ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Eijkman Kembangkan Metode Praktis Ukur Antibodi Plasma Konvalesen

Kamis, 11 Februari 2021 | 22:17 WIB
NW
B
Penulis: Natasia Christy Wahyuni | Editor: B1
Petugas PMI menunjukan plasma konvalesen hasil donor pasien sembuh Covid-19 di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI DKI Jakarta, Selasa, 19 Januari 2021.
Petugas PMI menunjukan plasma konvalesen hasil donor pasien sembuh Covid-19 di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI DKI Jakarta, Selasa, 19 Januari 2021. (Beritasatu Photo/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com - Institut Eijkman sedang mengembangkan metode praktis untuk mengukur kadar antibodi dalam plasma konvalesen. Terapi Covid-19 dengan menggunakan plasma konvalesen saat ini memasuki uji klinis tahap II dan III, sedangkan dalam uji klinis tahap I telah diperoleh hasil positif untuk membantu kesembuhan pasien Covid-19.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro mengatakan Eijkman menjadi institusi terdepan dalam penelitian plasma konvalesen. Salah satunya untuk melakukan pengukuran kadar antibodi plasma konvalesen.

"Artinya, ketika pendonor memberikan plasmanya maka harus dicek apakah plasma yang diberikan mempunyai kadar antibodi cukup untuk diberikan ke pasien yang sedang menderita Covid-19," kata Bambang saat membuka webinar "Penanganan Covid-19: Harapan pada Plasma Konvalesen", Kamis (11/02/2021).

Menurut Bambang, Eijkman melakukan pengukuran kadar antibodi dalam plasma konvalesen lewat Plaque Reduction Neutralization Test (PRNT) yang memang menjadi gold standard. Namun, penggunaan PRNT secara terus-menerus akan menelan biaya mahal dan rumit secara prosedur karena memerlukan Laboratorium Bio Safety Level (BSL) 3.

ADVERTISEMENT

"Tim Eijkman mencoba Elisa atau target method, yaitu metode lebih praktis untuk mengukur kadar antibodi dengan melakukan evaluasi terhadap reagen-reagen yang sudah ada di pasaran," kata Bambang.

Dia mengatakan, pengukuran kadar antibodi yang lebih praktis diharapkan akan mempercepat proses pengambilan keputusan untuk memberikan plasma konvalesen kepada penerima.

"Dengan waktu lebih cepat kita bisa menyelamatkan lebih banyak orang apalagi donornya jumlah cukup," kata Bambang.

Bambang berharap uji klinis atas plasma konvalesen bisa segera diselesaikan dan disampaikan lewat publikasi saintifik agar bisa dipahami oleh ahli kesehatan atau dokter di seluruh dunia.

"Mudah-mudahan bisa mendapatkan rekomendasi atau pengakuan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) agar bisa menjadi salah satu terapi standar yang bisa dipakai untuk mengurangi kematian dan meningkatkan kesembuhan," lanjutnya.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon