Inggris, Belanda, Selandia Baru, dan Australia.
Sebagian besar universitas yang menerima Rayyan masuk jajaran kampus 10 besar hingga 50 besar dunia. Beberapa kampus yang menerima Rayyan antara lain University Of California, San Diego (UCSD) untuk jurusan Geoscience, University of California, Davis jurusan Environmental Engineering, dan University of British Columbia jurusan Bachelor of Applied Engineering dan Bachelor of Sustainability.
Rayyan juga diterima di University of Toronto jurusan Physical and Environmental Science, University of Waterloo jurusan Honours Environmental Engineering, Co-op, McGill University jurusan Bachelor of Engineering in Bioresource Engineering, Wageningen University & Research jurusan BSc Environmental Science, University of Manchester jurusan Environmental Science, serta University of Auckland jurusan Bachelor of Science in Environmental Science.
Rayyan mengungkapkan, pencapaian tersebut berangkat dari dorongan kuat keluarga sejak kecil untuk memiliki visi global.
“Sejak kecil saya dimotivasi oleh orang tua untuk go global. Diajak nonton di TV atau internet tentang dunia luar. Dibacain atau suruh baca tentang dunia luar. Saya takjub. Hal ini seakan ter-patri bahwa saya harus meraih cita-cita untuk go global,” ujar Rayyan, Minggu (5/4/2026).
Remaja kelahiran Jakarta itu mengatakan pesan orang tua menjadi energi utama dalam proses belajarnya.
Ia mengaku sejak sekolah dasar sering mendapat dorongan untuk melampaui capaian pendidikan kedua orang tuanya. Ayahnya berasal dari Sumenep dan pernah kuliah di UNS Solo, sedangkan ibunya berasal dari Palembang dan lulus dari UI.
“Rayyan harus lebih baik dari abah dan umik, lolos di kampus top dunia,” kata Rayyan menirukan pesan keluarganya.
Motivasi tersebut mendorongnya mempelajari bahasa Inggris secara mandiri tanpa kursus. “Saya tidak pernah kursus, hanya dari belajar di sekolah, baca buku, nonton, mendengarkan musik dan berani bicara berbahasa Inggris,” ujarnya.
Langkah menuju pendidikan global mulai nyata ketika Rayyan mengikuti program pertukaran pelajar AFS selama 10 bulan di Finlandia saat duduk di kelas XI MAN Insan Cendikia Pekalongan.
Di Finlandia, ia tinggal bersama keluarga angkat, belajar di sekolah internasional, dan berinteraksi dengan siswa dari berbagai negara. “Di Finlandia saya merasakan dan belajar banyak hal. Termasuk bagaimana sistem pendidikan dan tips untuk bisa lolos di perguruan tinggi luar negeri (PTLN),” katanya.
Ia menambahkan pengalaman akademik dan nonakademik di Finlandia memberinya banyak bekal, terutama dalam bidang lingkungan.
“Alhamdulillah secara akademik guru di Finlandia memberikan apresiasi dan rekomendasi. Begitu pun di kegiatan nonakademik, banyak hal yang saya dapatkan. Khususnya tentang ilmu dan teknik lingkungan. Seperti pengelolaan sampah, air, dan lainnya,” ujar Rayyan.
Sepulang ke Indonesia, ia aktif mencari informasi pendaftaran universitas luar negeri, mengikuti pameran pendidikan, berdiskusi dengan keluarga, serta mempersiapkan tes internasional seperti IELTS dan SAT.
Selain prestasi akademik, Rayyan juga aktif dalam kegiatan lingkungan. Ia tergabung dalam alumni AFS, memimpin angkatan, aktif di Green Generation dan Greenfaith, serta menjadi co-founder organisasi lingkungan di sekolah.
“Saya bersama teman-teman mendirikan organisasi Atma Bawana tentang pengelolaan sampah di sekolah berasrama. Alhamdulillah banyak teman dan adik-adik kelas yang terlibat dengan penuh semangat. Dukungan dari Ustadz Khairul Anam sebagai kepala MAN ICP dan guru sangat berarti. Bahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Pekalongan yang mengetahui aksi ini memberikan apresiasi. Semua ini ‘dilaporkan’ dalam proses seleksi masuk PTLN,” ujar Rayyan.
Saat ini Rayyan sedang mengajukan beasiswa LPDP Garuda dan berharap dapat melanjutkan pendidikan di salah satu kampus terbaik dunia agar ilmu yang diperoleh kelak dapat diterapkan untuk Indonesia.
Bagi Rayyan, mimpi harus diperjuangkan sejak dini dan tidak cukup hanya ditunggu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




