Dokter Tirta Sarankan Pemerintah Perkuat Peran Posyandu
Sabtu, 13 Februari 2021 | 21:01 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan angka stunting Indonesia turun menjadi 14% pada 2024. Presiden menunjuk Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai leading sector untuk penanganan stunting.
Merespons hal tersebut, dr Tirta Mandira Hudhi mengatakan, penyebab stunting ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sangat berkaitan dengan gizi. Tirta mendorong pemerintah untuk kembali perkuat peran posyandu.
"Kegiatan posyandu sempat dihentikan sejak awal pandemi hingga Agustus 2020 dan kembali dijalankan per November. Ini untuk lebih diperkuat lagi. Melalui posyandu dapat mengontrol kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi pada anak hingga menangani curhatan dari orang tua yang mengalami tekanan psikologi akibat pembelajaran jarak jauh," kata Tirta kepada Beritasatu.com, Sabtu (13/2/2021).
Tirta mengatakan, program posyandu kembali dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Pada situasi pandemi ini, kata Tirta, sangat berisiko terjadinya peningkatan angka stunting. Pasalnya, pandemi Covid-19 telah berdampak pada ekonomi keluarga yang konsekuensi lanjutannya pada pemenuhan kebutuhan gizi anak dan orang tua.
"Pandemi ini banyak yang terdampak secara ekonomi akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). Ini tentu berdampak pada gizi anak ketika orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan untuk tumbuh kembang anak," ungkap Tirta.
Dengan adanya posyandu, menurut Tirta, tentu masalah-masalah tersebut dapat ditangani. Pemerintah juga dapat menggunakan posyandu untuk edukasi tentang bahaya Covid-19. Melalui posyandu, segala kendala ditemui akan diinformasikan kepada puskesmas. Lalu dari puskesmas, masalah tersebut dapat disampaikan ke dinas kesehatan dan pemerintah daerah (pemda).
"Ada posyandu maka orang tua mengadu anak gizi kurang ke posyandu. Laporan dari posyandu ini diteruskan ke puskesmas. Lalu dari puskesmas melaporkan ke dinas kesehatan dan diteruskan ke Pemda. Dari situ kelihatan orang-orang yang terdampak PHK dan masih memiliki anak bisa dibantu langsung. Jadi titik utama posyandu," kata Tirta.
Selanjutnya, Tirta juga mendorong BKKBN bersama Kementerian Kesehatan (Kemkes), dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk bekerja sama membuat program konsultasi dengan menempatkan psikolog atau psikiater di setiap puskesmas.
Tirta mengatakan, dengan kehadiran psikiater dan psikolog ini memberi ruang untuk orang tua untuk berkonsultasi terkait perkembangan anak berbagai kendala lain dialami dalam mendidik anak.
Menurut Tirta sangat penting untuk mengetahui perkembangan anak bukan hanya dari fisik, melainkan perkembangan mental juga. Selain itu, posyandu dapat menjadi tempat untuk memberi edukasi tentang vaksin, penyakit menular, sanitasi, lingkungan, dan hal lainnya yang sedang terjadi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




