ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Indo Barometer Sebut Jokowi Hadapi Kuldesak dalam Reshuffle

Kamis, 30 September 2021 | 16:33 WIB
LT
B
Penulis: Lenny Tristia Tambun | Editor: B1
Juru Kampanye Nasional tim pemenangan Prabowo-Hatta Eggi Sudjana (kanan) dan Juru bicara tim kampanye nasional Joko Widodo-Jusuf Kalla Ferry Mursyidan Baldan (tengah) memperhatikan  Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari (kiri), saat menjadi pembicara pada acara rilis hasil survei Indo Barometer bertajuk ''Aspirasi Publik tentang Capres, Cawapres dan Tiga Skenario 9 Juli 2014'', di Jakarta, Selasa (17/6).
Juru Kampanye Nasional tim pemenangan Prabowo-Hatta Eggi Sudjana (kanan) dan Juru bicara tim kampanye nasional Joko Widodo-Jusuf Kalla Ferry Mursyidan Baldan (tengah) memperhatikan Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari (kiri), saat menjadi pembicara pada acara rilis hasil survei Indo Barometer bertajuk ''Aspirasi Publik tentang Capres, Cawapres dan Tiga Skenario 9 Juli 2014'', di Jakarta, Selasa (17/6). (Suara Pembaruan/Ruht Semiono)

Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari, menyebutkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sedang menghadapi kuldesak atau kebuntuan dalam melaksanakan reshuffle atau perombakan kabinet. Menyusul masuknya Partai Amanat Nasional (PAN) dalam koalisi partai politik pendukung pemerintah.

Kuldesak itu terjadi, ungkap Qodari, karena pemerintah, dalam hal ini Presiden Jokowi menginginkan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan masuk dalam jajaran kabinet Indonesia Maju.

Tetapi sayangnya, Zulkifli Hasan tidak ingin menduduki jabatan menteri, malah justru menyodorkan nama kader PAN yang lain untuk masuk dalam jajaran kabinet.

"Saya melihat sejauh ini memang pemerintah maunya Pak Zul yang masuk. Kalau bukan Pak Zul, kelihatannya sulit. Nah ini memang menjadi kuldesak atau titik buntuknya. Karena pemerintah maunya Pak Zul yang masuk, tapi Pak Zul maunya menyodorkan nama yang lain," kata M Qodari kepada wartawan, Kamis (30/9/2021).

ADVERTISEMENT

Belum adanya titik temu antara pemerintah dengan PAN, menurut Qodari membuat reshuffle tertunda terus. Sehingga belum dapat dipastikan kapan perombakan kabinet itu akan dilakukan Jokowi.

"Ini yang membuat kemudian reshuffle dan masuknya PAN itu tertunda-tunda terus. Tertunda sampai kapan, ya wallahualam," ujar M Qodari.

Meskipun, lanjut Qodari, sudah ada dinamika baru dan sinyal positif dari PAN yang jelas-jelas sudah masuk dalam koalisi pemerintahan bersama dengan 6 partai politik lainnya.

Hal itu terlihat dari Zulkifli Hasan datang dalam pertemuan dengan Jokowi di Istana bersama dengan pimpinan partai dari PDI Perjuangan, NasDem, Gerindra, Golkar, PPP dan PKB pada Minggu (29/8/2021).

"Saya tidak tahu kehadiran Pak Zul ini akan mengubah kuldesak atau kebuntuan selama ini. Apakah itu berarti Pak Zul sudah bersedia masuk ke kabinet atau tidak. Kita lihat dalam reshuffle atau perubahan kabinet yang akan datang," jelas M Qodari.

Menurutnya, kehadiran Zulkifli Hasan ke Istana Presiden telah memberikan sinyal hijau bahwa ia menerima dan bersedia masuk ke dalam kabinet mewakili PAN.

"Harusnya dengan hadirnya Pak Zul di Istana kemarin, menurut saya itu menjadi sinyal Pak Zul sudah menerima dan bersedia untuk masuk ke dalam kabinet mewakili PAN," ungkap M Qodari.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon