Penguatan Link and Match Vokasi dan Industri Hasilkan SDM Berkualitas
Sabtu, 17 Juli 2021 | 17:39 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Sinergi antara pendidikan vokasi dan industri amat penting dalam peningkatan kapasitas serta kualitas sumber daya manusia (SDM). Saat ini, koneksi antara keduanya belum begitu optimal. Salah satu upaya yang harus ditempuh adalah penguatan konsep link and match kepada pelaku industri.
Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), Wikan Sakarinto menjelaskan, konsep link and match terdiri dari delapan standar. Pertama, kurikulum disusun bersama yang menitikberatkan pada pembentukan karakter dan soft skill daripada hard skill. "Hard skill dan produktif iya, tetapi kita dikeluhkan karena lulusan siswa kurang komunikasi, kurang mampu menghadapi tekanan dunia kerja, kita akan fokuskan menyusun kurikulum bersama industri," kata dia dalam sebuah webinar series bertajuk Sinergi Ekosistem Riset Terapan sebagai Jembatan Vokasi dan Industri, Jumat (16/7/2021).
Dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu (17/7) disebutkan standar kedua pembelajaran berbasis project riil dari dunia kerja (problem based learning/PBL). Tujuannya, memastikan hard skill akan disertai soft skill dan karakter kuat.
Ketiga, jumlah dan peran guru, dosen, instruktur dari industri dan ahli dunia kerja, ditingkatkan signifikan sampai minimal mencapai 50 jam per semester, per program studi. "Jadi, dosen-dosen dari Kadin (Kamar Dagang dan Industri) harus rutin kita hadirkan di kelas. Sejak semester satu, anak-anak kita sudah diekspos dengan kondisi nyata," tambah Wikan.
Keempat, optimalisasi magang atau praktik kerja di industri minimal satu semester sejak awal. "Jangan sampai langsung lompat ke nomor empat, sedangkan poin dua dan tiga belum kita lakukan," tuturnya.
Kelima, sertifikasi kompetensi sesuai standar dan kebutuhan dunia kerja (bagi lulusan dan dosen, guru/instruktur). Kemudian mereka secara rutin mendapatkan update teknologi dan pelatihan dunia kerja. "Aspek ketujuh cukup krusial yakni riset terapan mendukung teaching factory atau teaching industry," terang Wikan.
Dijelaskan Wikan, ketika bicara riset terapan, tidak bisa langsung lompat ke riset terapan. Hal ini bagian dari link and match. Wikan menyebutkan riset itu dimulai dari market readiness level (MRL) bersama industri atau Kadin, kemudian merancang produk mereka, bagaimana memproduksi massal dan mendeliver ke pasar. "Harus ada VRL (venture readiness level). Jadi kita harus punya kesiapan mitra industri yang nanti memproduksi masal. Karena kalau kampus atau SMK diminta untuk memproduksi massal itu ya salah," kata dia.
Kampus vokasi atau sekolah menengah kejuruan (SMK) adalah pabrik ide atau pabrik prototype dan dilahirkan bersama dengan industri. Baru setelah itu tehnical readiness level (TRL). "Ini dipublikasikan setelah produk sudah jadi. Di Haki (hak kekayaan intelektual), produk register itu boleh dipublikasikan," tutur Wikan.
Terakhir, komitmen serapan lulusan, oleh dunia kerja. "Jadi ada link and match antara vokasi dan industri. Minimal delapan standar ini harus dilakukan kalau kita benar-benar ingin punya kualitas," tutupnya.
Sementara Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor (IPB) Nunung Nuryartono mengatakan, dalam melakukan penelitian, ada dosen dengan karakter basic research dan applied research. Namun yang lebih penting adalah bagaimana memasukkan applied research di dalam satu puzzle ekosistem riset nasional di Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




