Peringatan 7 tahun wafatnya Munir berdarah

Rabu, 7 September 2011 | 14:25 WIB
DS
B
Penulis: Dyah Shinta | Editor: B1

Usman Hamid, koordinator demontrasi, luka karena diinjak-injak aparat.

Unjuk rasa di depan istana kepresidenan siang ini berakhir dengan berdarah.

Usman Hamid, koordinator demonstrasi, luka karena diinjak-injak aparat.

Demonstran lain bernama Tunggal terluka tangan kirinya.

Sementara Sumarsih, ibunda Wawan, korban penembakan di Universitas Trisakti pada 1998 lalu, diketahui hampir pingsan.

Unjukrasa yang bermula sekitar pukul 13.45 siang ini berlangsung di depan Istana.

Pada pagi sebelumnya, mereka berunjukrasa di depan kantor Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir [Kasum], penggerak demontrasi ini, mengadakan mimbar bebas di depan Istana, dengan tema "Presiden Palsu, Mencari Presiden Yang Berani Menuntaskan Kasus Munir".

Ratusan orang tersebut datang menagih janji Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, yang pernah mengatakan akan menuntaskan kasus Munir di masa pemerintahannya.

Unjukrasa kemudian dibubarkan polisi dengan kekerasan, karena dianggap tidak berijin.

Saat ini para demonstran masih bertahan di seberang Istana.

Pada 7 September, tujuh tahun yang lalu, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir meninggal dalam penerbangan Garuda Indonesia menuju Amsterdam, Belanda.

Munir meninggal karena diracun arsenik, yang ditemukan dalam kadar tinggi di dalam tubuhnya saat diotopsi di Belanda.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon