Kampanye Global Dampak Industri Budi Daya Ikan Bagi Lingkungan
Kamis, 25 Maret 2021 | 13:40 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kampanye global "The World Day for the End of Fishing", yang bertujuan untuk menginformasikan konsumen mengenai pola konsumsi yang lebih sadar dan bertanggung jawab dalam mengkonsumsi ikan dan makanan laut, juga diluncurkan di Indonesia minggu ini.
Kampanye yang diikuti 164 organisasi di seluruh dunia ini dibuat oleh organisasi yang berasal dari Swiss, Pour l'Égalité Animale "Untuk Kesetaraan Hewan" (PEA) pada tahun 2016, dan tahun ini difokuskan pada dampak budi daya ikan, atau disebut juga dengan istilah akuakultur.
"Banyak konsumen percaya bahwa praktik akuakultur dipandang lebih berkelanjutan daripada penangkapan ikan di laut, padahal ini merupakan kesalahpahaman besar," ujar Fernanda, Direktur Kebijakan Pangan dan Kesejahteraan Hewan Sinergia Animal dalam rilisnya, Kamis (24/3/2021).
Sinergia Animal adalah organisasi perlindungan hewan yang didedikasikan untuk memerangi praktik terburuk industri peternakan di negara-negara Dunia Selatan dan mempromosikan pilihan makanan yang lebih welas asih.
Menurutnya budi daya ikan, udang, dan jenis hewan air lainnya sebenarnya bisa lebih berbahaya. Hampir 1.100 miliar ikan ditangkap di laut setiap tahun hanya untuk memberi makan hewan budi daya seperti salmon yang notabene adalah karnivora atau tilapia yang merupakan jenis ikan omnivora.
Dalam kasus salmon, misalnya, diperkirakan dalam perhitungan industri, untuk menghasilkan 1 kg dagingnya, diperlukan lebih dari 800 gram ikan, dan jumlah ini bahkan tidak memperhitungkan bycatch, atau hewan laut yang secara tidak sengaja ditangkap dalam penangkapan ikan di laut.
Dikatakan akuakultur menyumbang 47% dari total produksi ikan di seluruh dunia dan diramalkan akan hampir melampaui total dari semua perikanan tangkap pada tahun 2024.
Pertumbuhan yang cepat menimbulkan kekhawatiran di antara para ilmuwan dan aktivis, yang mengklaim bahwa hal tersebut merugikan bagi lingkungan, dan juga berisiko bagi kesehatan masyarakat dan kejam terhadap hewan.
"Tambak ikan sering kali terdiri dari kolam yang kotor, dengan kualitas air yang buruk. Ikan menjadi sasaran segala jenis penyakit dan dimakan hidup-hidup oleh segala jenis parasit, mulai dari kutu laut parasit hingga jamur dan virus," jelas Fernanda.
Investigasi yang dirilis minggu ini oleh LSM Compassion in World Farming menunjukkan salmon dengan luka terbuka dan mengalami kebutaan di Skotlandia, produsen terbesar ketiga dari spesies ini di dunia.
Untuk mencegah terjangkitnya penyakit yang disebabkan oleh kondisi tambak yang tidak sehat, industri perikanan seringkali menggunakan antibiotik.
Praktik ini dapat menyebabkan kontaminasi air dan tanah dengan antibiotik dan resistensi bakteri, dan juga secara langsung berdampak pada infeksi daging yang dikonsumsi orang-orang.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan antibiotik yang dilarang lebih dari 10 tahun yang lalu untuk bud idaya ikan di beberapa negara masih dapat terdeteksi pada produknya sekarang.
Komponen kesejahteraan hewan juga menjadi topik bermasalah dalam industri ini. Ikan, yang terbukti mampu merasakan segudang sensasi dan emosi, sering kali dibesarkan dengan ruang yang terlalu minim untuk mengekspresikan perilaku alaminya.
Sinergia Animal mengundang siapa saja yang peduli dengan dampak peternakan hewan untuk mempertimbangkan kembali apa yang mereka pilih untuk dimakan.
"Setelah mempelajari semua faktor ini, penting bagi masyarakat untuk mengetahui alternatif yang lain. Salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan untuk mengubah kenyataan ini adalah meninggalkan produk hewani, termasuk hewan laut, dari piring kita," saran Fernanda.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




