Pembatalan HC bisa rusak citra Indonesia

Sabtu, 3 September 2011 | 09:47 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1

Proses pemilihan sudah dilakukan sejak 3 tahun lalu.

Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri mempertanyakan sikap beberapa dosen yang tak setuju dengan pemberian gelar doktor honoris causa kepada Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz Al-Saud.

"Keseluruhan prosesnya akuntabel. Saya tidak mengerti mengapa beberapa dosen baru protes sekarang. Seharusnya sejak awal angkat bicara," ungkap Gumilar, seperti dikutip dari The Jakarta Globe.

Berbagai kontroversi merebak dan menjadi bahan diskusi setelah Gumilar berangkat ke Arab bulan lalu untuk memberikan secara langsung gelar tersebut kepada sang raja.

Padahal, beberapa bulan belakangan ini terjadi ketegangan antara Indonesia dan Arab Saudi mengenai perlakukan terhadap tenaga kerja wanita Indonesia di sana.

Menurut Gumilar, penghargaan tersebut sudah diperbincangkan setidaknya sejak 3 tahun lalu. Mengingat pula kontribusi dari sang raja terhadap pembangunan masjid Arif Rahman di kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, serta bantuan donasinya untuk korban-korban tsunami di Aceh beberapa tahun lalu.

Pemberian gelar ini, dijelaskannya lagi, dilakukan setelah studi yang dilakukan oleh sebuah komite yang terdiri dari 8 profesor mendalam terhadap kontribusi sang raja. Hasil studi itu kemudian ditinjau kembali oleh sebuah komite lain.

Jadi, ketika terjadi insiden eksekusi tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi, keputusan untuk memberikan gelar itu sudah dijatuhkan.

Lewat penghargaan ini, diharapkan Gumilar bisa membantu memperbaiki citra Indonesia di sana. Jika penghargaan dibatalkan, dikhawatirkan justru akan memperburuk citra Indonesia.

Jangka panjangnya, penghargaan ini diharapkan bisa membantu para pekerja Indonesia di sana.

"Saya harap gelar ini bisa membantu diplomat-diplomat kita di sana untuk melobi pemerintah setempat untuk memaafkan para tenaga kerja yang sedang menunggu eksekusi," jelas Gumilar.

Gumilar juga meminta dukungan dari masyarakat Indonesia untuk tidak mengaitkan masalah ini dengan politik, "Karena ini adalah ranah akademik, bukan ranah politik," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon