Apa Itu Kiswah? Simak Sejarah dan Proses Pembuatan Kain Penutup Ka'bah
Selasa, 14 April 2026 | 09:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kiswah selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Ka'bah dan ibadah haji. Setiap tahun, kain hitam berbordir emas ini diganti dalam sebuah prosesi yang disaksikan jutaan umat Islam di Masjidilharam, Mekkah.
Pergantian tersebut bukan hanya menghadirkan pemandangan yang megah, tetapi juga menggambarkan kesakralan ibadah yang sedang berlangsung. Di tengah lautan jemaah, momen ini terasa khusyuk sekaligus penuh makna.
Lebih dari sekadar tradisi, kiswah mencerminkan penghormatan terhadap Baitullah dan kesinambungan sejarah Islam yang telah terjaga selama berabad-abad.
Apa Itu Kiswah?
Secara etimologis, kiswah dalam bahasa Arab berarti pakaian atau penutup tubuh. Dalam praktiknya, istilah ini merujuk secara khusus pada kain yang menyelimuti Ka'bah, yang juga dikenal dengan sebutan ghilaf.
Kiswah dibuat dari sutra hitam murni dan dihiasi kaligrafi ayat-ayat Al-Qur'an menggunakan benang emas dan perak. Tingginya mencapai sekitar 14 meter dan terdiri dari 47 panel kain yang dijahit menjadi satu kesatuan utuh.
Pada bagian atas terdapat sabuk yang disebut hizam dengan lebar sekitar 95 sentimeter yang melingkari Ka'bah sepanjang kurang lebih 46 meter. Sabuk ini memuat kaligrafi ayat Al-Qur'an dengan gaya tulisan Al-Tsuluts menggunakan benang emas.
Pada setiap sudut Ka'bah terdapat medali bundar yang berisi surah Al-Ikhlas. Sementara itu, penutup pintu Ka'bah yang dikenal sebagai sitara dibuat dari sutra hitam dan dihiasi ayat-ayat Al-Qur'an serta ornamen khas seni Islam.
Sejarah Kiswah dari Masa ke Masa
Tradisi menutup Ka'bah sebenarnya telah ada sejak sebelum Islam. Sebagian besar catatan sejarah menyebut Raja Tubba Abu Karib As'ad dari Kerajaan Himyar di Yaman sebagai sosok pertama yang menutup seluruh Ka'bah menggunakan kain bergaris merah dari wilayah Ma'afir di distrik Ta'izz.
Setelah masa tersebut, siapa pun dapat menutup Ka'bah dengan kain pilihan mereka. Hal ini sempat menyebabkan penumpukan lapisan kain hingga hampir merusak struktur bangunan karena beratnya.
Dalam perkembangan berikutnya, kiswah juga disebut dipersiapkan oleh Raja Himyar lainnya, As’ad Abu Karb Al-Humairi. Bahan yang digunakan terus berkembang, mulai dari kain qibathi buatan pengrajin Koptik Mesir hingga sutra halus pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan.
Sebelum penaklukan Mekkah, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak diizinkan oleh kaum Quraisy untuk menutup Ka'bah. Setelah peristiwa penaklukan pada tahun 8 Hijriah, Nabi SAW menutup Ka'bah dengan kain dari Yaman.
Kiswah yang ada sebelumnya sempat terbakar ketika seorang perempuan mencoba mengharumkannya dengan dupa. Dalam penjelasan Direktur Eksekutif Ashraful Aid Maulana Suhail Wadee disebutkan:
“Para sejarawan menyebutkan bahwa seorang wanita mencoba meletakkan dupa. Dupa itu terbakar lalu diganti. Nabi Muhammad SAW menutupinya dengan kain Yaman bergaris merah dan putih. Para Khalifah berikutnya, Abu Bakar, Umar, dan Utsman Ra, menutupinya dengan kain putih,” ujarnya, dikutip dari Salamedia, Selasa (14/4/2026).
Khalifah Umar bin Khattab kemudian menjadi pemimpin pertama yang mengirimkan kiswah dari Mesir, menggunakan kain linen putih yang dikenal sebagai qubathi.
Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan, kiswah mulai menggunakan sutra halus dan bahkan dikirim dua kali dalam setahun, satu dari sutra dan satu dari qubathi.
Perubahan penting terjadi pada masa Khalifah Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah yang menetapkan bahwa kiswah hanya boleh satu lapis dan harus diganti setiap tahun. Kebijakan ini menghentikan praktik penumpukan kain yang sebelumnya terjadi.
Warna kiswah juga mengalami berbagai perubahan. Pada masa awal Islam hingga tiga khalifah pertama, warnanya putih. Pada periode Abbasiyah, warnanya pernah merah dan putih.
Ketika Sultan Seljuk berkuasa, kiswah menggunakan brokat kuning. Khalifah Al-Nasir kemudian mengubahnya menjadi hijau sebelum akhirnya menetapkan warna hitam sekitar tahun 1224 Masehi.
“Pada masa Abbasiyah, warnanya pernah putih dan pernah merah. Ketika Sultan Seljuk menutupinya, mereka menutupinya dengan brokat kuning. Ketika Khalifah Abbasiyah Al-Nasir menutupinya, beliau mengubahnya menjadi hijau dan kemudian diubah lagi menjadi brokat hitam. Warna ini tetap bertahan hingga saat ini,” katanya.
Sejak abad ke-13 pada masa Dinasti Ayyubiyah, produksi kiswah terpusat di Mesir dengan bahan baku dari Sudan, India, dan Irak. Pada 1817, Muhammad Ali Pasya mendirikan pabrik khusus di Kairo.
Kiswah kemudian dikirim ke Mekkah melalui prosesi Mahmal, yakni konvoi unta yang membawa kiswah dalam peti sutra berhias emas dan perak dengan pengawalan khusus.
Produksi kiswah mulai berpindah ke Mekkah pada 1927 atas perintah Raja Abdulaziz Al-Saud. Produksi sempat kembali ke Mesir karena faktor politik, hingga akhirnya sejak 1962 seluruh produksi dipusatkan di Mekkah.
Proses Pembuatan Kiswah
Pembuatan kiswah merupakan proses kompleks yang berlangsung sepanjang tahun dan melibatkan ratusan tenaga ahli.
Saat ini, kiswah diproduksi di pabrik khusus di kawasan Umm Al-Joud, Mekkah, yang berdiri sejak 1972 dan diresmikan pada 1975. Pabrik ini memiliki fasilitas modern sekaligus mempertahankan teknik tradisional.
Sekitar 240 tenaga kerja terlibat, termasuk teknisi, desainer, dan pengrajin. Dari jumlah tersebut, lebih dari 100 orang fokus pada tahap bordir.
Proses pembuatan terdiri dari beberapa tahapan utama:
- Benang sutra alami yang diimpor dicelup warna hitam selama sekitar 22 jam.
- Benang kemudian ditenun secara mekanis menjadi lembaran kain.
- Kain dicetak dengan pola kaligrafi.
- Kaligrafi disulam secara manual menggunakan benang emas dan perak.
- Seluruh panel dijahit menggunakan mesin besar berukuran 16 x 14 meter.
Untuk satu kiswah dibutuhkan sekitar 670 kilogram sutra alami dan hingga 120 kilogram benang emas dan perak, meskipun beberapa sumber menyebut angka sekitar 50 kilogram.
Total luas kain mencapai lebih dari 650 meter persegi atau sekitar 600 meter kain. Proses bordir saja memakan waktu antara 6 hingga 10 bulan.
Biaya pembuatannya diperkirakan mencapai sekitar 20 juta riyal Saudi atau sekitar US$ 4,5 juta hingga US$ 6 juta.
Pabrik ini memproduksi dua set kiswah setiap tahun, satu untuk Ka'bah dan satu sebagai cadangan atau untuk kebutuhan lain seperti penutup makam Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.
Kapan dan Bagaimana Kiswah Diganti?
Penggantian kiswah dilakukan setiap tahun pada tanggal 9 Zulhijah, bertepatan dengan hari Arafah ketika jemaah haji berada di Padang Arafah.
Prosesnya dilakukan secara bertahap. Kiswah baru diangkat ke bagian atas Ka'bah, sementara tali pengikat kiswah lama dilonggarkan sehingga kain lama turun perlahan.
Penggantian dilakukan pada keempat sisi Ka'bah secara bergantian hingga seluruh bagian tertutup oleh kiswah baru.
Sebelum proses ini, Ka'bah dibersihkan menggunakan air zamzam dan air mawar. Pembersihan juga dilakukan secara rutin dua kali dalam setahun.
Setelah terpasang, kiswah dijahit dan diperkuat pada 16 titik utama serta beberapa titik tambahan agar tetap kokoh.
Kiswah lama tidak dibuang. Kain tersebut dipotong-potong dan dibagikan kepada negara-negara Muslim, lembaga keagamaan, museum, hingga tokoh tertentu. Sebagian kecil juga tersedia bagi kolektor resmi.
Kiswah memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Ia bukan sekadar kain penutup, melainkan simbol penghormatan terhadap Ka'bah sebagai rumah Allah.
Kaligrafi yang menghiasi kiswah, termasuk syahadat “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah”, menjadikannya sebagai representasi keimanan yang nyata.
Bagi jemaah haji dan umrah, menyentuh kiswah saat thawaf menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.
Penggantian kiswah setiap tahun juga melambangkan pembaruan iman serta kesinambungan tradisi Islam dari generasi ke generasi.
Kiswah bukan hanya kain penutup Ka'bah, melainkan simbol sejarah, seni, dan spiritualitas Islam yang terus hidup hingga kini. Dari perjalanan panjang lintas zaman hingga proses pembuatannya yang detail dan penuh ketelitian, kiswah mencerminkan penghormatan mendalam umat Islam terhadap Baitullah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




